Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Apa Itu Toxic Positivity dan Dampaknya Bagi Kesehatan?

Sutradara dan Penulis Skenario, Naya Anindita beranggapan bila itu memang bisa jadi sebuah hal yang bagus untuk membuat seseorang jadi lebih baik ketika sedang masa down. Namun, bila dilakukan terlalu sering malah akan membuat seseorang tidak memiliki emosi yang tepat.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 07 Juni 2021  |  17:44 WIB
Mereka tidak terlalu memedulikan perasaan Anda, dan sering kali kurang menyesal setelah melukai Anda secara emosional.  - Solopos/Freepic
Mereka tidak terlalu memedulikan perasaan Anda, dan sering kali kurang menyesal setelah melukai Anda secara emosional. - Solopos/Freepic

Bisnis.com, JAKARTA-- Pernah dengar ungkapan toxic positivity? Istilah seringkali digunakan semenjak tren media sosial mencuat.

Toxic positifity sendiri ialah sebuah ungkapan positif yang sering diutarakan untuk menutupi emosi negatif.

Secara umum, ini adalah upaya untuk meracuni diri dengan emosi positif untuk hilangkan emosi negatif.

Namun, akibatnya emosi jadi bercampur karena emosi negatif dan positif seolah di adu begitu saja.

Sutradara dan Penulis Skenario, Naya Anindita beranggapan bila itu memang bisa jadi sebuah hal yang bagus untuk membuat seseorang jadi lebih baik ketika sedang masa down. Namun, bila dilakukan terlalu sering malah akan membuat seseorang tidak memiliki emosi yang tepat.

“Misalnya kita lagi marah, dipaksakan untuk tidak marah dengan beragam kalimat positif yang diberikan pada diri sendiri. Maka nanti justru emosi orang tersebut jadi tidak tepat. Bagaimana bisa merasakan bahagia kalo dia tidak pernah rasakan sedih,” ujarnya secara virtual pada acara Gue Udah Toleran Belum Sih dari Unilever Indonesia dan Toleransi.id, Senin (7/6/2021).

Menurutnya, untuk menjadi hidup seseorang harus memiliki emosi yang harus dirasakan. Jadi jangan disangkal untuk menjadi sesuatu yang kebalikannya.

Toxic positivy pada diri sendiri seolah membohongi dengan sugesti perasaan yang berseberangan. Seolah menjadi tameng, justru itu akan berbahaya bagi mental seseorang.

Sering berkata baik-baik saja pada diri sendiri akan membuat seseorang seperti gelas yang di isi air. Nantinya, gelas tersebut akan meluap terus-menerus jika tidak dihentikan. Seseorang yang sudah terkena toxic positivy juga akan sering menghindari masalah daripada cari solusinya.

“ Toxic atau racun itu sendiri ketika melabeli kita yang selalu bahagia, tidak sedih dan bisa selalu memaafkan padahal sedang marah. Ketika melabekan sesuatu ada positif ada negatif, rasakan saja. Jangan pernah ditepis dengan hal kebalikannya. Kedua hal tersebut adalah perjalan emosi dalam hidup, selalu ada positif dan negatif. Jadi selama kita bisa hidup ya kita rayakan semua yang bisa kita rasakan,” tutupnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Relationship Manusia Toxic
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top