Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

6 Cara Asyik Ajari Anak tentang Perbedaan

Manusia adalah makhluk sosial. Prinsip dasar tersebut telah diajarkan orangtua kepada anaknya sejak kecil. Namun, tak semua orangtua mampu mendidik buah hatinya menjadi pribadi yang penuh empati, berpikiran terbuka, dan bertoleransi terhadap perbedaan.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 13 Februari 2016  |  20:40 WIB
6 Cara Asyik Ajari Anak tentang Perbedaan
Berdasarkan riset dari organisasi National Crime Prevention Council (NCPC), pengenalan anak terhadap diversitas dapat dilakukan sejak dini melalui berbagai cara yang menyenangkan. - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Manusia adalah makhluk sosial. Prinsip dasar tersebut telah diajarkan orangtua kepada anaknya sejak kecil. Namun, tak semua orangtua mampu mendidik buah hatinya menjadi pribadi yang penuh empati, berpikiran terbuka, dan bertoleransi terhadap perbedaan.

Sejak kecil, keluarga adalah kelompok sosial pertama dan utama yang dikenal oleh anak. Nilai-nilai kehidupan pertama yang dikenal oleh anak sebagian besar bersumber dari apa yang diajarkan orangtua kepadanya.

Namun, tidak seterusnya seorang anak akan hidup di rumah bersama orangtuanya. Ada waktunya anak tumbuh besar dan mengenal media massa, serta bertemu, berhadapan, berinteraksi, dan mengenal kelompok sosial lain; suku, agama, ras, dan golongan lain.

Anak yang sejak dini tidak dididik untuk mengenal keragaman dalam kehidupan sosial yang riil, memiliki kecenderungan memiliki pemikiran sempit, mudah terpancing emosi oleh provokasi isu dari golongan yang tidak sama dengannya, dan kurang toleran pada sesama.

Psikolog Universitas Indonesia Nathanael E.J. Sumampouw berpendapat orangtua harus memahami bagaimana reaksi anak-anaknya tentang sesama manusia yang berbeda latar belakang fisik, budaya, dan sebagainya.

Dia mencontohkan di banyak daerah di Tanah Air, masih sering dijumpai anak-anak yang sengaja mencemooh atau meneriakkan yell-yell kebencian terhadap orang lain dari desa yang berbeda. Itu membuktikan masih banyak yang mengonotasikan ‘berbeda’ sebagai hal negatif.

“Kalau anak-anak melihat perbedaan dari sisi negatifnya, atau bahkan mencela atau menertawakannya, ortu harus memberi penjelasan logis soal diversitas. Katakan bahwa setiap orang memiliki potensi masing-masing tidak peduli apapun latar belakangnya,” ujar Nathan.

Lebih lanjut, dia berpesan agar ortu tidak memperkeruh keadaan dengan memupuk kebencian maupun pandangan negatif terhadap orang lain. Ortu juga tidak boleh menanamkan nilai-nilai yang bias kepada anaknya.

“Sebab, kelak anak-anak ini akan terjun ke tengah masyarakat. Meskipun setiap keluarga memiliki value sendiri-sendiri, perkembangan anak juga akan dipengaruhi lingkungannya. Jadi, sebagai orang dewasa, cobalah mengenalkan keberagaman tanpa meninggalkan nilai-nilai yang telah mengakar di dalam keluarga.”

SEJAK DINI

Berdasarkan riset dari organisasi National Crime Prevention Council (NCPC), pengenalan anak terhadap diversitas dapat dilakukan sejak dini melalui berbagai cara yang menyenangkan.

Pertama, orangtua dapat memperkenalkan anak melalui permainan, buku bacaan, maupun tontonan yang merefleksikan keberagaman. Biasakan anak melihat tayangan yang bersifat edukasi tentang peran antargender, diversitas ras, budaya, dan berbagai gaya hidup keluarga lain.

Kedua, orangtua harus menunjukkan nilai positif keragaman melalui tingkah laku, baik dalam pertemanan maupun relasi dengan sesama yang berbeda latar belakang. Sebab, anak akan meniru apa yang dilakukan ortunya, bukan apa yang dinasihatkan ortunya.

Ketiga, buatlah peraturan di rumah bahwa latar belakang SARA tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak, mengganggu, mendiskriminasi, atau menyakiti sesama. Ajarkan pula anak-anak untuk melindungi makhluk yang lebih lemah.

Keempat, berikanlah ruang pada anak untuk berinteraksi dengan orang lain yang berbeda latar belakang ras, budaya, etnis, dan sebagainya. Biarkan juga anak berinteraksi dengan para penyandang disabilitas.

Sering-seringlah mengajak anak terlibat pada kegiatan sosial di lingkungan tetangga, sekolah, ekstrakurikuler, program akhir pekan, perkemahan, konser, atau acara-acara komunitas lainnya agar si buah hati terbiasa bergumul dengan berbagai perspektif.

Kelima, bersabarlah dalam mendengarkan dan menjawab segala pertanyaan anak mengenai diversitas. Jika perlu, luangkan waktu dengan anak untuk berdiskusi mengenai keragaman dalam kehidupan sosial.

Jika ortu tidak menghiraukan pertanyaan anak, mengalihkan pembicaraan, atau malah memarahi anak yang ingin mengetahui soal keragaman, anak-anak akan berpikir bahwa ‘perbedaan adalah topik yang buruk’ sehingga ‘perbedaan adalah hal yang salah’.

Keenam, ajarkan anak untuk selalu berpikir objektif mengenai isu-isu yang bias dan diskrimiansi. Biarkan anak-anak menyaksikan bagaimana orangtuanya menyikapi perbedaan di lingkungan sosial. (Wike)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

toleransi anak-anak

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (14/2/2016)

Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top