Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kabar Baik! Ilmuwan Temukan Antibodi Penetral Covid Omicron

Para peneliti kemudian melihat seberapa baik antibodi terhadap isolat virus sebelumnya melindungi terhadap Omicron. Mereka melakukan ini dengan menggunakan antibodi dari pasien yang sebelumnya telah terinfeksi dengan versi virus sebelumnya, divaksinasi terhadap jenis virus sebelumnya, atau telah terinfeksi dan kemudian divaksinasi. 
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 Desember 2021  |  19:39 WIB
Kabar Baik! Ilmuwan Temukan Antibodi Penetral Covid Omicron
Ilustrasi Obat COvid-19. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah tim ilmuwan internasional telah mengidentifikasi antibodi yang diklaim bisa menetralkan Omicron dan varian SARS-CoV-2 lainnya.

Profesor Biokimia dari University of Washington School of Medicine, David Veesler, yang merupakan pemimpin studi menerangkan, antibodi itu menargetkan area protein spike virus yang pada dasarnya tetap tidak berubah saat virus bermutasi.

Temuan itu, diklaim bisa dimanfaatkan untuk merancang vaksin dan perawatan antibodi yang akan efektif terhadap tidak hanya varian omicron tetapi varian lain yang mungkin muncul di masa depan.

“Temuan ini fokus pada antibodi yang menargetkan situs yang terkonservasi pada protein spike, dan memberi tahu kita ada cara untuk mengatasi evolusi berkelanjutan virus,” ujar Veesler.

Varian omicron memiliki 37 mutasi pada protein spike, yang digunakan untuk menempel dan menyerang sel—jumlah mutasi yang luar biasa tinggi. Diperkirakan bahwa perubahan ini menjelaskan sebagian mengapa varian itu dapat menyebar begitu cepat, menginfeksi orang yang sudah divaksinasi dan menginfeksi kembali mereka yang sebelumnya terinfeksi. 

"Pertanyaan utama yang kami coba jawab adalah, bagaimana konstelasi mutasi pada protein spike varian Omicron mempengaruhi kemampuannya untuk mengikat sel dan menghindari respons antibodi sistem kekebalan," tambah Veesler dilansir dari medical xpres yang dikutip dari Tempo. 

Veesler memimpin proyek penelitian bersama dengan Davide Corti dari Humabs Biomed SA, Vir Biotechnology, di Swiss. Temuan penelitian ini dipublikasikan pada 23 Desember di jurnal Nature. Penulis utama penelitian ini adalah Elisabetta Cameroni dan Christian Saliba (Humabs), John E. Bowen (University of Washington Biochesmistry) dan Laura Rosen (Vir). 

Veesler dan rekan-rekannya berspekulasi, sejumlah besar mutasi Omicron mungkin terakumulasi selama infeksi berkepanjangan pada seseorang dengan sistem kekebalan yang lemah atau oleh virus yang melompat dari manusia ke spesies hewan dan kembali lagi. 

Untuk menilai efek dari mutasi ini, para peneliti merekayasa virus non-replikasi yang dinonaktifkan, disebut pseudovirus, untuk menghasilkan protein spike di permukaannya, seperti yang dilakukan virus corona. Mereka kemudian menciptakan pseudovirus yang memiliki protein spike dengan mutasi Omicron dan yang ditemukan pada varian paling awal.

Mereka melihat seberapa baik versi berbeda dari protein spike mampu mengikat protein pada permukaan sel, yang digunakan virus untuk menempel dan memasuki sel. Protein ini disebut reseptor angiotensin converting enzyme-2 (ACE2). Mereka menemukan bahwa protein spike Omicron mampu mengikat 2,4 kali lebih baik daripada protein spike yang ditemukan pada virus yang diisolasi pada awal pandemi. 

"Itu bukan peningkatan besar, tapi dalam wabah SARS pada 2002-2003, mutasi pada protein spike yang meningkatkan afinitas dikaitkan dengan transmisibilitas dan infektivitas yang lebih tinggi,” tutur Veesler sambil menambahkan bahwa timnya juga menemukan Omicron mampu mengikat reseptor ACE2 tikus secara efisien, menunjukkan Omicron mungkin bisa menular antara manusia dan mamalia lainnya. 

Para peneliti kemudian melihat seberapa baik antibodi terhadap isolat virus sebelumnya melindungi terhadap Omicron. Mereka melakukan ini dengan menggunakan antibodi dari pasien yang sebelumnya telah terinfeksi dengan versi virus sebelumnya, divaksinasi terhadap jenis virus sebelumnya, atau telah terinfeksi dan kemudian divaksinasi. 

Mereka menemukan bahwa antibodi dari orang-orang yang telah terinfeksi oleh jenis sebelumnya dan dari mereka yang telah menerima salah satu dari enam vaksin yang paling banyak digunakan saat ini, semuanya telah mengurangi kemampuan untuk memblokir infeksi. 

Antibodi dari orang yang sebelumnya telah terinfeksi dan mereka yang telah menerima vaksin Sputnik V atau Sinopharm serta dosis tunggal Johnson & Johnson memiliki sedikit atau tidak ada kemampuan untuk memblokir—atau menetralkan—masuknya Omicron ke dalam sel. Antibodi dari orang yang telah menerima dua dosis vaksin Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca mempertahankan beberapa aktivitas penetral, meskipun berkurang 20 hingga 40 kali lipat, jauh lebih banyak daripada varian lainnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obat Covid-19 omicron

Sumber : Tempo

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top