Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masyarakat Kian Tertarik Konten Lokal di Streaming OTT

Masyarakat lebih menyukai OTT video streaming services dibanding layanan TV kabel. Kini para sineas harus lebih banyak belajar untuk membuat konten.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 16 Februari 2022  |  11:26 WIB
Layangan Putus
Layangan Putus

Bisnis.com, JAKARTA -- Aplikasi video lokal over the top atau OTT saat ini sedang mengalami pertumbuhan yang signifikan. Bahkan, pangsa pasarnya mulai terbentuk dalam waktu yang relatif singkat.

Managing Partner Inventure Yuswohady mengatakan sejak pandemi terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dalam menikmati konten video. Banyak masyarakat yang lebih menyukai layanan over the top (OTT) Streaming Video.

Masyarakat lebih menyukai OTT video streaming services dibanding layanan TV kabel. Hal ini sejalan dengan hasil survei yang dilakukan Inventure-Alvara terhadap 770 responden yang 74,2 persen diantaranya mengaku lebih menyukai layanan OTT video dibanding layanan TV kabel.

“Selama dua tahun terakhir terjadi disrupsi yang kuat sekali di sektor media. Sebelum ada OTT video, penonton menikmati layanan visual lewat bioskop dan TV. Saat itu, konsumen lebih menikmati layanan konten video lewat media baru OTT tersebut,” tuturnya.

Menariknya, dari hasil survei tersebut ditemukan bahwa tren konten original lokal kian diminati. Terbukti dari hasil riset ditemukan bahwa 81,4 persen responden tertarik menonton konten original lokal, serta 80 persen responden tertarik berlangganan OTT lokal yang lebih banyak menyediakan konten lokal. 

Hal ini terindikasi dari animo masyarakat yang tinggi terhadap konten lokal terbaru yakni Series Layangan Putus yang dibintangi oleh Reza Rahardian, Putri Marino dan Anya Geraldin.

Celerina Judisari, CEO PT Mahaka Global Media mengatakan konten seperti Layangan Putus menyadarkan kita bahwa konten lokal cukup bisa menggaet penonton. Meski demikian, dia melihat bahwa sebenarnya tidak ada shifting yang begitu besar tentang selera masyarakat.

Hal ini merujuk data survei beberapa lembaga bahwa 60% penonton bioskop Indonesia memang menyukai konten lokal terutama untuk film-film bernuansa komedi, percintaan, horor, dan action.

Menurutnya, kebangkitan konten lokal hingga dapat menarik hati masyarakat karena pengemasannya yang berbeda yaitu melalui layar OTT.

Selain itu, banyak Production House yang telah menganalisis dan mempelajari market bahwa saat ini konsumen lebih menyukai produk yang mirip dengan style Korea baik dari segi angle, suasana dan kualitas. “Hal itu dilakukan untuk menggaet penonton yang sebenarnya sudah ada di sana.” jelasnya.

Celerina sangat optimis bahwa konten lokal masih akan berjaya.  Apalagi pemerintah juga membantu para creator lokal untuk membuat konten yang baik dan lebih berkualitas.

“Asalkan konten lokal mengikuti rumusan penonton industri media kita akan terus survive. Memang waktu itu, konten K-Drama sempat sukses dan berjaya, itu terjadi karena adanya kevakuman pada industri perfilman Tanah Air,” ujarnya.

Supaya konten lokal bisa terus berjaya dan bersaing dengan konten K-Drama, maka para sineas harus lebih banyak belajar baik dari sisi angle dan yang terpenting membuat konten yang berkarakter sesuai dengan jati diri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wisata film indonesia streaming
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top