Malam Ini, Kolaborasi Wayang Kulit dan Wayang Golek Tampil di Kota Tua

Dua dalang wayang yang berbeda aliran yakni Ki Sambowo Agh dan Ki Apep Hudaya akan menyuguhkan sebuah kolaborasi yang menarik pada Festival Wayang Indonesia 2015. Mereka akan menyuguhkan sebuah lakon berjudul Wisanggeni yang merupakan kolaborasi antara wayang kulit dan wayang golek.
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 12 September 2015  |  18:56 WIB
Malam Ini, Kolaborasi Wayang Kulit dan Wayang Golek Tampil di Kota Tua
Ilustrasi - Jibiphoto/Sunaryo Haryo Bayu

Bisnis.com, JAKARTA — Dua dalang wayang yang berbeda aliran yakni Ki Sambowo Agh dan Ki Apep Hudaya akan menyuguhkan sebuah kolaborasi yang menarik pada Festival Wayang Indonesia 2015. Mereka akan menyuguhkan sebuah lakon berjudul Wisanggeni yang merupakan kolaborasi antara wayang kulit dan wayang golek.

Kaborasi ini akan ditampilkan pada Sabtu (12/09/2015) ini mulai pukul 21.00 WIB hingga 03.00 WIB di Kota Tua Jakarta, dan digelar secara gratis dan terbuka bagi umum Dalam lakon ini, wayang golek dan wayang kulit akan tampil pada satu panggung secara bergantian.

Ki Sambowo Agh menyatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan sebagai dialog kebudayaan antara wayang kulit yang berasal dari suku  Jawa dengan wayang golek yang merupakan tradisi suku Sunda. Menurutnya, kolaborasi ini cocok dipentaskan di Jakarta di mana penontonnya merupakan masyarakat heterogen yang berasal dari banyak wilayah.

“Kami menyebutnya bukan kolaborasi, tetapi dialog antara wayang Sunda dan Jawa, karena dari kedua wilayah itulah penonton wayang terbanyak berasal. DI sini kami akan menyuguhkan kisah tentang Wisanggeni, sebuah tokoh rekaan masyarakat Jawa dalam pewayangan, yang tidak terdapat dalam Kitab Mahabharata,” ujarrnya, Sabtu (12/09/2015).

Menurutnya, Wisanggeni adalahsatu di antara beberapa tokoh putera Pandhawa yang berjiwa pemberani, ahli diplomasi, dan mempunyai kelebihan seperti halnya para dewa. Dia adalah putra Arjuna yang lahir dari Bathari Dresnala.

Dalam lakon ini, WIsanggeni berhasil mempersatukan pendapat dari semua putra Pandhawa untuk menuntut hak yang seharusnya menjadi milik Pandhawa, Bumi Astina. Dia menang, tetapi terhalang oleh Prabu Dewa Malaya jelmaan dari musuh sang ayah kala itu, Prabu Dewasrani, walaupun akhirnya dia menghindari pertempuran tersebut.

Kemenangan putra Pandhawa kali ini hanya untuk mengingatkan Prabu Duryana tentang hak para Pandhawa. Semua diserahkan kepada para pandhawa nanti di perang besar Baratayuda. Ini hanyalah peringatan saja yang dibuat oleh WIsanggeni yang cerdik.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
festival wayang

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top