Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menanti Debut Vaksin Merah Putih

Apabila uji klinik vaksin Merah Putih berjalan dengan baik sesuai standar internasional, izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dapat diberikan pada 2022,
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 30 Agustus 2021  |  13:18 WIB
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Program vaksinasi Covid-19 terus di kebut pemerintah Indonesia guna melindungi masyarakat.

Saat ini, pemerintah mengandalkan impor vaksin dari China dan AS untuk program vaksinasi massal. Tapi, di saat yang sama, juga berupaya mengamankan stok vaksin dengan mengembangkan produk lokal lewat nama vaksin Merah Putih, yang gencar dikembangkan sejak tahun 2020 lalu.

Vaksin racikan dalam negeri tersebut dicanangkan sebagai vaksinasi Covid-19 nasional. Dengan begitu Indonesia tidak hanya bergantung pada vaksin dari luar negeri.

Vaksin Merah Putih menjadi harapan banyak masyarakat Indonesia untuk segera pulih.

Vaksin Merah Putih sendiri merupakan vaksin karya para peneliti di Indonesia yang dikembangkan dari tahap awal hingga akhir.

Saat ini, pemerintah bekerja sama dengan dengan empat universitas dan dua lembaga. Keempat universitas itu adalah Universitas Airlangga (Unair), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Lalu dua lembaga tersebut yakni Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dari sejumlah institusi tersebut, terdapat dua pengembang yang telah masuk skala industri, yaitu Lembaga Eijkman bersama PT Bio Farma dan Unair bersama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia.

Vaksin Covid-19 Merah Putih yang dikembangkan masih berstatus dalam proses uji praklinik. Jika berhasil, vaksin Merah Putih adalah vaksin lokal pertama yang akan diotorisasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

BPOM sendiri menargetkan jika vaksin Merah Putih memperoleh izin penggunaan darurat pada pertengahan 2022.

Baru-baru ini BPOM memberikan penyerahan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) kepada PT Biotis. Badan POM mengawal penuh percepatan persiapan fasilitas pembuatan vaksin covid-19 di PT Biotis Pharmaceutical Indonesia yang dikembangkan oleh Tim Peneliti Vaksin Merah Putih UNAIR.

Kepala Badan BPOM Penny K Lukito mengatakan siap membantu pengembangan dan pengawalan pada vaksin Covid-19 Merah Putih dengan menggunakan regulasi standar internasional berkaitan dengan aspek keamanan, mutu, dan khasiat.

“Apabila uji klinik vaksin Merah Putih berjalan dengan baik sesuai standar internasional, izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dapat diberikan pada 2022,” ujarnya secara virtual pada acara Konferensi pers penyerahan Sertifikat COPB kepada PT Biotis, Rabu ( 18/8/2021).

Jika ini terealisasi, maka akan menjadi debut vaksin buatan lokal pertama yang diciptakan untuk mengatasi virus corona di tanah air. 

Progres di Lembaga Eijkman

Saat dihubungi oleh Bisnis, Selasa (25/8/2021) Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio mengatakan jika ketujuh isntitusi yang mengembangkan memiliki platform yang berbeda dalam mengembangkan vaksin Merah Putih.

Pengembangan vaksin vaksin Covid-19 yang oleh Eijkman sendiri hasil kolaborasi dari Lembaga Eijkman dan PT Biofarma sejak Januari 2020.

“Secara garis besar ada dua tahapan yang harus dilalui yaitu tahapan laboratorium dan tahapan industri. Di laboratorium tugas kami adalah mengembangkan bibit vaksinnya, dengan platfrom yang kami pilih adalah protein rekombinan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Amin menjelaskan jika pendekatan protein rekombinan yang digunakan bukan virus utuh. Jadi hanya menggunakan bagian kecil dari virus yang bernama protein Spike (S) dan Nucleocapid (N).

Protein itu diambil dengan cara rekayasa genetika. Jadi, satu sampel virus diambil untuk dipelajari genetikanya. Kemudian gen tersebut diambil dan diperbanyak di masukan pada sel ekspresi, dan nantinya sel tersebut yang mengahsilkan protein yang sudah di desain menjadi bibit vaksin.

