Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Jumlah Perempuan Bekerja di Bidang Teknologi Masih Minim

Pekerja perempuan di sektor teknologi disebutkan masih lebih rendah dibandingkan pria.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 01 Desember 2022  |  18:04 WIB
Jumlah Perempuan Bekerja di Bidang Teknologi Masih Minim
Ekonomi digital - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Riset LinkedIn Jobs on the Rise tahun 2022 menunjukkan Data Scientist Specialists dan Machine Learning Engineers merupakan dua pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat selama lima tahun terakhir di Indonesia dan diproyeksikan akan terus tumbuh di masa depan.

Namun, studi ini juga menyoroti rendahnya tingkat partisipasi perempuan di dua pekerjaan bidang teknologi tersebut. Sepanjang tahun 2021, hanya 33,3% perempuan yang dipekerjakan sebagai Data Scientist Specialists dan hanya 27,8% sebagai Machine Learning Engineers.

Secara global, hanya tiga dari sepuluh peneliti yang bekerja di industri Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) yang merupakan perempuan.  Meskipun di tingkat sarjana persentase wanita di STEM adalah 50 persen, namun angka tersebut berangsur-angsur menurun menjadi 30 persen pada jenjang master dan 18 persen di jenjang doktor.

Mengutip laporan Bank Dunia, Kementerian Kominfo menyatakan sampai tahun 2030 dibutuhkan 9 juta talenta digital. Jumlah itu, menurutnya merupakan kebutuhan talenta digital di level terampil dan semi-terampil.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan perbandingan gender, tingkat partisipasi pekerja perempuan yang tersedia di pasar tenaga kerja dalam negeri sekitar 55 persen yaitu lebih rendah dari laki-laki (83,19 persen). Terkhusus untuk pekerjaan di industri STEM, tercatat hanya sekitar 30 persen pekerja perempuan.

Namun, walaupun jumlah persentase pekerja perempuan di industri STEM ini tergolong kecil, menurut UNESCO, angka tersebut masih lebih tinggi dari rata-rata negara-negara di Asia Tenggara yakni sebesar 23 persen.

Peringkat ini menempatkan lndonesia berada di garda terdepan dalam rasio perempuan terhadap pekerja laki-laki di industri STEM.

Robert Gardiner, Academic Advisor and Operations Counsel Prestasi Junior Indonesia mengungkapkan penting bagi perempuan termasuk pelajar untuk memahami tren dan peluang karier bidang teknologi, merancang jalur pendidikan dan pengembangan diri menuju karier bidang teknologi di masa depan, serta mengeksplorasi ragam keterampilan seputar pengkodean dan robotika.

"Diharapkan para perempuan muda percaya diri menjadi talenta teknologi yang kompetitif di industri teknologi," ujarnya dalam Amazon Web Services Girls’ Tech Day dikutip dari keterangan tertulisnya.

Menurutnya, diharapkan ke depannya juga kesenjangan gender di dunia kerja teknologi antara pria dan perempuan bisa berkurang.

Dia menambahkan, pembelajaran yang bisa diberikan pada perempuan ini yakni semisal belajar mengenai konsep dan fungsi dari pusat data dan komputasi awan menggunakan perangkat robotika Quarky (robot berukuran saku yang dapat diprogram ulang dengan Wi-Fi dan Bluetooth bawaan).

Kemudian, perangkat lunak pemrograman Pictoblox (perangkat lunak pemrograman grafis). Melalui pembelajaran dan aktivitas tersebut, para pelajar berkenalan dengan beragam teknologi yang banyak diadopsi oleh dunia industri saat ini, seperti pemrograman, kecerdasan artifisial, dan robotika.

"Yang terpenting, seluruh rangkaian pembelajaran tersebut diharapkan dapat menciptakan pengalaman pertama yang berkesan yang mampu menghidupkan imajinasi mereka dengan teknologi," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perempuan teknologi teknologi 5G
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top