Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Penjelasan Mengapa Pria Perlu Belajar Mengasuh Anak

Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi seluruh pekerjaan mengasuh anak ditumpukan kepada Ibu. Ayah, maupun claon ayah, memiliki peran yang sama penting dalam proses pengasuhan untuk menunjang tumbuh kembang anak.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 14 Januari 2017  |  09:21 WIB
Ini Penjelasan Mengapa Pria Perlu Belajar Mengasuh Anak
Pria turut mengasuh anak - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi seluruh pekerjaan mengasuh anak ditumpukan kepada Ibu. Ayah, maupun calon ayah, memiliki peran yang sama penting dalam proses pengasuhan untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Apalagi, saat ini kebanyakan perempuan semakin menyukai pria yang memiliki sifat kebapakan (family man). Oleh karena itu, kaum Adam yang mampu melakukan tugas-tugasparenting dengan baik dianggap memiliki nilai tambah sebagai kepala keluarga.

Melihat tren tersebut, saat ini semakin banyak laki-laki lajang yang mengikuti kursus parenting. Kemampuan dasar pengasuhan anak mereka jadikan sebagai bekal dalam memikat dan meluluhkan hati para gadis atau calon istri mereka.

Fenomena tersebut salah satunya marak terjadi di Jepang. Di Negeri Sakura, para pria lajang beramai-ramai mengikuti kursus ikumen, yang khusus mengajarkan mereka teknik-teknik dasar pengasuhan anak.

Beberapa kurikulum yang diajarkan antara lain bagaimana memandikan bayi, mengenakan pakaian pada bayi, menggendong, hingga bagaimana memahami prespektif para perempuan dalam mengasuh seorang bayi.

Para pria di Jepang menyadari bahwa para perempuan masa kini semakin terpesona oleh lelaki yang lebih perhatian dalam proses parenting. Jadi, mereka percaya dengan mengikuti kelas pengasuhan khusus calon ayah, kesempatan mereka mencari istri menjadi lebih besar.

Ikumen sendiri berasal dari kata ikuji (mengasuh anak) dan men (kata dalam bahasa Inggris yang artinya ‘para lelaki’). Biasanya, istilah ikumenditujukan pada para suami/ayah yang aktif berperan dalam proses mengasuh anak dalam keluarga.

Para peserta kursus ikumen diminta untuk merasakan sejenak bagaimana menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak. Mereka harus mengenakan ‘jaket kehamilan’ seberat 7 kg untuk merasakan bagaimana menjadi seorang ibu yang mengandung.

Mereka juga diajari cara-cara untuk memperbaiki dan meningkatkan komunikasi dengan calon pasangan hidup,serta mengisi lembar kerja untuk menjabarkan apa saja sifat-sifat lelaki yang cenderung tidak disukai oleh perempuan.

“Saya ingin membuat kemampuan pengasuhan anak khusus pria yang bersertifikasi untuk menunjang kehidupan pernikahan para lelaki ini,” ujar instruktur Ikumen University, Takeshi Akiyama, dikutip dari Reuters.

Lebih lanjut, dia berkata saat ini banyak ‘biro jodoh’ di Jepang yang lebih mengutamakan para pria yang memiliki nilai lebih. Salah satunya adalah seberapa jauh para pria itu sanggup menopang kehidupan pernikahan.

Di Indonesia, kursus mengasuh anak khusus pria memang belum populer seperti di Jepang. Akan tetapi, fenomena perempuan yang lebih menyukai pria kebapakan juga berkembang masif di Tanah Air.

Semakin banyak kaum Hawa yang menyadari tugas mengasuh anak seharusnya dibagi secara adil dengan ayah. Oleh karena itu, para pria lajang yang memiliki sifat kebapakan dan mampu mengasuh anak dipandang memiliki nilai lebih oleh para perempuan.

Menurut dosen psikologi Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro, Supriyanto, peran lelaki sebagai seorang ayah telah mengalami pergeseran di era modern akibat pertumbuhan pesat di bidang sosial, budaya, demografi, ekonomi, dan industri.

“Peran lelaki sabagai ayah saat ini lebih dari sekadar pencari upah dan penyedia. Ayah dapat berperan sebagai pengasuh anak, tinggal di rumah, dan berbagi tanggung jawab dalam perawatan anak,” paparnya.

Fungsi seorang lelaki sebagai ayah di dalam keluarga juga untuk menyediakan afeksi (pengasuhan dan kenyamanan pada anak), mempromosikan kesehatan keluarga, sebagai guru, serta pendorong hubungan yang lebih positif dengan pasangan.

Adapun, faktor-faktor yang dapat memengaruhi keterlibatan pria dalam pengasuhan anak a.l. motivasi, skill dan kepercayaan diri, dukungan, maupun kebijakan atau praktik institusional. “Pada era modern, tidak ada alasan lagi bagi pria untuk tidak terlibat dalam pengasuhan.”

Jadi, jika Anda adalah pria lajang atau tengah mengarah ke kehidupan rumah tangga, tidak ada salahnya mulai membekali diri dengan keterampilan pengasuhan anak mulai dari sekarang. Selain bernilai tambah, siapa tahu kemampuan itu bisa membantu ‘melancarkan jodoh’.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

parenting
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top