Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konsumsi Tempe Dapat Cegah Kanker Payudara

Proses fermentasi kedelai menjadi tempe adalah salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang harus dibanggakan dan dilestarikan. Berdasarkan catatan sejarah, tempe telah dikenal di Indonesia sejak abad ke-16.
Miftahul Khoer
Miftahul Khoer - Bisnis.com 08 April 2017  |  03:32 WIB
Konsumsi Tempe Dapat Cegah Kanker Payudara
Pekerja melakukan pencampuran kedelai, sebagai bahan dasar untuk membuat tempe dan tahu, di Ngoto, Bantul, Yogyakarta, Selasa(24/3/2015). - JIBI/Juli Nugroho
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Proses fermentasi kedelai menjadi tempe adalah salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang harus dibanggakan dan dilestarikan. Berdasarkan catatan sejarah, tempe telah dikenal di Indonesia sejak abad ke-16.

Pakar tempe yang juga guru besar Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor Made Astawan mengatakan tempe terbukti mengandung zat gizi dan non gizi.

"Tempe juga sangat bermanfaat bagi pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan manusia, diantaranya meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah kanker payudara," katanya dalam siaran resmi yang diterima Bisnis.com, Jumat (7/4/2017).

Menurutnya, dalam 100 gram tempe ada kandungan protein sebesar 16 gram yang mampu meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terkena penyakit.
"Sistem imun yang baik mencegah kita terkena penyakit yang menular atau tidak menular. Dalam salah satu riset kami, mengkonsumsi tempe dan olahannya terus-menerus sejak menarche (haid pertama) mampu mencegah terkena kanker payudara," ujarnya.

Di antara berbagai pangan tradisional Indonesia, kata dia, hanya tempe yang telah memiliki bukti ilmiah terbanyak terkait khasiatnya.

Dia mengatakan tempe mengandung komponen fungsional berupa vitamin, mineral, asam lemak tidak jenuh, peptida dan asam amino, serat pangan, prebiotik, probiotik, isoflavon, fitosterol dan lain-lain.

Jumlah pengrajin tempe di Indonesia mencapai lebih dari 100 ribu unit yang tersebar di 18 provinsi dan 177 kabupaten/kota.
Sebagian besar produsen merupakan usaha mikro, kecil dan menengah yang menggunakan rumah sebagai tempat produksinya.

"Saat ini tempe tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di 27 negara lain di dunia," katanya.

Namun proses pembuatan tempe di Indonesia masih banyak yang kurang higienis sehingga tidak sesuai dengan persyaratan mutu nasional dan regional Asia.

"Lebih dari 99 persen pengrajin tempe yang produknya belum memenuhi persyaratan mutu," katanya.

Dia mengingatkan perlu ada pembinaan agar proses produksi tempe dilakukan secara benar sesuai ketentuan Good Manufacturing Practices (GMP).

Sebab, proses produksi tempe secara higienis akan menghasilkan produk sesuai standar sehingga siap berkompetensi di tingkat nasional, regional dan internasional.

Dia menuturkan pihaknya mengusulkan tujuh strategi menciptakan industri tempe antara lain peningkatan produksi kedelai nasional, pemenuhan persyaratan mutu tempe nasional dan internasional, dan perbaikan proses pembuatan tempe di tingkat pengrajin.

Selain itu, penganekaragaman produk olahan tempe berorientasi ekspor, pengkajian ilmiah khasiat tempe untuk kesehatan, peningkatan inovasi dan citra tempe di tingkat internasional serta perbaikan atas mispersepsi terhadap tempe.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tempe
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top