Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menkes: Jangan Panik, Penularan Cacar Monyet Bisa Dicegah

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menghimbau agar masyarakat tidak panik menghadapi penyakit satu ini.
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 22 Agustus 2022  |  15:31 WIB
Menkes: Jangan Panik, Penularan Cacar Monyet Bisa Dicegah
Partikel virus cacar monyet atau monkeypox. - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Imbas dari dikonfirmasinya kasus pertama cacar monyet di Indonesia, banyak orang yang mulai mewanti-wanti penyakit ini agar tidak seperti pandemi covid-19, mengingat dua penyakit ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama disebabkan oleh virus.

Namun, memiliki banyak perbedaan juga, seperti cara penularan, jika covid-19 bisa ditularkan melalui droplet saat orang berbicara ataupun bersin, penularan cacar monyet harus melalui kontak fisik.

Penularan cacar monyet cenderung sulit

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers yang diadakan pada 8 Agustus 2022 menghimbau agar masyarakat tidak panik menghadapi penyakit satu ini. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, seperti sulitnya penyebaran cacar monyet jika dibandingkan dengan covid-19.

Cacar monyet ini sudah terjadi 35.000 kasus di dunia sejak teridentifikasi, pada saat yang sama covid-19 itu korbannya sudah jutaan, kenapa? karena penularan cacar monyet ini jauh lebih sulit dibanding covid. Penularannya terjadi pada saat sudah bergejala, sedangkan covid dari sebelum bergejala sudah bisa menular, itu sebabnya covid lebih cepat penularannya,” papar Budi pada (22/8/2022).

Budi menegaskan, penularan cacar monyet itu terjadi setelah penderita cacar monyet sudah alami berbagai gejala seperti lesi di kulit dan bernanah, sedangkan covid-19 tidak, sehingga sulit dihindari penularannya.

“Karena kalau covid-19 orang gak tahu dia sakit, kita dekat dengan dia, dan ternyata kita tertular, kalau cacar monyet, harus bintik-bintik dulu di kulit, keluar nanah, baru bisa menular, kalau belum keluar bintik-bintik, belum menular, maka menularnya jauh lebih mudah, karena kan bintik-bintik itu terlihat secara fisik dan kita bisa menghindari berdekatan dengannya,” sambung Budi.

Penularan dapat terjadi jika terlibat kontak fisik dengan penderita

Lebih lanjut, Budi juga menjelaskan mengapa penyebaran penyakit cacar monyet lebih susah dibandingkan covid-19, karena harus melalui kontak fisik, tidak seperti covid-19 yang bahkan bisa tersebar melalui droplet. “Penularannya juga harus kontak fisik, tidak seperti covid-19 yang hanya melalui udara, saat ngomong. Cacar monyet memang sudah ada, namun susah penularannya,” tambah Budi.

Indonesia sebelumnya sudah mengalami pandemi cacar, tepatnya sebelum tahun 1980. Hal ini disampaikan juga oleh Budi, sebagian orang yang lahir sebelum tahun 1980 yang telah menerima vaksin saat itu, maka antibodinya masih ada. Kemudian hal ini bisa memperkecil risiko terkena cacar monyet.

“Bedanya vaksin covid dengan vaksin cacar monyet adalah vaksin covid berlakunya enam bulan, sedangkan vaksin cacar monyet berlaku seumur hidup. Jadi kalau teman-teman yang lahir 1980 kebawah kan sudah divaksin, itu terproteksi, makannya di asia prevalensinya lebih rendah di eropa, karena di Asia pernah pandemi cacar yang lebih lama dibandingkan eropa, sehingga masih ada antibodinya,” ucap Menteri Kesehatan RI yang berusia 58 tahun tersebut.

Fatalitas cacar monyet cukup rendah

Budi mengungkapkan, meskipun WHO menyebutkan bahwa sudah ada 35.000 kasus cacar monyet yang tercatat, namun hanya 12 orang yang dikonfirmasikan meninggal dunia. Selain itu, menurut Budi, kematian 12 orang yang dimaksud ini bukanlah karena virus cacar monyet, melainkan karena infeksi kedua.

“Fatalitasnya juga rendah, dari 35.000 yang WHO umumkan, yang teridentifikasi meninggal hanya 12, orang, itu pun bukan karena virusnya, karena di kulit ini tidak dapat sebabkan meninggal tetapi karena secondary infection, biasanya abis infeksi di kulit terus garuk-garuk kesana kemari kemudian infeksi di paru-paru gara-gara pneumonia, atau infeksi bakteri di otak atau meningitis,” jelas Menteri lulusan ITB tersebut.

Budi menghimbau masyarakat tidak usah terlalu khawatir hadapi penyakit cacar monyet, meskipun sudah terkonfirmasi ada satu kasus di Indonesia. Selain itu Budi juga menghimbau untuk menjaga kebersihan dan protokol kesehatan serta segera datangi fasilitas kesehatan terdekat ketika temukan gejala cacar monyet, serta hindari kontak fisik.

“Gak usah terlalu khawatir, meskipun sudah terjadi di Indonesia ada satua, pesan saya tetap jaga prokes, kebersihan dijaga, kemudian kalau ada orang yang sudah berbintik-bintik di kulit, segera laporkan dan jangan bersentuhan fisik dengan orang itu, di tangan di muka, dan khusus untuk cacar monyet ini di area genital,” terang Budi.

Budi juga menyebutkan bahwa kemungkinan besar kasus cacar monyet di Indonesia bukanlah jenis cacar monyet yang tergolong fatal. “Cacar monyet ada dua, Afrika Barat dan Afrika tengah, yang satu fatal yang satu tidak, biasanya yang banyak di Eropa dan Indonesia itu bukan yang fatal, namun yang sekarang belum tau yang mana variannya, namun kemungkinanyang tidak fatal,” pungkasi Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top