Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dampak Maternal Depression pada Ibu yang Baru Melahirkan

Depresi ibu merupakan kondisi yang dapat mempengaruhi ibu selama masa kehamilan hingga satu tahun pascamelahirkan.
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 15 Agustus 2022  |  20:20 WIB
Dampak Maternal Depression pada Ibu yang Baru Melahirkan
Ilustrasi Depresi - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Melahirkan merupakan pekerjaan mulia yang hanya dapat dialami oleh wanita. Pekerjaan mulia ini hanya dapat berhasil dilakukan jika sang ibu telah siap secara fisik dan juga mental.

Kelahiran bayi juga mendatangkan berbagai perasan bagi ibu, mulai dari cemas, takut hingga berujung pada depresi.

Ragam jenis depresi yang mungkin saja dialami oleh ibu hamil terangkum dalam depresi ibu. Depresi ibu merupakan kondisi yang dapat mempengaruhi ibu selama masa kehamilan hingga satu tahun pascamelahirkan. Hal ini mencakup depresi pralahir, baby blues, depresi pascapersalinan atau maternal depression serta psikosis pascamelahirkan.

Meski sama-sama dialami ibu baru pasca melahirkan, maternal depression berbeda dengan baby blues. Jika baby blues hanya mempengaruhi ibu selama dua minggu setelah melahirkan, maternal depression biasa dialami ibu lebih dari dua minggu pascamelahirkan.

Berikut ini ulasan tentang maternal depression atau depresi pascapersalinan yang dirangkum dari berbagai sumber.

Depresi Pascapersalinan Bukanlah Cacat Karakter

Meskipun merupakan gangguan suasna hati yang cukup ekstrem dan cukup mengganggu rutinitas harian, depresi pascamelahirkan bukanlah cacat karakter yang bahkan dialami oleh 15% ibu. Ini hanya kondisi komplikasi pascamelahirkan.

Faktor-faktor yang Dapat Tingkatkan Risiko Mengalami Depresi Pascapersalinan

· Punyai keluarga dengan riwayat depresi

· Kurangnya support system: Setelah melahirkan, ibu baru butuhkan dukungan yang cukup dari orang di sekitarnya, kurangnya dukungan dapat tingkatkan risiko alami depresi pascapersalinan.

· Konflik perkawinan atau keluarga: Retaknya rumah tangga bisa jadi tingkatkan risiko ibu baru alami depresi pascamelahirkan.

· Komplikasi Kehamilan: Alami permasalahan Kesehatan, persalinan yang sulit ataupun kelahiran prematur.

· Ibu dengan umur kurang dari 20 tahun: Kehamilan di usia yang terlalu muda rentan alami depresi pascapersalinan

· Bayi berkebutuhan khusus: Setelah melahirkan bayi, ibu baru yang cemaskan bayi yang berkebutuhan khusus juga rentan terkena depresi pascapersalinan

Gejala Depresi Pascapersalinan

Depresi pascamelahirkan terjadi lebih lama dari baby blues atau bahkan bisa terjadi sebelum melahirkan hingga beberapa bulan pasca melahirkan. Sehingga gejala yang dirasakan juga lebih lama dan cenderung lebih parah.

Gejalanya meliputi:

· Perubahan suasnan hati yang ekstrem

· Menangis berlebih

· Kesulitan menjalin ikatan dengan bayi

· Cenderung menarik diri

· Kehilangan nafsu makan atau bahkan makan sangat banyak dari biasanya

· Tidur terlalu banyak atau tidak bisa tidur

· Kelelahan yang luar biasa

· Kehilangan minat terhadap sesuatu yang biasanya dianggap kesenangan

· Sensitif

· Kecemasan, ketakutan dan gelisah

· Keputusasaan

· Menyakiti diri sendiri ataupun bayi

·  Memikirkan bunuh diri

Mengobati Depresi Pascapersalinan

Mengobati kondisi ini tentu berbeda sesuai dengan tingkat keparahannya. Umumnya dokter akan memberikan antidepresan, menyarankan untuk melakukan psikoterapi, hingga menyuruh orang di sekitar ibu baru untuk memberikan dukungan lebih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Depresi kelahiran stres
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

back to top To top