Poster film Pengkhianatan G30S PKI/Istimewa
Entertainment

6 Fakta Film G30S/PKI, Raih 2 Penghargaan FFI

Aliftya Amarilisya
Kamis, 30 September 2021 - 12:04
Bagikan

Bisnis.com, SOLO - Selama lebih kurang 13 tahun, film G30S/PKI dimanfaatkan sebagai alat propaganda oleh pemerintah Orde Baru.

Ia dijadikan kendaraan politik guna memperoleh legitimasi kekuasaan bagi Soeharto. Dalam masa pemerintahannya, Soeharto meminta agar film tersebut ditayangkan di TVRI setiap tahun pada tanggal 30 September malam.

Namun akhirnya, pada September 1998 perintah tersebut dicabut. Menteri Penerangan, Yunus Yosfiah, mengatakan bahwa film ini tidak akan lagi menjadi bahan tontonan wajib lantaran memiliki indikasi pemanipulasian sejarah.

Kendati begitu, di balik argumen pro-kontra atas karya Arifin C. Noer ini, film tersebut memiliki sejumlah fakta menarik. Apa saja? Berikut ulasannya.

1. Diproduksi dengan biaya ratusan juta

Film yang diproduksi oleh Perum Produksi Film Negara (PPFN) ini dikerjakan selama dua tahun. Selama itu pula, biaya produksi yang dihabiskan mencapai Rp800 juta.

2. Durasi lebih dari tiga jam

Film Pengkhianatan G30S/PKI memiliki durasi pemutaran cukup panjang, yakni hingga 3 jam 40 menit.

3. Mendapat banyak nominasi

Pada tahun 1984, film ini mendapat tujuh nominasi dari Festival Film, di antaranya sebagai Film Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Penataan Artistik Terbaik, Penataan Musik Terbaik, dan Sinematografi Terbaik.

4. Menyabet dua penghargaan

Tak sekadar mendapat nominasi, ia juga sukses mendapat penghargaan Skenario Terbaik dari FFI tahun 1984 dan menerima Piala Antemas (Penghargaan Khusus) sebagai Film Unggulan Terlaris periode 1984-1985 pada gelaran FFI 1985.

5. Sebagai propaganda

Dalam sebuah wawancara kepada Tempo, Embie C. Noer, sang penata musik yang merupakan adik Arifin C. Noer, mengakui bahwa film ini dibuat sebagai propaganda Orde Baru.

"Propaganda sudah pasti, karena film ini dibuat dengan moral dasar untuk membentuk kesadaran bagi seluruh rakyat Indonesia agar tetap tegas dengan sikap antikomunis. Dan tampaknya dampak film ini cukup besar dan berhasil, terbukti masyarakat masih tetap kompak untuk menolak ideologi komunis muncul di Indonesia," ucapnya, dikutip pada Kamis (30/9/2021).

6. Dimainkan dengan berlebih-lebihan

Dikutip dari Tempo, Amoroso Katamsi selaku salah saorang pemain mengakui bahwa sebagian adegan dalam film ini dimainkan dengan berlebihan. Hal itu dilakukan lantaran film menjadi medium yang ampuh guna menyebarluaskan dan memasukkan ideologi, dalam hal ini menolak keberadaan PKI.

Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro