Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Menilik Fenomena Godoksa 'Lonely Death' yang Merebak di Korea Selatan

Rasa kesepian yang berlebihan memicu fenomena godoksa di Korea Selatan yang bisa membunuh korbannya.
Widya Islamiati
Widya Islamiati - Bisnis.com 18 Oktober 2022  |  11:44 WIB
Menilik Fenomena Godoksa 'Lonely Death' yang Merebak di Korea Selatan
Kesepian - boldsky.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Jika Jepang punya hutan bunuh diri, Korea Selatan punya fenomena godoksa atau lonely death. Keduanya memiliki latar belakang yang sama, umumnya karena faktor ekonomi, depresi ataupun kesepian, orang yang tinggal sendiri.

Bedanya, jika di Jepang ada hutan Aokigahara yang menjadi tempat orang meregang nyawa, di Korea Selatan, tidak membutuhkan tempat tertentu untuk seseorang mengakhiri hidupnya.

Mengutip laman KoreajoongAngdaily, bulan April 2022 lalu, di sebuah rumah Distrik Jongno, pusat kota Seoul, ditemukan seorang perempuan berusia sekitar 80 tahun dan pria berusia 50 tahun sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Polisi menemukan kemungkinan mayat sudah meninggal selama sebulan lebih. Banyak orang yang tidak menyadari hal ini, sebab kedua orang tersebut diketahui punyai mobilitas yang rendah dan jarang berinteraksi dengan orang lain.

Namun, seorang pembaca meteran air menemukan kejanggalan ini. Kemudian melaporkan hal tersebut.

Hasil penyelidikan polisi menemukan, kedua orang tersebut punya masalah keuangan. Perempuan 80 tahun memiliki masalah dan pria 50 tahun yang memiliki penyakit kronis sehingga tidak dapat bekerja.

KoreajoongAngdaily juga menyebut, fenomena godoksa ini sering terjadi pada usia lanjut. Meskipun demikian, sumber lain menyebut usia muda juga bisa melakukan hal ini.

Lebih sering terjadi pada orang dengan lanjut usia 

Seorang peneliti dari Institut Teknologi Seoul, Choi Soo-beom menemukan kasus kematian akibat godoksa ini meningkat pada tahun 2021. Dari jumlah kasus 51 pada tahun 2020 menjadi 76 pada tahun 2021.

Dari data tersebut, Choi Soo-beom menyebut, 76.4 persen diantaranya merupakan seorang pria yang hidup sebatang kara dan berusia antara 50 hingga 60 tahun.

Masalah ekonomi menjadi motif utama 'godoksa'

Seorang peneliti senior di Seoul Welfare Foundation, Song In-joo menemukan 978 orang berisiko meninggal sendirian di Seoul, 65.8 persen atau 644 orang diantaranya adalah pria dan 34.2 atau 334 orang diantaranya wanita. 

Dari data tersebut, Song In-joo menyebut, sekitar 95.4 persen diantaranya merupakan pengangguran.

"Laki-laki paruh baya yang meninggal sendirian telah dipaksa ke penggusuran, mengalami kondisi kerja yang buruk dan mengalami pensiun mendadak, yang menyebabkan [perubahan] mendadak dalam kehidupan sehari-hari mereka. dan menjadi kelompok berisiko untuk kematian yang kesepian," kata Song, dikutip dari KoreajoongAngdaily pada Selasa (18/10/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

psikologi kematian
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top