Protein S sendiri akan memfasilitasi menempelnya virus pada permukaan sel manusia. Lalu protein N adalah bagian yang mengikat RNA di dalam virus. Protein tersebut juga berfungsi untuk melepaskan RNA jika virus masuk ke sel manusia.

Sampai Desember 2020 Lembaga Eijkman telah berhasil mengembangkan calon bibit vaksin yang akan dikembangkan. Dan itu akan terus diproses lebih lanjut agar bisa masuk tahapan Industri.

Jadi saat ini bisa dikatakan jika vaksin Merah Putih di Lembaga Eijkman masih dalam proses peralihan dari tahapan laboratorium ke industri. Bibit vaksin yang dikembangkan masih harus jalani tiga proses.

Yang pertama adalah proses optimasi, kemudian yang kedua adalah scalling up karena di laboratorium bekerja dengan volum kecil sedangkan di industri bekerja dengan volum yang besar, jadi menurut Amin scalling up perlu dilakukan. Tahap yang ketiga adalah berupaya meningkatkan nilai yield.

“Yield ini bisa dikatakan meningkatkan produktifitas produksinya, sehingga bisa lebih ekonomis dan nanti harga vaksinnya bisa lebih murah,” ungkap Amin.

Untuk kendala sendiri tidak dipungkiri oleh Amin. Saat mengerjakan pengembangan vaksin Merah Putih di Eijkman, dia dan timnya yang berjumlah 15 orang menemukan beberapa kendala. Pada awalnya hambatan penelitian tersebut adalah pengadaan reagencia dan juga peralatan. Kedua hal itu sempat membuat dilema para pengembang dikarenakan masih mengandalkan import.

Dan kini tantangannya adalah mutasi virus baru dan juga orang yang mayoritas sudah mendapatkan suntikan vaksin. Syarat utama uji klinis adalah untuk subjek atau yang belum pernah menerima vaksinasi. Jika sudah banyak yang di vaksin maka semakin sedikit yang bisa melakukan uji klinis. Akan tetapi, di sisi lain langkah vaksinasi massal merupakan pilihan yang tepat untuk melindungi masyarakat dari infeksi virus Covid-19 dan juga mutasi terbarunya.

Maka dari itu, dia dan tim juga terus memantau mutasi varian virus B.1.617.2 atau virus Delta. Dari pantauan tersebut hasilnya akan digunakan untuk pengembangan vaksin Merah Putih.

Dengan begitu, vaksin Merah Putih diharapkan mampu melawan varian virus Delta dan mutasi virus lainnya. Direncanakan, pada beberapa bulan kedepan vaksin Merah Putih tersebut akan dilakukan uji praklinik pada hewan.

Kemudian, Amin juga mengatakan jika vaksin yang dikembangkan harus memenuhi syarat yaitu aman, efikasi yang tinggi dan halal.

Dan untuk menjamin kehalalan tersebut, dilakukan sejak proses awal hingga akhir. Semuanya juga dilakukan dengan tercatat dan terekam untuk menjamin vaksin tersebut.

“Jadi maksudnya halal itu bukannya melihat apakah vaksin menggunakan kandungan babi atau tidak. Kami tidak begitu. Semua proses harus dipastikan halal, artinya tidak menggunakan bahan yang tidak halal. Artinya tidak ada komponen yang tidak berasal dari sumber yang tidak halal,” beber Amin.

Untuk biaya pengembangan vaksin Merah Putih sendiri Kepala LBM Eijkman itu menyebutkan semuanya ditanggung oleh Pemerintah. Untuk budjet uji laboratorium Amin tidak bisa menyebutkan berapa karena menurutnya harus menghitung secara rinci. Namun, untuk uji klinik disebutkan jika satu subjeknya Rp 20 juta.

Tapi total harga tersebut masih tergantung pada jumlah subjeknya. Dan Indonesia sendiri diperkirakan perlu 5.000 subjek. Jadi tidak menutup kemungkinan dana yang harus digelontorkan lebih dari Rp 100 miliar.

