Tausiah di Atas Panggung Musik Rock, Begini Responnya

Mengambil inspirasi dari lagu Slank yang dibawakan di panggung pada tiap konser, Zastrouw menafsirkan dan membedah lirik-lirik lagu tersebut menjadi pesan moral yang sarat makna. Mulai dari ajakan untuk berdoa sebelum memulai kegiatan, pesan anti-korupsi, bersedekah, hingga menebar virus perdamaian di muka bumi.
Andhika Anggoro Wening | 18 September 2017 08:45 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Rangkaian tur Silaturahmi: Merajut Kebangsaan oleh grup band legendaris Slank, budayawan Zastrouw Al Ngatawi dan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas yang digelar di 4 kota telah memasuki babak pamungkasnya di pondok pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur, yang berlokasi di kaki gunung Welirang.

Sebelumnya, band yang digawangi Kaka (vokal), Ridho (gitar), Ivanka (bass), dan Bimbim (drum) ini telah singgah di kota Ciamis (13/09), Brebes (14/09), dan Batang (15/09). Berbeda dengan tur musik pada umumnya, semua rangkaian acara tur digelar di pondok pesantren pada tiap kota.

Tur ini diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari ziarah makam, bakti sosial berupa bazar minyak goreng murah, penyerahan bantuan ke pesantren, dialog budaya dan kebangsaan bersama tokoh dan santri, serta puncaknya yaitu konser atau pertunjukan musik oleh Slank.

Konser yang diselenggarakan ini berbeda dengan konsep konser biasanya, yang menjadikannya istimewa, di tengah-tengah pertunjukan musik disisipkan tausiah oleh Zastrouw Al Ngatawi. Ribuan santri dan penggemar fanatik Slank yang kerap disapa Slankers berbaur dalam alunan musik rock sekaligus menyimak tausiah Zastrouw secara khidmat.

Mengambil inspirasi dari lagu Slank yang dibawakan di panggung pada tiap konser, Zastrouw menafsirkan dan membedah lirik-lirik lagu tersebut menjadi pesan moral yang sarat makna. Mulai dari ajakan untuk berdoa sebelum memulai kegiatan, pesan anti-korupsi, bersedekah, hingga menebar virus perdamaian di muka bumi.

Zastrouw memaparkan bahwa pola seperti ini sudah terjadi di era Wali Songo dan ulama-ulama Nusantara. Pada saat itu yang terkenal adalah wayang, gamelan, dan tembang macapat.

"Dalam konteks kekinian, wayang, gamelan, dan macapat mengalami metamorfosis menjadi musik rock. Ini kita jadikan metode untuk menyampaikan pemikiran serta ajaran tentang keislaman. Dakwah itu intinya adalah untuk memanggil. Dan cara dakwah harus disesuaikan dengan kadar kemampuan pihak yang dipanggil,"

Zastrouw menyinggung bahwa generasi muda saat ini tengah terkepung dari dua penjuru: liberlisme yang berujung hedonisme dan fundamentalisme agama.

"Pihak Slankers sebenarnya butuh bimbingan dan arahan, atau serum yang bisa menahan dari godaan tersebut, akan tetapi dengan dosis dan metode yang tepat,"

Parman, Slanker asal Jember berusia jelang tiga puluh tahun adalah salah satu dari ribuan penonton yang hadir di lokasi konser. Untuk tiba ke pesantren Amanatul Ummah, ia menumpang truk secara estafet. Belum lagi ia harus menempuh sisa perjalanan dari jalan raya menuju ke lokasi pesantren yang cukup terpencil dengan berjalan kaki sekitar 6 kilometer, dengan kondisi jalan berkelak-kelok dan naik turun.

Parman mengaku memperoleh pengalaman berbeda, karena selain disuguhi hiburan musik, ia juga dapat mendengarkan tausiah di atas panggung.

"(Tausiah) ini kan untuk diri kita sendiri juga. Saya sebelumnya belum pernah ke pondok pesantren. Ustadz (Zastrouw Al Ngatawi) tadi mengingatkan kita bahwa kerja biar dapatnya sedikit yang penting halal. Lalu kita juga diingatkan untuk beramal," ujar Parman.

Parman mengaku puas, dan dengan senang hati akan kembali hadir jika Slank menggelar tur keliling pesantren pada kesempatan lain.

Ketika disinggung perihal tausiah lewat musik, Pengurus Yayasan Amanatul Ummah, Gus Bara menyatakan bahwa segala nilai sejatinya dapat ditransfer melalui medium apapun, termasuk dengan musik. Dan ketika ditanya pendapatnya mengenai Slankers yang berbondong-bondong datang ke pesantren untuk menikmati pertunjukan musik, ia mengambil sisi positifnya.

"Slankers ataupun yang lainnya, mereka sama-sama bagian dari bangsa ini. Mereka tetap harus dihormati sebagai anak bangsa ini. Harapan kami dengan datangnya Slankers ke pondok pesantren agar dapat lebih mengenal nilai positif pesantren dan memahami nilai filosofis lagu-lagu Slank, sehingga menjadi titik balik perubahan ke arah yang lebih baik" pungkas Gus Bara.

Tag : slank
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top