Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Benarkah Cara Bernapas dapat Memengaruhi Bentuk Wajah Manusia?

Berdasarkan sebuah studi di tahun 2016, pernapasan mulut telah dikaitkan dengan kondisi mulut seperti mulut dan bibir kering, karies gigi, penyakit periodontal, halitosis sekunder, deformitas kraniofasial dan maloklusi, serta menelan yang abnormal.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 25 November 2021  |  20:12 WIB
Aneka bentuk wajah - Istimewa
Aneka bentuk wajah - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Percaya atau tidak, ternyata cara kita bernapas dapat memengaruhi bentuk wajah.

Umumnya, manusia bernapas melalui hidung tetapi ada pula orang-orang yang bernapas melalui mulut mereka.

Kebiasaan ini, menurut dokter spesialis kulit dan kelamin Arthur S, bisa muncul karena mungkin mereka pernah mengalami gangguan pernapasan yang berkepanjangan sehingga perlu dikompensasi melalui pernapasan mulut.

Selain udara jadi tidak tersaring dengan bulu-bulu hidung, bernapas melalui mulut ternyata juga dapat menyebabkan perubahan pada bentuk wajah. Akibatnya, wajah lebih panjang, cenderung turun dan garis rahang menjadi lebih bulat.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

“Kebiasaan bernapas melalui mulut menyebabkan berbagai macam efek yang saling berhubungan,” kata Arthur melalui akun Instagramnya, Kamis (25/11/2021).

Ketika kita bernapas melalui mulut, otot pipi harus bekerja lebih keras.

Saat otot pipi bekerja lebih keras, tekanan pada rahang atas dan bawah juga ikut bertambah.

Tekanan pada rahang inilah yang akan membuat wajah menjadi lebih panjang dan mengubah bentuk susunan gigi.

“Rahang dan posisi gigi yang berubah menjadi lebih sempit, membuat ruang untuk lidah juga menjadi sempit dan membuat lidah harus bersandar ke dasar mulut, padahal biasanya di langit-langit mulut,” jelasnya.

Terutama jika keadaan ini sudah terjadi saat masih usia anak-anak , pertumbuhan wajahnya pun akan jadi menyesuaikan dengan semua perubahan ini.

Berdasarkan sebuah studi di tahun 2016, pernapasan mulut telah dikaitkan dengan kondisi mulut seperti mulut dan bibir kering, karies gigi, penyakit periodontal, halitosis sekunder, deformitas kraniofasial dan maloklusi, serta menelan yang abnormal. Ini juga terkait dengan kondisi medis seperti perubahan postur kepala, leher dan tubuh, apnea tidur obstruktif, kinerja fisik dan pembelajaran yang buruk, dan asma.

Di antara mekanisme fisiopatologis, yang dapat menjelaskan hubungan tersebut adalah hipoksemia kronis dengan hiperkapnia, peningkatan kehilangan air dan energi, penurunan pelepasan hormon pertumbuhan, pelepasan mediator inflamasi dan oksidatif, beban besar pada otot punggung dan leher bagian atas, deformitas pada saluran napas dan deformitas kraniofasial, menurut studi tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

napas wajah
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top