Ilustrasi bayi baru lahir/Istimewa
Health

IDAI: Kenali Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Redaksi
Selasa, 26 September 2023 - 19:44
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tenaga medis mengungkapkan bahwa anak kecil yang baru lahir, bisa mengalami penyakit jantung bawaan (PJB). Namun hal tersebut berpotensi kecil terjadi.

Dalam rangka Hari Jantung Sedunia yang diperingati pada tanggal 29 September setiap tahunnya, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia mengadakan Seminar Media bertajuk Menjaga Kesehatan Jantung Anak. 

Pada kesempatan ini, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi IDAI, Rizky Adiansyah memaparkan materinya terkait penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak. Dia mengungkapkan, satu dari seratus bayi baru lahir mengalami PJB dan dua hingga empat bayi baru lahir mengalami PJB kritis. 

Menurut data IDAI, diperkirakan 50 ribu bayi di Indonesia lahir dengan PJB setiap tahunnya, sedangkan 12 ribu bayi lahir dengan PJB kritis. 

“Hal ini perlu kita perhatikan, jika PJB tidak  mendapatkan penanganan, maka bayi hanya bisa bertahan hidup dalam jangka waktu satu tahun usia,” ujarnya.

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada anak memberikan dampak besar bukan hanya bagi anak, melainkan juga bagi lingkungan bahkan negara. Faktanya, anak dengan PJB rentan mengalami kualitas hidup dan kecerdasan yang menurun karena anak kehilangan pendidikan yang baik di sekolah.

Dr Rizky menambahkan, PJB yang diderita anak memberikan beban hidup yang meningkat bagi orang tua. Meskipun biaya pengobatan telah ditanggung JKN, biaya konsumsi, akomodasi, transportasi selama pengobatan tetap menjadi tanggung jawab orang tua. 

“Negara juga akan rugi. Satu anak dengan kelainan jantung yang tidak ditangani, artinya negara harus kehilangan kesempatan satu anak sebagai penyelamat penerus bangsa,” tambah Rizky.

Gejala dan Tanda Bayi Baru Lahir Mengalami PJB 

Perlu disadari oleh para orang tua bahwa deteksi dini dan penanganan yang tepat dan cepat, sangat dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan hidup bayi.

Bayi baru lahir yang mengalami PJB mungkin tidak menunjukan gejala yang khusus, tetapi bayi akan tampak kebiruan (sianosis) dan atau sesak nafas setelah beberapa hari atau beberapa bulan kemudian terutama pada bayi dengan PJB kritis. Namun, PJB akan lebih jelas ditemukan saat dilakukan pemeriksaan pulse oksimeter. 

Tindakan Pencegahan dan Pengobatan 

Penyakit Jantung Bawaan tidak selalu dapat dicegah, tetapi bisa dilakukan hal-hal yang menurun faktor risiko. Faktor risiko PJB dapat diminimalisir sejak bayi masih dalam kandungan ibu, artinya ibu menjadi ketahanan pertama pada kesehatan jantung bayi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

• Konsumsi suplemen asam folat 400 McG/hari.

• Rutin melakukan konsultasi kehamilan 

• Hindari kontak dengan penderita virus terutama rubella dan flu

• Hindari minuman beralkohol

• Hindari asap rokok

• Jangan mengkonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter

Namun, jika bayi dilahirkan dengan PJB maka harus dilakukan perawatan medis secara langsung melalui intervensi yang dilakukan dengan non bedah maupun bedah saat usia satu tahun pertama. 

Rekomendasi dan Upaya IDAI 

Menanggapi bahaya PJB pada bayi, IDAI memberikan beberapa rekomendasi untuk menurunkan angka kematian pada bayi baru lahir.

• Pada bayi yang tampak sehat, lakukan skrining oksimeter pada usia 24-48 jam pertama. 

• Pada bayi yang dicurigai PJB berdasarkan hasil skrining oksimeter atau dijumpai gejala dan tanda klinis, segera dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan ekokardiografi.

• Pada jenis PJB kritis tergantung duktus diberikan obat prostaglandin intravena sebelum dilakukan intervensi non bedah maupun bedah.

Selain memberikan rekomendasi dan usulan, IDAI telah mengadakan beberapa upaya bersama pemerintah demi meminimalisir PJB pada anak dan meningkatkan layanan kesehatan jantung, sebagai berikut : 

• Pelatihan tenaga kesehatan (dokter, perawat dan bidan di puskesmas) 

IDAI telah melaksanakan INPOST ( Indonesian Newborn Pulse Oxymetry Screening Training) dan PSR (Pediatrician Social Responsibility) demi meningkatkan kualitas tenaga kesehatan terkhusus dalam upaya penangan penyakit jantung.

• Pelatihan dokter spesialis anak dan tele-konsultasi antar dokter

IDAI telah melaksanakan PNET (Pediatric & Neonagal Echocardiography Training) sebagai peningkatan kualitas dokter spesialis anak dan pengadaan aplikasi primaPRO dengan tujuan masyarakat atau pasien bisa berkonsultasi.

• Peningkatan dan pemerataan dokter subspesialis kardiologi anak.

Selain pelatihan IDAI bersama pemerintah telah berupaya memeratakan tenaga kesehatan kardiologi anak hingga ke pelosok daerah melalui program beasiswa Kemenkes atau LPDP dan beasiswa prioritas bagi dokter SpA di provinsi yang belum memiliki SpA(K)

Namun, upaya dan rekomendasi yang dilakukan belum sepenuhnya mencapai tujuan. Sehingga IDAI mengusulkan peningkatan akses layanan kesehatan jantung di Indonesia, yakni yang pertama pengadaan alat pulse oksimeter khusus neonatus di setiap puskesmas dan alat ekokardiografi portable dengan probe neonatus di setiap rumah sakit kabupaten/kota/provinsi.

Kedua peningkatan kemampuan RS jejaring KIA dan Kardiovaskular dalam layanan jantung anak melalui pendampingan/proctorship. Ketiga pengadaan obat-obatan khusus (seperti prostaglandin IV) untuk layanan jantung anak di semua rumah sakit jejaring KIA dan Kardiovaskular. (Maria Elfika Simplisia)

Penulis : Redaksi
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro