Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Lagi Viral, Begini Proses Pembuatan Vaksin mRNA, Benarkah Picu Gangguan Jantung Usia Muda?

Vaksin berbasis MRNA kini sedang ramai dibicarakan karena dikabarkan bisa memicu masalah jantung, lantas bagaimana vaksin itu dibuat?
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 10 Oktober 2022  |  17:30 WIB
Lagi Viral, Begini Proses Pembuatan Vaksin mRNA, Benarkah Picu Gangguan Jantung Usia Muda?
Tenaga kesehatan menyuntikkan cairan vaksin dosis ketiga kepada warga lansia saat vaksinasi booster Covid-19 di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Jakarta, Rabu (12/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah sekian lama menjadi perbincangan publik mengenai vaksin mRNA atau Messanger RNA. Kini, Indonesia akan menjadi negara [pertama di Asia Tenggara yang punyai pabrik vaksin ini.

Menurut Ahli Epidemiologi yang juga Pakar Biostatistika Universitas Indonesia dr. Pandu Riono, vaksin mRNA dianggap punyai efikasi yang lebih baik. Tetapi, pria lulusan University of Pittsburgh, USA itu juga menyebut dalam cuitan Twitternya, bahwa vaksin ini punya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang jutga tinggi.

Lalu bagaimana vaksin mRNA ini dibuat?

Mengutip infografis dari Andy Burgunning untuk Chemical and Engineering News, vaksin RNA ini diproduksi oleh Pfizer dan BionTech serta Moderna. Vaksin ini juga telah telah digunakan oleh AS sebagai vaksin Covid-19 pertama yang disetujui untuk penggunaan darurat.

RNA merupakan materi genetik dari SARS-Cov-2, virus penyebab Covid-19. Sama halnya seperti DNA, RNA terdiri dari nukleotida. RNA SARS-CoV ini memiliki panjang 29,811 nukleotida. Lalu, RNA vaksin moderna punyai panjang 3,819 nukleotida, RNA vaksin Pfizer dan BioNTech punyai panjang 4,284 nukleotida.

Vaksin RNA memberikan RNA sintetis yang mengkode protein virus. Sel-sel kita mengambil RNA dan mensintesis protein, yang kemudian menghasilkan respons imun.

RNA ini dibuat pertama-tama dengan template DNA. Tujuannya untuk memproduksi RNA sintetis. Untuk menghasilkan template dalam jumlah yang besar, produsen menggunakan sel bakteri.

Pertama, oligonukleotida DNA yang merupakan untai sintetis dengan panjang 50-100 nukleotida. Kedua, template DNA plasmid dibentuk dengan menghubungkan untaian dengan enzim ligasi DNA. Lalu, amplifikasi DNA. Prosesnya berupa plasmid DNA yang ditingkatkan dalam sel bakteri.

Reaksi transkripsi yang dijalankan dengan enzim dan nukleotida RNA menghasilkan RNA dari template DNA.

Plasmid DNA, nukleotida, enzim polimerase serta buffer dan inhibitors, akan menghasilkan vaksin RNA. Akhirnya RNA telah dimurnikan untuk menjadi vaksin.

Dari RNA ke vaksin

Kunci dari sintesis RNA adalah penggunaan nukleotida yang dimodifikasi. Nukleotida yang dimodifikasi ini dapat meningkatkan stabilitas RNA serta dapat mencegah sistem kekebalan tubuh dari pemecahan asam nukleat.

Jika vaksin hanya mengandung RNA, maka enzim akan menghancurkan asam nukleid dengan cepat, bahkan sebelum mereka dapat memasuki sel manusia. Enkapsulasi RNA dalam nanopartikel lipid membantu melindungi RNA.

Gabungan RNA lipids dan ethanol, dienkapsulasi dan setelah satu jam, larutan telah didelusi untuk menaikkan ph ke ph fisiologis. Terakhir, proses dialisis dan filtrasi yang bertujuan untuk menghilangkan etanol. Beberapa lipid yang berbeda membentuk nanopartikel. Beberapa lipid membantu partikel dari bantuan struktur lain atau stabilitas dinding nanopartikel.

Benarkah picu masalah jantung

Dilansir dari Livemint, disebutkan vaksin mRNA COVID secara signifikan meningkatkan risiko kematian terkait jantung, terutama pada pria berusia 18 hingga 39 tahun.

Para ahli lebih lanjut menyarankan bahwa orang dengan penyakit terkait jantung tertentu harus berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum divaksin.

Ahli Bedah Umum Florida Dr Joseph A Ladapo mengatakan, "Hari ini, kami merilis analisis tentang vaksin mRNA COVID-19 yang perlu diketahui publik. Analisis ini menunjukkan peningkatan risiko kematian terkait jantung di antara pria berusia 18-39 tahun. FL tidak akan diam pada kebenaran, tweeted Ladapo.

Analisis dilakukan oleh Departemen Kesehatan (Departemen) Florida melalui rangkaian kasus yang dikendalikan sendiri, yang merupakan teknik yang awalnya dikembangkan untuk mengevaluasi keamanan vaksin.

Studi ini menemukan peningkatan tajam 84% dalam insiden relatif kematian terkait jantung di antara laki-laki berusia 18-39 tahun dalam 28 hari setelah vaksinasi mRNA.

Dia memaparkan, pasien dengan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya, seperti miokarditis dan perikarditis, harus ekstra hati-hati saat mempertimbangkan vaksinasi dan mendiskusikannya dengan penyedia layanan kesehatan mereka.

Bunyinya, dengan tingkat kekebalan global yang tinggi terhadap COVID-19, manfaat vaksinasi kemungkinan lebih besar daripada risiko kematian terkait jantung yang sangat tinggi di antara pria dalam kelompok usia ini. Vaksin non-mRNA tidak ditemukan memiliki peningkatan risiko ini

"Mempelajari keamanan dan kemanjuran obat apa pun, termasuk vaksin, merupakan komponen penting dari kesehatan masyarakat," kata Ahli Bedah Umum Dr Joseph Ladapo.

"Jauh lebih sedikit perhatian yang diberikan pada keselamatan dan kekhawatiran banyak individu telah diabaikan - ini adalah temuan penting yang harus dikomunikasikan kepada warga Florida," tambah Ladapo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Vaksin Covid-19 vaksinasi Vaksin Vaksin Booster
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top