Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Melawan Hoaks Vaksin Covid-19 yang Masih Merajalela

Program vaksinasi pencegahan Covid-19 mendapatkan tantangan dari banyaknya hoaks dan informasi keliru seputar vaksin.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 25 Oktober 2021  |  09:38 WIB
Tangkapan layar konten disinformasi mengenai anak yang sakit setelah mendapat vaksin Covid-19 - Kominfo.go.id
Tangkapan layar konten disinformasi mengenai anak yang sakit setelah mendapat vaksin Covid-19 - Kominfo.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Realiasi program vaksinasi Covid-19 terus berjalan kencang. Namun, hoaks soal vaksinasi tersebut masih saja berkeliaran sehingga menyebabkan disinformasi di kalangan masyarakat.

Terbaru, pada Minggu (24/10/2021), Satgas Covid-19 mengklarifikasi informasi pada unggahan di Facebook yang mengklaim bahwa terdapat sekitar 600 pelajar China disuntikan vaksinasi kosong di DKI Jakarta. Mereka juga mendapatkan sertifikat vaksin dan barcode.

Setelah ditelusuri informasi tersebut salah. Faktanya, kejadian yang terdapat pada video tersebut bukan di DKI Jakarta melainkan di Malaysia, ini terbukti dalam video terdapat bendera Malaysia.

Dalam video tersebut benar adanya seorang anak disuntikan jarum tanpa ada isi vaksinnya. Dilansir dari MalayMail Kementerian Kesehatan Malaysia sudah mengklarifikasi bahwa video yang sebelumnya viral di Malaysia tersebut merupakan sebuah kesalahan dari petugas vaksinator.

"Dia secara tidak sengaja mengambil jarum suntik kosong dan memberikan suntikan dari itu,” ujar Dr. Noor Azmi, Wakil Menteri Kesehatan Malaysia, mengutip keterangan di laman resmi Covid19.go.id.

Setelah pemberian suntikan kosong, anak laki-laki dalam video tersebut menyadari bahwa ia tidak diberikan dosis yang tepat kemudian memberitahu orang tua dan petugas vaksin setempat. Petugas meminta maaf dan melanjutkan untuk pemberian suntikan vaksin yang benar.

"Dengan demikian, klaim 600 pelajar China divaksinasi kosong di DKI Jakarta merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Menyesatkan," tegas keterangan Satgas Covid-19.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi mengakui adanya hoaks menjadi tantangan bagi program vaksinasi Covid-19, khususnya bagi kalangan lansia.

Per Minggu (24/10/2021), program vaksinasi Covid-19 dosis pertama telah menembus angka 113 juta. Hingga saat ini orang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 dosis pertama sudah di angka 113,03 juta.

Sementara itu, untuk dosis kedua sudah 67.9 juta masyarakat telah mendapatkan dua kali penyuntikan dari 208,26 juta orang target. Total jumlah vaksin yang sudah disuntikkan sejumlah 182,05 juta.

Nadia meski total jumlah vaksin yang disuntikkan 172 juta, masih terdapat pekerjaan rumah (PR) pemerintah terutama dari sisi sasaran vaksin, yaitu kelompok lanjut usia (lansia).

"Masih ada lansia yang belum mau divaksin," kata Siti Nadia dalam diskusi online dengan tema "Masih Ada Hoaks di Antara Kita dan Vaksin Covid-19", Selasa (19/10/2021).

Siti Nadia menambahkan, meski lansia masuk dalam prioritas vaksinasi Covid-19, tetapi kecepatan penyuntikan pada lansia lambat karena masih banyak lansia yang salah persepsi dan ada pula menolak divaksin.

"Persepsi yang salah ini bisa juga dikarenakan mereka menerima informasi atau pun hoaks yang kemudian membuat mereka tidak yakin untuk divaksin," ujarnya.

Selain pada lansia, tantangan vaksinasi Covid-19 juga pada remaja usia 12 hingga 17 tahun. Orang tua remaja ragu anaknya mendapat vaksinasi karena informasi yang beredar.

Menurut Siti Nadia, sejak Januari tercatat 2.000 hoaks mengenai vaksinasi Covid-19 yang beredar. Sayangnya, sekitar 50 persen masyarakat Indonesia tidak mengecek informasi yang didapat apakah benar atau tidak.

Mereka yang membaca informasi itu terkadang menjadi ragu atau bahkan meyakini informasi itu apalagi jika yang mengirimkan informasi adalah orang yang dipercaya.

"Orang Indonesia sangat care dengan orang lain. Sehingga begitu menerima berita yang sepertinya akan membahayakan kerabat, teman atau pun, langsung disebar ke kelompok WhatsApp grup, langsung di-share. Ini kadang-kadang yang membaca menjadi ragu divaksin atau meyakini. Kalau mau lihat situs Kominfo, itu ada info yang menjelaskan postingan hoaks atau bukan," tutur Nadia.

Direktur Pengelolaan Media, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Nursodik Gunarjo mengakui jika jumlah hoaks yang beredar di masyarakat terkait Covid-19 sudah 2 ribu. Namun, jumlah itu merupakan anak-anak dari info hoaks.

"Induknya 363 substansi. Tetapi dari substansi itu beranak pinak. Kalau data di kami 1.957, tetapi itu data terakhir pada 19 September pukul 06.00 WIB di trust positif kominfo.co.id. Kalau jam ini mungkin bisa sejumlah itu," kata Nursodik.

Ia memaparkan, info hoaks Covid-19 banyak disebar melalui WA dan Facebook (FB). Dua platform ini sering dipakai masyarakat untuk menyampaikan ke teman-teman mereka. 

"Mereka dapat dari orang lain. Baca judul langsung disampaikan ke orang lain, share. Kita mengkhawatirkan karena literasi digital masyarakat rendah. Artinya mereka pikir apa yang di medsos, itu adalah hal benar belaka. Oleh karena itu tanpa pikir panjang langsung bagi ke orang lain," jelasnya.

Menurutnya, ini konsidis berbahaya, karena kelihatan sepele, tapi dampaknya sangat berpengaruh terhadap upaya-upaya dalam pemberantasan Covid-19. Apalagi terkait vaksin yang masih banyak terpapar oleh isu-isu tidak benar.

Terkait info hoaks ini, menurut Nursodik, pemerintah telah bersikap tegas. Arahan dari pimpinan di Kominfo, terkait hoaks vaksin langsung takedown. Langkah takedown adalah upaya upaya hilir. Sedangkan di hulu, Kominfo melakukan edukasi dan literasi khususnya literasi digital mengenai Covid-19. 

"Di tengah, Kominfo melakukan tracing dan traking konten hoaks. Hilir ada takedown dan penegakan hukum. Tiga langkah ini sejauh ini berjalan baik. Selama tiga hal ini berjalan efektif dan kontinyu, konten hoaks akan berkurang. Kalau dilihat tren akhir-akhir ini menurun dibanding awal dulu," kata dia.

Di tengah upaya vaksinasi pencegahan Covid-19, ada tantangan lain berupa hoaks yang kerap bermunculan. Oleh karena itu, diperlukan juga partisipasi masyarakat dalam menerima dan menyebarkan informasi dengan benar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hoax Covid-19 Vaksin Covid-19
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top