Bagaimana Mengenali Gejala Awal Kanker pada Anak

Semestinya, dengan mewaspadai tanda dan gejala yang mudah dikenali, kanker anak dapat ditemukan dalam stadium yang lebih dini sehingga dengan penanganan yang tepat dapat disembuhkan.
Yoseph Pencawan | 23 Februari 2018 08:59 WIB
Ilustrasi kanker - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Orang tua berperan penting dalam mengenali dan mengobati kanker pada anak. Jangan sampai, keterlambatan mengenali kanker pada anak berakibat fatal.

Maklumlah, keterlambatan diagnosis sering terjadi karena anak belum bisa menyampaikan keluhan secara tepat. Kasus kanker anak seringkali ditemukan dalam stadium lanjut.

Semestinya, dengan mewaspadai tanda dan gejala yang mudah dikenali, kanker anak dapat ditemukan dalam stadium yang lebih dini sehingga dengan penanganan yang tepat dapat disembuhkan.

Penting bagi orang tua untuk mengenali gejala-gejala dan jenis-jenis kanker yang bisa menyerang anak, khususnya di Indonesia.

Menurut Abdul Kadir, Direktur Utama Rumah Sakit Dharmais, penyakit kanker adalah suatu kondisi sel telah kehilangan kendali terhadap mekanisme normalnya sehingga mengalami pertumbuhan yang abnormal, cepat, dan tidak terkendali.

Sel-sel kanker tersebut akan terus membelah (multiplikasi) tanpa mengikuti faal (fungsi) tubuh normal. Adapun jenis-jenis kanker anak yang sudah dapat diidentifikasi di Indonesia yakni leukimia, retinoblastoma, neuroblastoma, limofa maligna, osteosarkoma dan karsinoma nasofaring.

Pada leukimia, papar Abdul Kadir, gejala-gejala yang dialami pada anak berupa pucat, demam tanpa sebab yang jelas, pendarahan kulit, nyeri tulang dan lesu. Gejala pada retinoblastoma a.l. juling, manik mata putih, mata merah, kornea mata membesar, peradangan jaringan bola mata serta penglihatan buram.

Pada neuroblastoma, gejala-gejalanya berupa kebiruan sekitar mata dan benjolan di perut. Sementara itu, kanker limofa maligna dapat ditandai dengan benjolan (lebih dari 2 cm) tanpa rasa nyeri dan cepat membesar, sesak nafas, demam serta lemah dan lesu.

Gelaja-gejala kanker osteosarkoma dapat berupa nyeri tulang (malam hari) setelah aktivitas serta pembengkakan, kemerahan dan terasa hangat di lokasi nyeri. Kemudian terjadinya patah tulang setelah aktivitas rutin, bahkan tanpa trauma, serta gerakan terbatas pada bagian yang terkena kanker.

Sementara itu, kanker karsinoma nasofaring yang bergejala ingus campur darah, mimisan dan hidung tersumbat. Kemudian telinga terasa penuh, berdengung serta nyeri pada telinga. Gejala lainnya adalah penglihatan ganda dan pembesaran kelenjer getah bening di leher.

“Seandaniya orang tua curiga anaknya menderita kanker dengan gejala-gejala tersebut, saya mohon dengan cepat dibawa ke rumah sakit, puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya. Jangan menganggap enteng,” kata Abdul Kadir.

Haridini Intan, Dokter Hematologi Onkologi Anak RS Dharmais menambahkan, secara nasional kanker leukimia masih dominan atau 70% dari jumlah total penderita kanker anak.

Di Rumah Sakit Dharmais saat ini ada 270 pasien anak yang menderita leukimia, untuk kasus baru. Jumlah penderita kanker anak meningkat karena tidak terdeteksi sejak awal oleh para orang tua, terutama pada dua jenis kanker, yakni osteosarkoma dan karsinoma nasofaring.

“Penderita kanker osteosarkoma dan karsinoma nasofaring merasa pegal-pegal dan ngilu-ngilu, bisa awalnya seperti itu. Itu sedikit sulit karena dikira cuma patologis biasa, padahal kanker, baru ketahuannya belakangan,” kata Haridini.

Sampai sekarang penyebab kanker pada anak masih dalam tahap penelitian sehingga dokter dan para ahli belum bisa memastikannya.

Namun yang jelas, kata Abdul Kadir, secara umum penyakit kanker ada hubungannya dengan faktor genetis atau faktor keturunan. Berhubungan juga dengan faktor lingkungan, seperti asap rokok, polusi dan radiasi.

Radiasi diasumsikan mempunyai peranan penting dalam terjadinya kanker karena bagian dari faktor lingkungan. Radiasi itu tidak berarti harus dari barang-barang elektronik atau dari sinar radioaktif.

Faktor berikutnya yakni infeksi tertentu pada anak, misalnya infeksi virus dan bakteri yang menyebabkan anak berubah sifatnya menjadi berpenyakit kanker.

Variabel lainnya adalah kebiasaan, pola atau gaya hidup, seperti merokok, makan makanan instan, kurang berolahraga, makanan tidak seimbang, kurang istirahat dan sebagainya.

Meskipun sudah banyak keluar aturan pelarangan, tetapi saat ini jumlah perokok bukannya berkurang, tetapi malah bertambah. Bahkan, sekarang anak-anak kecil pun sudah mulai merokok. Saat ini, kanker sudah menjadi masalah dan di seluruh dunia.

Tag : anak, rumah sakit, kanker
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top