Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sekolah Tatap Muka di Tengah Pandemi, Ini Saran Pakar Kesehatan

Sekolah tatap muka mulai dibolehkan. Namun tantangannya adalah mencegah penularan pada kluster sekolah.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 06 Juni 2021  |  15:34 WIB
Seorang guru bahasa Inggris sedang mengajar saat dilaksanakannya sedang sekolah tatap muka di salah satu rumah warga di Kota Kupang, NTT Senin (10/08/2020). - Antara
Seorang guru bahasa Inggris sedang mengajar saat dilaksanakannya sedang sekolah tatap muka di salah satu rumah warga di Kota Kupang, NTT Senin (10/08/2020). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA- Sejak wabah virus corona merebak, hampir semua negara menutup sekolah dan memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Namun, beberapa negara telah mulai memberikan kelonggaran berupa pembukaan sekolah, khususnya di zona hijau.

Di satu sisi, sekolah tatap muka memang metode belajar paling ideal. Tetapi, masih ada risiko penularan Covid-19 di sekolah.

Tuty Mariana, Dokter Spesialis Anak Primaya Hospital Bekasi Timur mengatakan hingga saat ini, belum diketahui pasti risiko infeksi Covid-19 pada anak-anak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan dari jumlah total penderita Covid-19 di seluruh dunia, sebanyak 8,5 persen merupakan anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Angka kematiannya pun lebih sedikit dan biasanya gejalanya lebih ringan. Namun tetap ada laporan pasien anak-anak yang kritis.

Sejumlah penelitian terbatas yang dilakukan oleh sejumlah negara mendapati risiko anak tertular Covid-19 lebih kecil ketimbang orang dewasa. Anak yang diteliti antara lain yang berumur di bawah 18 tahun, 15 tahun, dan 9 tahun. Namun, berbeda dengan anak usia di bawah 1 tahun, risiko terkena Covid-19 lebih besar.

“Salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi risiko itu adalah sistem kekebalan anak. Pada anak usia di bawah 1 tahun, sistem kekebalannya masih lemah sehingga lebih rentan tertular Covid-19. Sedangkan anak yang lebih besar sudah sering diserang berbagai virus dan bakteri sehingga daya tahan tubuhnya lebih terlatih. Walau begitu, kemungkinan ini masih butuh penelitian lebih lanjut,” ujar  Tuty .

Kemudian, bagaimanakah peran anak-anak dalam penularan Covid-19 di sekolah? Menurut WHO, peran anak-anak dalam penularan Covid-19 secara umum belum sepenuhnya dipahami.

Menurut Tuty, sejauh ini  sejumlah kluster muncul di sekolah-sekolah di berbagai negara karena biasanya gejala pada anak lebih sedikit dan sakitnya tidak terlalu parah, kasus positif kadang tak terdeteksi. Data studi awal pun menunjukkan tingkat penularan di kalangan remaja lebih tinggi ketimbang pada anak berusia lebih muda.

“Yang pasti, kesadaran anak untuk menerapkan protokol kesehatan secara umum lebih rendah ketimbang orang dewasa. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peran anak-anak dalam penularan Covid-19 di sekolah,” ujarnya.

Di sisi lain, masa inkubasi virus corona pada anak-anak sama dengan orang dewasa. Adapun jarak antara paparan Covid-19 dan munculnya gejala pertama kali rata-rata 5-6 hari, selambatnya 14 hari. Meski demikian, ada laporan periode inkubasi virus ini bisa mencapai 24 hari. Karena itu, lama isolasi mandiri bagi anak juga sama dengan orang dewasa.

Kemudian, haruskah anak dengan kondisi kesehatan tertentu (penyakit komorbid) boleh kembali ke sekolah? “Keputusan membolehkan anak kembali ke sekolah bergantung pada situasi penularan Covid-19 di lingkungan terkait, kesiapan sekolah dalam memberikan perlindungan, dan kesehatan anak itu sendiri. Bila ada masalah kesehatan yang membuat anak lebih rentan terhadap penularan Covid-19 di sekolah, orang tua sebaiknya memilih pembelajaran jarak jauh dulu,” jawab Tuty. 

