Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Koalisi Seni : Perempuan Perupa Indonesia Masih Minim

Sebagai bagian advokasi kebijakan seni yang adil bagi semua gender, Koalisi Seni memeriksa perbandingan jumlah nama perupa perempuan dan laki-laki dalam tiga direktori.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 27 Mei 2021  |  10:44 WIB
 Karya Afriani dalam pameran Vox Populi - Afriani74.blogspot
Karya Afriani dalam pameran Vox Populi - Afriani74.blogspot

Bisnis.com, JAKARTA— Sebagai bagian advokasi kebijakan seni yang adil bagi semua gender, Koalisi Seni memeriksa perbandingan jumlah nama perupa perempuan dan laki-laki dalam tiga direktori.

Tiga pangkalan data yang diperiksa ialah direktori Indonesia Visual Art Archive (IVAA), Indoartnow, dan BDGConnex. Dari penyisiran itut, ternyata keterwakilan pelaku seni rupa perempuan di ketiga direktori jauh lebih rendah dari pelaku seni rupa laki-laki.

Dari 2.561 nama individu yang disebutkan pangkalan data IVAA, sebanyak 344 nama di antaranya adalah perempuan.

Di direktori Indoartnow, ada 2.700 nama individu seniman yang tercantum, dengan 555 orang di antaranya perempuan. Sedangkan dari 233 nama individu kurator, 72 orang merupakan perempuan.

Adapun di direktori BDG Connex, dari 217 nama individu pelaku seni rupa itu sebanyak 94 orang di antaranya ialah perempuan.

Walaupun persentase pelaku seni perempuan lebih rendah dari lelaki di semua direktori tersebut, tingkat ketimpangan gender di ketiga direktori berbeda.

Pada keterangan resmi yang dikirimkan oleh Koalisi Seni Indonesia, Kamis (27/5/2021) dari informasi tentang cara pengumpulan data masing-masing direktori, nampaknya ada dua faktor yang menentukan keterwakilan perempuan dalam direktori perupa yaitu periode pendataan dan metode pengumpulan data.

Direktur IVAA, Lisistrata Lusiandana, menyebutkan pencatatan nama seniman di IVAA sudah berlangsung dalam setidaknya 25 tahun. Ide tim IVAA tentang pencatatan nama-nama seniman di Indonesia dan pendokumentasian karyanya muncul pada dekade 1990-an. Pada dekade 2000-an, data yang terkumpul disusun dalam direktori daring.

“Proses pengumpulan nama tersebut masih berlangsung. Tim IVAA mencatat nama seniman dari sumber sekunder seperti katalog pameran atau lelang, tetapi IVAA juga menerima seniman yang berinisiatif mengarsipkan karyanya. Seniman tidak dipungut biaya, dan satu-satunya syarat dalam pengarsipan adalah harus pernah berpameran di Indonesia,” ujarnya.

General Manager Indoartnow Hafidh Ahmad Irfanda mengatakan tim Indoartnow menyusun direktori seniman dan kurator sejak 2011. Berawal dari keinginan mempermudah akses publik ke ekosistem seni, tim Indoartnow mencatat nama seniman dan karya mereka, serta menampilkannya pada situs web yang dapat diakses publik.

Pengumpulan data dilakukan berdasarkan pameran, baik yang diadakan di galeri, art fair, biennale, ataupun museum. Tim Indoartnow datang ke pameran-pameran di Indonesia untuk mendokumentasikan karya yang dipamerkan.

“Seiring perkembangannya, Indoartnow membentuk tim pencatat di beberapa kota, serta mencatat karya-karya seniman Indonesia yang dipamerkan di luar negeri. Di luar pencatatan, Indoartnow juga aktif membantu seniman Indonesia berpameran di luar negeri, contohnya pembentukan Paviliun Bandung di Shanghai Biennale,” papar Hafidh.

Berbeda dengan IVAA dan Indoartnow, direktori BDGConnex bergantung sepenuhnya kepada inisiatif seniman. Melalui korespondensi via surel, sekretariat BDGConnex menyebutkan direktorinya mulai mencatat nama seniman pada 2018. Individu, kolektif, atau organisasi seni dapat mendaftarkan diri mereka melalui situs web BDGConnex.

Sekretariat BDGConnex membebaskan siapapun menambahkan diri ke direktori. Satu-satunya syarat adalah seniman harus memiliki hubungan dengan Bandung. Misalnya seniman itu berkarya di Bandung, pernah berpameran di Bandung, atau didaftarkan oleh kolektif atau organisasi yang bertempat di Bandung.

Lisis berpendapat sistem kuota bukanlah solusi yang tepat untuk keterwakilan perempuan di direktori nama, khususnya di arsip IVAA.

Menurutnya, jika keterwakilan perempuan di sebuah bidang rendah, maka tugas arsip adalah merekam ketidaksetaraan tersebut. Menerapkan kuota minimum justru dapat mendistorsi keadaan di lapangan. Aksi afirmatif untuk perempuan lebih tepat diterapkan di kegiatan-kegiatan penciptaan dan penyebarluasan karya seni, alih-alih di pendokumentasian.

“Walaupun demikian pentingnya sebuah arsip untuk menyadari perbedaan dokumentasi seniman perempuan dibandingkan seniman lelaki. Pengelola direktori pun perlu lebih teliti mencari seniman perempuan yang terlewat dari rekaman sejarah arus utama,” tutup Lisis.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

seni rupa pameran lukisan
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top