Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Cek Fakta: Gejala Covid Omicron Sangat Ganas dan Mematikan

Beberapa pasien yg terdiagnosis Covid Omicron akhirnya diklasifikasikan sebagai tidak demam dan tidak nyeri, namun mengalami pneumonia dada ringan pada foto rontgen.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 12 Juli 2022  |  15:23 WIB
Cek Fakta: Gejala Covid Omicron Sangat Ganas dan Mematikan
Tangkapan layar- Ilustrasi Virus Corona varian Omicron. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Di whatsapp, beredar pesan berantai yang menyatakan bahwa covid omicron sangat ganas dan mematikan. 

Dalam pesan tersebut, dikatakan jika virus tersebut dapat menyebar di masyarakat dan langsung menginfeksi paru-paru.

Sehingga, menyebabkan pneumonia virus, yg pada gilirannya menyebabkan stres pernapasan akut.

"Ini menjelaskan mengapa Covid-Omicron menjadi sangat ganas, sangat ganas dan mematikan," tulis isi pesan berantai tersebut.

Berikut isi pesan tersebut secara lengkap:

Gejala virus baru COVID-Omicron adalah sebagai berikut:

1. Tidak batuk.

2. Tidak demam.

3. Tetapi akan ada banyak:
Nyeri sendi, sakit kepala, nyeri leher, nyeri punggung atas, pneumonia.

4. Tidak ada nafsu makan pada umumnya.

COVID-Omicron 5 kali lebih ganas daripada varian Delta dan memiliki tingkat kematian yg lebih tinggi daripada Delta.

Dibutuhkan lebih sedikit waktu untuk kondisi tersebut mencapai tingkat keparahan yg ekstrem, terkadang tanpa gejala yg jelas.

Jenis virus ini tidak berada di daerah nasofaring, virus ini secara langsung mempengaruhi paru-paru, "jendela" untuk waktu yg relatif singkat.

Beberapa pasien yg terdiagnosis Covid Omicron akhirnya diklasifikasikan sebagai tidak demam dan tidak nyeri, namun mengalami pneumonia dada ringan pada foto rontgen.

Tes usap hidung biasanya negatif untuk COVID-Omicron, n kasus negatif palsu dari tes nasofaring meningkat.

Artinya,
Virus tersebut dapat menyebar di masyarakat dan langsung menginfeksi paru-paru,
Sehingga menyebabkan pneumonia virus, yg pada gilirannya menyebabkan stres pernapasan akut.

Ini menjelaskan mengapa Covid-Omicron menjadi sangat ganas, sangat ganas dan mematikan.

Harap berhati-hati, hindari tempat² ramai, jaga jarak 1,5m bahkan di ruang terbuka,
Pakai masker lapis ganda, masker yg sesuai, dan sering-seringlah mencuci tangan ketika semua orang tidak menunjukkan gejala (Waktu batuk atau bersin).

Covid Omicron "WAVE" ini lebih mematikan dari gelombang pertama Covid-19.
Jadi kita harus sangat berhati-hati n mengambil berbagai tindakan pencegahan virus corona yg ditingkatkan.

Benarkah covid omicron ganas dan mematikan? Dilansir dari Webmd, dalam studi awal, TheBritish Medical Journal (The BMJ) menemukan bahwa gejala seperti pilek biasa terjadi pada mereka yang menderita Omicron. Mereka melaporkan bahwa lima gejala teratas yang terkait dengan varian tersebut adalah:

  1. Pilek
  2. Sakit kepala
  3. Kelelahan ringan atau berat
  4. Sakit tenggorokan
  5. Bersin
  6. Tetapi gejala umum COVID-19 lainnya, seperti batuk, demam, dan kehilangan penciuman atau perasa, masih merupakan tanda penting yang harus diwaspadai dengan varian Omicron.

Pakar WHO mengatakan tidak ada data yang menunjukkan Omicron menyebabkan gejala yang berbeda dari yang dihasilkan oleh varian COVID-19 lainnya.

Para ahli juga belum mengetahui apakah Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya. Kasus pertama yang dilaporkan berasal dari mahasiswa yang lebih muda dan cenderung memiliki gejala ringan. Tetapi para peneliti membutuhkan lebih banyak data untuk memahami bagaimana Omicron mempengaruhi kelompok orang yang berbeda.

Hal ini terutama berlaku untuk kasus infeksi ulang atau kasus terobosan pada orang yang divaksinasi lengkap. Satu studi awal telah menemukan bahwa infeksi sebelumnya hanya memberikan tingkat perlindungan 19%. Ini menempatkan kemungkinan terinfeksi ulang hampir 5½ kali lebih tinggi dengan varian ini dibandingkan dengan varian Delta.

Penting untuk diingat bahwa bahkan kasus COVID-19 yang relatif ringan dapat menyebabkan "covid jarak jauh": gejala yang berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah penyakit pertama berlalu.

Hal itu menunjukkan bahwa pesan yang beredar di whatsapp itu tidaklah benar. Sehingga bisa dikatakan jika pesan itu tidaklah benar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Covid-19 omicron Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top