Namun, penyakit penyerta pada umumnya tidak ada atau belum muncul pada anak usia sekolah. Komorbid lebih banyak didapati pada orang dewasa, termasuk orang tua siswa. Itu sebabnya keputusan membuka kembali sekolah di tengah pandemi membutuhkan peran serta semua pemangku kepentingan. 

Adapun tips untuk mempersiapkan anak kembali sekolah tatap muka di tengah pandemi sebagaimana diuraikan Ria Yoanita, selaku Dokter Spesialis Anak Primaya Evasari Hospital antara lain:

1.      Cek Kesehatan Anak, Tetap di Rumah Jika Sakit

Di masa pandemi Covid-19, setidaknya ada termometer untuk mengukur suhu tubuh anak setiap hari. Akan lebih baik lagi jika ada thermo gun yang lebih cepat menampilkan hasil pengukuran suhu tanpa bersentuhan dengan permukaan kulit. Jika suhu tubuh anak di atas batas, batuk, dan sesak napas sebaiknya minta izin untuk tetap di rumah.

2.      Mengajarkan Praktik Kebersihan untuk Anak

Kebanyakan anak memang cenderung sulit menjaga kebersihan. Untuk itu, diperlukan trik agar anak bisa malpractice hidup bersih.

a.       Mencuci Tangan

Orang tua bisa mengajari anak mencuci tangan sambil menyanyi dengan durasi sekitar 20 detik. Pilih lagu kesukaan anak agar hatinya senang saat mencuci tangan.

b.      Membawa Air Minum dan Peralatan Makan Sendiri dari Rumah

Di masa pandemi Covid-19, membeli makanan dan minuman dengan peralatan dari penjual berisiko menimbulkan penularan. Sebab, alat-alat itu digunakan oleh banyak orang secara bergantian. Meski sudah dicuci, tetap ada risiko penularan. Maka sebaiknya orang tua membawakan air minum dan makan sendiri dari rumah demi keamanan.

c.       Membuang Sampah pada Tempatnya

Situasi pandemi membuat ajaran buang sampah dengan benar ini kian mendesak untuk diterapkan. Ajari anak cara mengenakan masker yang benar dan ingatkan untuk merusak masker dulu sebelum membuangnya agar tidak digunakan ulang.

3.      Etika Batuk dan Bersin

WHO memperingatkan agar semua orang menerapkan etika batuk dan bersin, yakni:

a.        Tidak melepas masker saat bersin atau batuk karena masker dapat menahan percikan.

Segera buang masker dan ganti dengan yang baru bila sudah basah.
Tidak menyentuh wajah saat bersin atau batuk. Gunakan tisu atau lengan baju bagian dalam untuk menutupi hidung dan mulut.

b. Cuci tangan dengan air bersih dan sabun atau hand sanitizer setelah bersin atau batuk.


Orang tua dapat mengajari etika ini dengan memberikan contoh kepada anak. Anak akan lebih mudah mengikuti bila melihat langsung contoh dari orang tua.

4.      Memilih Transportasi untuk Pergi ke Sekolah di Masa Pandemi Covid-19


Tidak disarankan untuk menggunakan transportasi umum bagi siswa untuk pergi dan pulang dari sekolah. Sebaiknya antar dan jemput anak dengan kendaraan pribadi bila memungkinkan. Jika tidak, sekolah dapat berkoordinasi dengan dinas perhubungan di daerahnya untuk menyediakan sarana transportasi khusus siswa sekolah, tidak bercampur dengan masyarakat umum.


5.      Tidak Menyentuh Wajah, Mata, Hidung dan Mulut


Droplet yang mengandung virus corona dapat memasuki tubuh manusia lewat tiga bagian yang berongga di wajah, yaitu mata, hidung, dan mulut. Orang tua mesti tidak putus mengingatkan buah hatinya agar senantiasa mengenakan masker di sekolah. Ingatkan pula supaya tidak menyentuh wajahnya dengan alasan apa pun. Bila hendak menyentuh wajah, cuci tangan dulu dengan sabun.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19
Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top