Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Eros Djarot Ingatkan Produser Jangan Sentuh & Buat Film Seputar Tragedi 1965

Budayawan yang juga seorang politikus Eros Djarot mengingatkan para produser film di Indonesia untuk tidak pernah menyentuh dan membuat film yang mengangkat kisah seputar 30 September.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 19 Oktober 2015  |  02:32 WIB
Eros Djarot - Antara
Eros Djarot - Antara

Bisnis.com, FRANKFURT - Budayawan yang juga seorang politikus Eros Djarot mengingatkan para produser film di Indonesia untuk tidak pernah menyentuh dan membuat film yang mengangkat kisah seputar 30 September.

Eros Djarot yang aktif di Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarno Putri dan Partai Nasionalis Bung Karno berpartisipasi sebagai pembicara dalam diskusi "Politic in Film," yang diadakan dalam rangkaian Frankfurt Book Fair yang berlangsung di Deutsches Filmmuseum, Frankfurt, Sabtu (17/10/2015) malam, waktu setempat.

Dalam acara diskusi bersama Sutradara film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Angga Dwimas Sasongko, yang dihadiri Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Endang Caturwati dan kurator Natascha Gikas,adik dari bintang film Slamet Rahadjo, menekankan agar produser film Indonesia jangan pernah menyentuh masalah yang sensitif tersebut.

Diakuinya film yang dibuat dengan tema politik tidak akan populer, meskipun Indonesia dalam masa kependudukan Jepang, film digunakan sebagai alat politik.

"Film semata-mata hanyalah alat hiburan," ujar Pendiri dan Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) dan Nominator Mike Burke's Award, BBC documentary Competition.

Erros Djarot kelahiran Rangkasbitung yang pada 1988 menjadi Sutradara Terbaik untuk film Tjoet Nja' Dhien, dan pencipta original soundtrack, Badai Pasti Berlalu serta sutradara Kantata Takwa, merasa kecewa karena pada 2008 film Lastri yang disutradarainya tidak dapat diselesaikannya karena diadaptasi dari buku Suara Perempuan Tragedi '65 karya Ita F. Nadia.

"Banyak kendala yang saya hadapi," ujar Erros Djarot kepada Antara London menjelang pemutaran film pada saat pembuatan 2008. Sejumlah tekanan diterimanya untuk menghentikannya, antara lain dari salah satu ormas keagamaan saat pengambilan gambar di Solo.

Eros mengaku memang tidak pernah ada surat formal untuk memintanya berhenti, tetapi tekanan yang dialaminya membuat dia akhirnya menghentikan produksi film yang baru berjalan 10% itu.

Untuk itu dari pengalamannya Erros Djarot mengakui bahwa membuat film seputar 30 September di Indonesia masih merupakan hal yang tabu dan tidak boleh diungkit-ungkit lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

eros djarot

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top