Penampilan Boyband BTS di panggung Grammy Awards 2022/Billboard
Entertainment

BTS, Blackpink, dan Rahasia Sukses KPop di Kancah Internasional

Feni Freycinetia Fitriani
Jumat, 23 Desember 2022 - 16:45
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - 10 tahun yang lalu, mungkin tidak banyak orang yang tahu tentang boy band asal Korea Selatan (Korsel), Bangtan Boys atau BTS. Kini, nama 7 personel BTS justru dielu-elukan oleh ratusan juta anak muda di berbagai belahan dunia.

Hal yang sama juga berlaku pada Blackpink. Girl band besutan YG Entertainment tersebut berhasil muncul di sampul majalah TIME. Blackpink sukses menduduki puncak popularitas dengan menyabet "Entertainer of the Year 2022".

BTS dan Blackpink saat ini mungkin menjadi wajah utama industri KPop yang mendunia. Meski demikian, mereka bukanlah satu-satunya ikon budaya pop asal Korsel yang dikenal dengan sebutan Hallyu. Ya, saat ini dunia memang tengah tersengat "demam KPop" atau "Hallyu Fever", dimulai dari industri musik, televisi, film, skincare, hingga pariwisata.

Lantas, apa yang membuat budaya KPop digandungi oleh miliaran manusia di dunia saat ini?

Sejarah Munculnya KPop

Profesor Studi Internasional di Korea University Andrew Eungi Kim mengatakan fenomena KPop atau Hallyu justru muncul dari minimnya komoditas yang bisa diekspor oleh Korsel ke luar negeri.

Selama bertahun-tahun, reputasi Korsel berpusat pada ekspor mobil, handphone, dan peralatan elektronik yang diproduksi oleh merek-merek seperti Hyundai, Samsung, dan LG.

Sementara itu, Andrew mengatakan film, serial televisi, bahkan acara musik hanya dikonsumsi oleh masyarakat di dalam negeri dan sebagian negara di Asia Timur. Dia pun mengungkapkan bagaimana peran pemerintah Korsel saat ini dapat membuat pelaku industri memproduksi konten populer untuk diperkenalkan ke luar negeri.

"Pada 1994, ada laporan kepada presiden yang menyarankan agar negara mempromosikan produksi media sebagai strategi industri nasional dengan berkiblat pada revenue kesuksesan Hollywood pada saat itu, jurasic park. yang penjualan luar negerinya setara dengan 1,4 miliar mobil Hyundai," ujar Profesor Andrew dalam sesi diskusi di acara Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea workshop initiated by the Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) and Korea Foundation beberapa waktu lalu.

Dia memaparkan perbandingan film Jurrasic Park dengan mobil Hyundai, yang pada saat itu dinilai sebagai kebanggaan Korea, sangat mengejutkan publik di Negeri Ginseng.

Menurutnya, pernyataan Presiden Korsel menyadarkan pembuat kebijakan dan publik atas ide budaya pop sebagai industri. Sejak itu, industri budaya menjadi dipertimbangkan untuk mendorong ekspor Korsel ke berbagai belahan dunia.

"Dari situ, kami pada akhirnya sampai kepada titik ini. Pemerintah korea sangat percaya meningkatnya ketertarikan budaya pop korea di luar negeri dapat menguntungkan sektor ekspor negara dan berkembangnya popularitas budaya pop Korea dapat juga meningkatkan soft power negara," imbuhnya.

BTS, Blackpink, dan Rahasia Sukses KPop di Kancah Internasional

Hard Power vs Soft Power

Profesor Andrew mengatakan ada beberapa faktor yang membuat KPop atau Hallyu menjadi sangat sukses hingga saat ini. Pertama, kompetensi Korsel atau yang disebut dengan Hard Power.

Menurutnya, kesuksesan Korsel secara ekonomi telah membuat para pelaku industri hiburan di negara tersebut memproduksi konten budaya pop yang berkualitas tinggi serta memaksimalkan pola pemasaran efektif.

Dia mengatakan fenomena Hallyu mirip dengan banyaknya orang yang gemar menonton film Blockbuster buatan Amerika Serikat. Menurutnya, industri Hollywood memiliki kapabilitas serta investasi besar untuk menghasilkan film berkualitas tinggi.

"Ketika kita membahas film Blockbuster, mereka membuat kita berpikiri film itu yang hanya bisa dihasilkan oleh AS. Kenapa? Karena mereka punya banyak kapasitas. Itu argumen yang saya buat terkait hal ini, yaitu hard power," jelasnya.

Kedua, Andrew mengatakan Korsel juga memaksimalkan diplomasi soft power untuk memperkenalkan KPop kepada masyarakat dunia. Menurutnya, soft power merupakan kekuatan yang dipraktekkan sebuah negara melalui citra untuk mempengaruhi pola pikir, daripada hard force seperti kekuatan militer atau ekonomi.

Dia menilai soft power merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang unik lewat attraction daripada coertion.

