Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

World Mental Health Day, Pemahaman Kesehatan Mental Masih Rendah

Dalam rangka memperingati World Health Mental Day, psikolog menilai pemahaman kesehatan mental di tengah masyarakat masih rendah.
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 12 Oktober 2021  |  15:48 WIB
Kesehatan mental - istimewa
Kesehatan mental - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Memperingati World Health Mental Day, psikolog klinis dan kesehatan mental Margaretha mengatakan pemahaman kesehatan mental belum setinggi pemahaman kesehatan fisik. Bahkan, di kalangan tenaga kesehatan dan pendidik pun masih cukup rendah.

“Bukan hanya orang-orang atau orangtua kita, bahkan di guru, bahkan di tenaga kesehatan sendiri belum cukup tinggi tingkat pemahamannya,” ujarnya dalam diskusi virtual bertajuk “Sudah Sehatkah Jiwa Anda?”, Selasa (11/10/2021) dalam rangka Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) yang jatuh pada 10 Oktober. 

Menurut Margaretha, dampak rendahnya literasi tersebut, banyak orang-orang yang mengalami kesehatan mental tidak tertangani dengan baik.

“Kalau mereka tidak peka terhadap gejala kebutuhan kesehatan mental, akhirnya abai. Pada akhirnya orang-orang yang harusnya mengakses layanan karena keburu takut distigma dan mereka akhirnya tersisihkan,” sambungnya.

Pengertian kesehatan mental menurut WHO adalah keadaan sejahtera setiap individu, dalam mewujudkan potensi diri sendiri.

Margaretha berpendapat, semua pihak harus mulai meningkatkan pemahaman literasi kesehatan mental. Terlebih, seperti tenaga kesehatan di puskesmas, perawat, dokter dan guru juga di sekolah.

Berdasarkan catatan BPS, 4 persen usia 15-24 tahun dari 11 ribu sampel di Indonesia pernah melalukan upaya bunuh diri.

“Itu bukan jumlah kecil. Itu yang melakukan, yang punya ide itu 6 persen yang terlaporkan. Di luar itu tentu kita gak tahu,” ucapnya.

Dia menuturkan, bunuh diri adalah persoalan jiwa yang cukup berat, namun hal ini bisa dicegah. Seandainya literasi kesehatan mental pada tenaga publik memadai.

“Andai orang-orang yang mengenali gejala-gejala ketika dia mulai merasa hidupnya tak berdaya, tidak ada artinya. Andai ada telinga yang mendengarkan, andai ada tangan yang mencoba menopang. Kamu gak sendirian. Itu tak perlu sampai ke bunuh diri,” pungkas Margaretha.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan jiwa psikolog
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top