Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Tren Nikah Muda di Singapura dan Indonesia Kompak Turun

Jumlah orang yang ingin menikah muda di Indonesia dan Singapura cenderung mengalami tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 10 Oktober 2022  |  19:15 WIB
Tren Nikah Muda di Singapura dan Indonesia Kompak Turun
Ilustrasi akad nikah - Pixabay
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah survei terbaru di Singapura mengungkapkan bahwa 8 dari 10 lajang muda ingin segera menikah di usia muda. Demikian berdasarkan survei Perkawinan dan Orang Tua di Singapura. 

Meskipun mayoritas 80 persen dari para lajang berusia 21 hingga 35 tahun yang disurvei ingin menikah muda, proporsinya menurun selama bertahun-tahun.

Hasil survei yang dilakukan antara Februari dan Juni 2021 itu dirilis oleh Divisi Kependudukan dan Bakat Nasional Singapura.

Survei tersebut melibatkan 2.848 lajang, dan 3.017 responden sudah menikah, dengan rentang usia yang disurvei antara 21 dan 45 tahun.

Hasil survei mengungkapkan, mayoritas lajang berusia 21 hingga 45 tahun, merasa bahwa memiliki karier dan membesarkan keluarga sama pentingnya, sementara 14 persen menganggap keluarga sebagai prioritas yang lebih penting daripada karier.

Sekitar 77 persen dari para lajang yang disurvei juga mengindikasikan bahwa mereka ingin memiliki anak.

Terlepas dari tingginya proporsi responden yang ingin memiliki anak, setengah dari responden menikah hanya memiliki satu anak atau bahkan sama sekali tidak memiliki anak.

Tiga alasan utama yang sering dikemukakan oleh responden yang tidak ingin memiliki anak lagi adalah biaya finansial, sudah memiliki cukup anak, dan stres membesarkan anak.

Uang tetap menjadi faktor kunci bagi mereka yang ingin memiliki lebih banyak anak juga.

Hampir semua responden menikah setuju bahwa ayah dan ibu sama pentingnya sebagai pengasuh anak, dan 95 persen setuju bahwa kedua orang tua harus berbagi tanggung jawab yang sama di rumah, sama seperti hasil survei 2016.

Cuti hamil berbayar selama dua minggu, yang diberlakukan pada tahun 2017, tampaknya memainkan peran penting dalam keputusan pasangan memiliki anak.

Pengaturan kerja yang fleksibel juga merupakan faktor kunci dalam mendorong pasangan untuk memiliki anak, menurut data.

Sama halnya di Indonesia, tren menikah usia muda di Indonesia juga cenderung menurun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hampir di seluruh wilayah Indonesia, data perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun cenderung turun dari tahun ke tahun.

Misalnya saja, di Jawa Barat presentasenya turun menjadi 10,09 persen tahun 2021, dibandingkan 2020 yang mencapai 11, 96.

Kemudian di Jawa Tengah presentasi menjadi 9,75 persen di 2021 dari 10,05 persen di 2020.

Menariknya, di Jakarta, tren menikah muda justru mengalami kenaikan pada 2021 sebesar 4,68 persen. Padahal, pada 2020 jumlahnya hanya 1,45 persen. 

Kenaikan juga terjadi di Yogyakarta dimana 2021 angkanya mencapai 3,52 persen, dari 1,85 pada 2020.

Adapun risiko pernikahan dini antaralain risiko dalam kesehatan perempuan, juga memicu munculnya kekerasan seksual dan pelanggaran hak asasi manusia. Di Indonesia, hal ini bertolak belakang dengan undang-undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1974 pasal 6.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pernikahan dini pernikahan tips pernikahan pernikahan muda
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top