Kendati dicanangkan EUA pada 2022, namun bukan berarti Indonesia akan bergantung sepenuhnya menggunakan vaksin Merah Putih. Minimun, vaksin Merah Putih tersebut akan mengover 50% kebutuhan vaksin di Indonesia.

Terkait booster sendiri, vaksin Merah Putih ini masih jadi harapan masyarakat di tengah munculnya beragam varian baru virus Covid-19.

Namun, saat ini masih tenaga kesehatan yang di dahulukan untuk mendapatkan suntikan ketiga vaksin Covid-19 tersebut. Namun, kapasitas produksi dari vaksin Merah Putih ini belum dapat di pastikan akan memadai atau tidak.

Bahkan, jumlah masyarakat yang menerima vaksin Covid-19 masih belum merata, ada yang baru menerima suntikan pertama, sudah menerima suntikan penuh dan bahkan ada yang sama sekali belum menerima suntikan vaksin Covid-19.
“Harapannya kita bisa sesegera mungkin selesai yah, dan vaksin Merah Putih ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia,” tandas Amin.

Progres  di 7 pusat pengembangan

1. Unair

Pengembangan vaksin Merah Putih dari Universitas Airlangga (Unair) bekerja sama dengan PT Biotis Pharmaceutical Indonesia. Keduanya mengembangkan vaksin berbasis inactivated virus.

Ketua peneliti Vaksin Merah Putih Unair,Fedik Abdul Rantam mengumumkan hasil hasil uji praklinik fase satu berjalan baik. Dan respons imun dari vaksin terlihat menjanjikan.

"Kami telah sampai pada uji preklinik fase 1 dan 2. Fase pertama hasilnya baik dari sisi imunogenisitas, toxicity di dalamnya dan pendekatan respons imunnya menunjukan hasilnya menjanjikan," ujarnya secara virtual pada acara Konferensi pers penyerahan Sertifikat COPB kepada PT Biotis, Rabu ( 18/8/2021).

Fedik mengatakan jika dilakukan juga pengujian pada virus varian lainnya. Vaksin Merah Putih dari Unair juga melakukan pengujian pada varian baru Covid-19, termasuk varian Delta.

Pihaknya teknologi untuk menguji varian virus tersebut. Salah satunya dilakukan uji tantang dengan varian Delta dan buktinya melalui WGS (whole genome sequencing).

Dan hasilnya, calon vaksin Merah Putih itu mampu menetralisasi varian virus Covid-19 dengan baik

"Tidak hanya varian Delta, tapi Epsilon, dan juga Beta. Di Indonesia di dominasi Delta, kita memonitor calon vaksin itu apakah mengenali antibodi terhadap varian tersebut, dan sampai saat ini kemampuan netralisasi masih menunjukkan baik," tutup Fedik.

2. LIPI

Fasilitas BSL Dikebut LIPI rencanakan bermitra dengan Bio Farma. Platform yang digunakan Protein rekombinan modifikasi RBD. Target EUA rampung Januari 2023.

3. LBM

Eijkman Bio Farma menjadi mitra industri LBM Eijkman. Platform yang digunakan ialah protein rekombinan. Target EUA pada September 2022.

4. Universitas Indonesia

Etana Biotechnologies masih dalam proses menjadi mitra industri dari UI. Platform yang digunakan DNA, RNA, & virus like particles. Target EUA pada Juli 2022. 5. Universitas Padjajaran Bio Farma menjadi mitra industri dari pengembangan vaksin Merah Putih di Unpad. Protein rekombinan modifikasi RBD menjadi platform yang digunakan dengan target uji klinik manusia pada September 2022.

6. Institut Teknologi Bandung

Platform yang digunakan adalah Adenovirus & protein rekombinan dengan target uji imunogenesitas di 2021.

7.Universitas Gadjah Mada

Platform yang digunakan lrotein rekombinan dengan target EUA pada Januari 2023.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eijkman Covid-19 Vaksin Covid-19 vaksin Merah Putih
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top