"Jika saya bisa memberikan contoh kembali, AS memiliki citra yang disukai karena dinilai sebagai negara yang kaya. Karena itu, banyak orang membeli celana jeans Levi’s, iPhone, rokok Marlboro, hingga Coca-Cola. Anda menikmati hip hop dan musik-musik lain dari AS. Itu argumen terkait soft power," ungkapnya.

Jika dikaitkan dengan definisi soft power, Andrew mengatakan Hallyu atau Korean Wave sangat sukses karena meningkatnya perekonomian Korsel secara langsung meningkatkan pengaruh soft power.

Dengan dukungan ekspor komoditas semikonduktor, otomotif, hingga KPop, Korsel saat ini mendudungi peringkat ke-10 sebagai negara dengan total pendapatan per kapita (GDP) terbesar di dunia.

"Korsel saat ini berada di posisi ke-10 secara ekonomi dengan total GDP lebih dari US$1,8 miliar. Semakin ke sini, dunia mengasosiasikan Korsel dengan kemakmuran dan standar hidup yang tinggi," imbuhnya.

BTS, Blackpink, dan Rahasia Sukses KPop di Kancah Internasional

Meski demikian, Andrew menilai keberhasilan KPop sebagai soft power Korsel masih dipertanyakan. Jika melihat pada sisi kultural, dia mengatakan KPop atau Hallyu memang sukses membuat banyak individu tertarik untuk jatuh cinta pada budaya bahkan sosok selebriti dari Korea.

Namun, dia masih belum sepenuhnya yakin bahwa soft power tersebut dapat berlaku di level pemerintahan atau secara diplomasi. Salah satu contohnya adalah jepang.

Menurutnya, saat ini banyak warga Jepang yang ikut tergila-gila dengan KPop dan K-Drama. Sayangnya, hal tersebut belum terjadi di level pemerintah.

"Jika kita bicara tentang kontroversi berkelanjutan antara kedua negara terkait isu pulau Dokdo, soft power Korsel tidak memiliki peran dalam mempengaruhi pemerintah Jepang. Intinya, ketika bicara soal soft power, Anda harus melihatnya di 2 level, yaitu individual dan diplomatik," ucapnya.

Demam KPop Menyebar ke Indonesia

Anggota Dewan Profesor ASEAN di Ewha Womans University Ratih Indraswari mengatakan fenomena demam KPop atau Hallyu Fever memang terjadi di berbagai negara di dunia. Namun, dia mengungkapkan indeks sentimen Hallyu tertinggi dinikmati oleh warga di Asia Tenggara.

"Indonesia ada di posisi teratas bersama Vietnam. Jadi kita bisa melihat Indonesia memiliki peningkatan yang tinggi terhadap kepopuleran Hallyu, khususnya KPop semakin populer di antara anak muda indonesia karena media sosial," ujarnya di Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea workshop yang digelar oleh the Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) and Korea Foundation beberapa waktu lalu.

Ratih mengatakan Indonesia berada di peringkat kedua pada 2020 untuk KPop streamers di platform Spotify dan juga peringkat pertama dalam Tweet tentang KPop secara global. Bahkan, lanjutnya, akun Twitter di indonesia didedikasikan kepada KPop idols dengan jutaan followers.

Menurutnya, data tersebut menggambarkan adanya potensi atau kesempatan meningkatnya industri KPop di pasar korea. Jika lebih dalam mengamati data KPop di Idonesia, Ratih mengatakan ada peningkatan yang stabil untuk preferensi positif dan juga menurun untuk preferensi negatif.

"Saya melihat consumer behaviour. Ketika kita melihat Hallyu dan ada preferensi yang positif, apa yang akan kita lakukan? Tentu kita harus berpikir sebagai konsumen untuk mengeluarkan uang. Apakah kita mau mengeluarkan uang untuk produk Hallyu?" paparnya.

Mengacu pada penelitian terkini, dia mengatakan data menunjukkan Indonesia memiliki intensi yang tinggi untuk mengeluarkan uang dan membayar untuk konten Hallyu, khususnya terhadap film, drama, dan musik.

"Mungkin Anda bisa melihat ini ke diri anda berapa banyak uang yang anda keluarkan per bulan untuk K-Drama, K-Movie, dan K-Musik," ucapnya.

Menurutnya, tingginya minat masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi produk KPop tidak terlepas dari demografi yang besar dan banyaknya anak muda.

Tak heran, pemerintah dan pelaku industri di Korsel melihat Indonesia sebagai salah satu pasar KPop yang potensial. Pada 2020, sensus menunjukkan populasi usia produktif di indonesia mencapai di atas 70 persen. Di antara 70 persen ini, 80 juta berada di kategori usia 15 hingga 34 tahun.

Ratih mengatakan data tersebut menunjukkan bagaimana, di mana, atau apa yang konsumen indonesia suka dari produk korea atau preferensi mereka. Menurutnya, posisi teratas bukanlah ditempati oleh musik atau drama Korea.

"Makanan tetap berada di posisi pertama. Saya sangat setuju akan hal ini karena ketika saya pertama kali datang dan memikirkan mengapa saya suka Korea, hal pertama yang saya suka tentang Korea adalah makanannya," ujar Ratih.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro