Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Amankah Konsumsi MSG?

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO), konsumsi garam harian yang ideal adalah 5 gram setiap hari. Namun, 5 dari 10 masyarakat Indonesia mengonsumsi garam lebih dari 5 gram.
Intan Riskina Ichsan
Intan Riskina Ichsan - Bisnis.com 05 Juli 2022  |  17:15 WIB
Amankah Konsumsi MSG?
Micin atau MSG - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Manusia memanfaatkan garam sebagai pengawet makanan dan penyedap masakan.

Garam memang menjadi komponen penting dalam masakan, namun jika asupan garam terlalu tinggi maka tubuh memerlukan lebih banyak cairan untuk membersihkan jaringan dalam tubuh agar otot dan organ-organ lain bisa berfungsi baik.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO), konsumsi garam harian yang ideal adalah 5 gram setiap hari. Namun, 5 dari 10 masyarakat Indonesia mengonsumsi garam lebih dari 5 gram.

Medical Doctor dan Content Creator Kevin Mak mengungkapkan, kelebihan garam di dalam tubuh bisa menimbulkan sejumlah penyakit seperti hipertensi, diabetes dan stroke.

“Tubuh kita tetap memerlukan garam setiap harinya. Namun, apabila dikonsumsi secara berlebihan maka bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah, meningkatkan kadar gula di daerah dan juga membuat stroke,” kata Kevin dalam webinar Peran Umami dalam Mewaspadai Asupan Garam Berlebih untuk Hidup Lebih Sehat, Selasa (5/7/2022).

Kevin menambahkan, konsumsi garam di dalam tubuh bisa dikurangi dengan penambahan Monosodium Glutamate atau MSG. Kata dia, MSG dapat menjaga kadar sodium atau garam rendah dan tidak membahayakan tubuh.

Kata Kevin, penelitian yang dilakukan oleh Maluly pada 2020 menyebutkan penggunaan garam dapur dengan MSG bisa menurunkan kadar natrium sebanyak 37 persen.

“Penelitian yang dilakukan Jeremiah et all pada 2022 juga menyimpulkan, makanan sodium rendah sekitar 25 persen lebih rendah kadar garamnya, tapi dengan MSG bisa turunkan kadar garam lebih dari 30 persen pada resep yang sama,” jelas Kevin.

Menurut rekomendasi Pan American Health Organization (PAHO), menemukan pengganti garam sangat penting untuk mengurangi asupan sodium.

“Banyaknya garam pada kebutuhan sehari-hari menurut anjuran WHO adalah tidak lebih dari 5 gram pada makanan. Tidak boleh kelebihan konsumsi asupan garam harian termasuk pada anak-anak, di usia 1-3 tahun yaitu hanya 2 gram lebih sedikit, usia 4-6 tahun yaitu 3 gram, kemudian di usia 7-10 tahun disamakan dengan orang dewasa yaitu 5 gram,” jelas Kevin.

Kevin melanjutkan, MSG dapat digunakan sebagai alternatif pengganti garam yang tetap bisa memberikan rasa lezat pada masakan dengan mengurangi kebutuhan garam harian. Selain rasa lezat, MSG sendiri juga memiliki berbagai manfaat lainnya.

“MSG mampu menurunkan kadar natrium, membantu merangsang nafsu makan dengan memberikan menjaga saliva dan air liur dari enzim pencernaan untuk selera makan, membantu kerja usus, dan membantu pencernaan rongga mulut,” lanjutnya.

Mitos mengenai MSG yang konon menyebabkan kebodohan juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Hal tersebut tidak terbukti karena penggunaan MSG tidak ada hubungannya dengan kerusakan sistem saraf otak.

“Tidak menyebabkan gangguan otak baik skala kecil, menengah, maupun besar. Tidak menyebabkan kerusakan sel saraf dan tidak ada hubungannya dengan saraf otak maupun saraf tepi. Justru memiliki glutamate yang berperan aktif dalam pembentukan senyawa yang membantu untuk memori otak tetap efektif dan optimal,” ujar Kevin.

Senada dengan Kevin, Food Content Creator, Maya Melivyanti S.S, juga turut menggunakan alternatif lain sebagai pengganti garam yaitu dengan MSG dan bahan-bahan lainnya.

“Biasanya saya memasukkan rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah, dan daun bawang. Pokoknya lebih eksplor agar bisa tetap masak enak meskipun mengurangi garam. Selain itu juga bisa menggunakan berbagai kaldu seperti kaldu ayam ataupun kaldu sapi,” pungkas Maya.

Kevin menegaskan, konsumsi MSG dalam batas wajar tidak ada efek jangka panjang. Dia juga membantah sejumlah mitos tentang MSG yang disebut bisa menimbulkan kanker, hipertensi hingga kebodohan.

Kata Kevin, belum ada satupun penelitian yang menyebut kanker disebabkan oleh MSG. Selama ini, faktor penyebab kanker antara lain genetik, infeksi, merokok dan konsumsi alkohol. Menurut dia, penambahan MSG secara wajar tidak akan menyebabkan kanker.

Kemudian, Food Content Creator Maya Melivyanti mengatakan, penggunaan MSG aman bagi tubuh dengan pemakaian secukupnya, serta menggunakan produk yang berkualitas.

Menurut Maya, Kementerian Kesehatan telah mengatur batas konsumsi gula, garam dan lemak per-orang dalam sehari. Yang mana pembatasan gula dalam sehari adalah 4 sendok makan. Kemudian, anjuran konsumsi garam adalah 1 sendok teh. Serta, anjuran konsumsi lemak adalah 5 sendok makan.

"Misalnya bikin sayur sop untuk satu rumah. Bisa gunakan satu sendok teh garam, tapi juga menambahkan setengah sendok teh dari MSG. Jadi kita combine ya. Sehingga tidak terlalu asin tapi tetap gurih dan enak," ujarnya.

Namun demikian, Maya menjelaskan tak melulu menggunakan tambahan MSG untuk mendapatkan rasa umami. Menurut dia, beberapa bahan alami yang biasa dikonsumsi sebenarnya juga mengandung MSG, seperti sayuran, daging hingga seafood.

"Kalau di sayuran itu paling banyak di tomat, di wortel dan kentang. Lalu juga bawang bombay bisa kita tingkatkan ya pemakaiannya ke dalam masakan," tutur Maya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garam MSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top