Health

Hati-hati, Pedhofil Melancarkan Aksinya Lewat Wisata Seks Anak Melalui Webcam

Deliana Pradhita Sari
Minggu, 9 Maret 2014 - 09:44
Bagikan

Ohio guy         : do you have brothers or sister?

10 f Philippines: yes, little sister, she 8, she say hi !

Ohio guy         : is she naked?

10 f Philippines: no

Ohio guy         : get her naked and turn on your cam

Ohio guy         : my **** is hard (*dick)

Ohio guy         : I’m going to **** you both (*fuck)

Ohio guy         : you like getting ****ed by big **s (*fucked) (*ass)

10 f Philippines: we turn cam on, but not for free

Ohio guy         : just turn it on and I might pay later

Seperti itulah bentuk percakapan yang menunjukkan eksploitasi anak sebagai korban kekerasan seksual melalui praktik Wisatawan Seks Anak Melalui Webcam (Webcam Child Sex Tourism/ WCST).

Praktik WCST kini kian marak terjadi dan menyerang anak-anak di bawah umur di kawasan negara berkembang di Asia Tenggara. Wisatawan atau yang disebut juga dengan predator ini mayoritas adalah warga nonAsia yang menyasar anak-anak yang mampu berbahasa Inggris. Filipina merupakan negara target “wisatawan” dalam melakukan aksinya melihat anak kecil di sana mahir berbahasa Inggris.

Hanneke Oudkerk, Regional Program Advisor Terre des Hommes Netherlands, sebuah organisasi berbasis hak anak yang berupaya mengakhiri bentuk eksploitasi anak di seluruh dunia, mengatakan kasus seperti ini  menyebar dengan cepat seperti epidemi.

“Terhitung sekitar 750.000 predator online tiap harinya di seluruh dunia, hanya ada 6 predator saja yang telah dipidanakan di dalam penjara. Jumlah ini sangat disayangkan,” katanya saat konferensi pers hasil penelitian Terre des Homes Netherland tentang WCST belum lama ini.

Jumlah predator tersebut kian meningkat seiring meningginya aksi pedhoseksual yang menginginkan anak di bawah umur sebagai objek pemuas hasrat seksual mereka yang dapat mereka dapatkan dengan sekali menatap layar komputer dan membayar dengan jumlah yang sangat murah.

Keprihatinan macam ini menyebabkan Terre des Hommes membentuk kampanye Stop Webcam Child Tourism  untuk melacak aksi predator dalam melancarkan aksinya. Organisasi tersebut meletakkan posisi sebagai tokoh anak perempuan Filipina yang berusia 10 tahun.

Dengan fasilitas teknologi yang inovatif, sebuah karakter virtual dari animasi 3D yang diberi nama Sweetie dikendalikan oleh para peneliti Terre des Hommes di Belanda. Dari sebuah ruangan, para peneliti beroperasi dalam media chatting publik (public chat rooms) dengan para predator. Para predator dengan jelas mengekspresikan ketertarikan secara seksual meski Sweetie mempertegas usianya masih 10 tahun.

Melalui cara ini, para peneliti mampu melacak predator sebanyak 1.000 orang dari berbagai negara hanya dalam kurun waktu 2 bulan.

Hanneke menjelaskan predator terbanyak berasal dari Amerika Serikat sejumlah 224 orang, disusul Inggris 110 orang, India 103 orang, Kanada 54 orang dan Australia 46 orang.

Hal mengejutkan diungkapkan oleh Sudaryanto, Country Manager untuk Indonesia, Terre des Hommes Asia Tenggara. “Dari 1.000 predator yang terlacak, 3 di antaranya adalah orang Indonesia,” katanya.

“Hal mengejutkan ini adalah fenomena gunung es, ini baru puncak kerucutnya saja, fenomena seluruhnya akan lebih besar,’” tambahnya.

Sudaryanto mengungkapkan Indonesia merupakan peringkat 10 besar kasus kekerasan seksual terbesar di dunia. Pada 2005 indonesia menduduki peringkat 7. Pada 2007, Indonesia berada di peringkat 5 dan terakhir menduduki peringkat 3 pada 2009. Sebanyak 37,3% total kekerasan seksual anak adalah menggunakan media online.

“Korban kekerasan seksual oleh para predator biasanya  mengalami post-traumatic stress yang berupa rasa malu dan bersalah dengan apa yang mereka lakukan,” katanya.

Mereka menunjukkan masalah dengan sikap negatif seperti merokok, mengonsumsi alkohol atau narkoba untuk menenangkan diri dan lari masalah.

“Solusi yang harus dilakukan untuk membantu anak-anak yang menjadi korban predator adalah dengan rehabilitasi anak, diidentifikasi apa masalahnya dan diberikan trauma konseling,” jelasnya.

Rehabilitasi anak didirikan untuk menciptkan lingkungan yang aman, sehat dan kondusif agar anak menemukan kembali semangat dan harapan mereka pasca kekerasan seksual yang dialami.

Psikolog klinis dari Rumah Hati, Tri Hadi mengungkapkan bahwa korban dari predator-yang kemungkinan besar mengidap kelainan seksual Pedhofilia- adalah anak-anak yag cenderung kesepian dan tidak mendapatkan perhatian dari orang tua dan sekitarnya. Mereka merupakan sasaran empuk bagi para pedhofil.

“Memang pedhofil biasanya adalah pria, mereka memiliki fantasi dan aktivitas seksual yang menyimpang yaitu mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat anak-anak tanpa busana, menggerayangi kulit mulus mereka, dan tahap paling parah adalah seks oral dan memainkan alat vital anak-anak,” katanya saat dihubungi Bisnis.

Perdhofil doyan baik anak laki-laki maupun perempuan, katanya, bagi mereka, apapun jenis kelamin anak tidak masalah selama umur masih di bawah 13 tahun.

“Pedhofil biasanya adalah kerabat atau kolega dekat dari korban, mereka mengetahui celah kapan bertindak,” ungkapnya.

Tak semua pria yang menyukai anak-anak dikategorikan sebagai pedhofil. Untuk masuk ke dalam kategori ini, seorang pria harus diuji klinis tentang perilaku, pikiran, angan-angan  atau fantasi seksual kepada anak selama kurang lebih 6 bulan. Jika dalam waktu tersebut, ia masih memiliki hasrat seksual serupa, pastilah ia dikategorikan sebagai pedhofil. Seseorang yang teruji tersebut minimal berumur 16 tahun atau minimal 5 tahun lebih tua dari korban.

Editor : News Editor
Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro