Kemenkes Tak Main-Main Hadapi Kanker Anak, Jumlah SDM Ditambah ke 10 Provinsi

Kementerian Kesehatan disebut kian memberikan perhatian serius terhadap penanganan penyakit kanker anak yang semakin meningkat, salah satunya dengan menambah jumlah tenaga medis di daerah.
Yoseph Pencawan | 27 Februari 2018 19:30 WIB
Anak Sakit - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan disebut kian memberikan perhatian serius terhadap penanganan penyakit kanker anak yang semakin meningkat, salah satunya dengan menambah jumlah tenaga medis di daerah.

Menurut dr. Abdul Kadir, Direktur Utama Rumah Sakit Dharmais, Kementerian Kesehatan telah melakukan peningkatan SDM melalui program Training of Trainer (TOT) penemuan dini kanker pada anak.

"Sepanjang 2017 ada penambahan 30 tenaga medis di 10 daerah di Indonesia," ujarnya, belum lama ini.

Para tenaga medis yang terdiri dari dokter, bidan dan perawat itu a.l. berada di Provinsi Banten, Sumatra Barat, Bengkulu, Yogyakarta, Bali, NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Papua Barat.

Sedangkan pada 2016, jumlah tenaga medis yang sama sudah diadakan di Provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan kalimantan Barat.

Mereka diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam melakukan penanganan dini terhadap jenis-jenis kanker yang sering menyerang anak-anak di Indonesia. Yakni Leukimia, Retinoblastoma, Neuroblastoma, Limfoma Malignum, Osteosarkoma dan Karsinoma Nasofaring.

Kementerian Kesehatan menyebutkan prevalensi kanker anak pada usia 0-14 tahun di Indonesia sudah mencapai 0,5 per mil atau sekitar 16.291 anak, dalam Riskesdas 2013.

Secara umum, besarnya bantuan biaya penanganan kanker yang realisasikan lewat BPJS Kesehatan pun tetap dipertahankan pada angka Rp2 triliun pada 2017, di luar dari Leukimia.

Adapun beban biaya yang sudah dikeluarkan untuk kanker dalam empat tahun terakhir sebesar Rp1,5 triliun (2014), Rp2,2 triliun (2015), Rp2,3 triliun (2016) dan Rp2,1 trilun (2017). Sedangkan khusus untuk Leukimia sebesar Rp126 miliar (2014), Rp175 miliar (2015), Rp183 miliar (2016) dan Rp215 miliar (2017).

Upaya pengengendalian ini, menurutnya, bertujuan menurunkan angka kematian akibat kanker, meningkatkan deteksi dini penemuan dan tindak lanjut dini kanker serta meningkatkan kualitas hidup penderita kanker.

Namun begitu Abdul Kadir juga mengimbau masyarakat untuk aktif terhadap diri sendiri mencegah penyakit berbahaya ini. Seperti dengan melakukan cek kesehatan secara rutin, menghentikan kebiasaan merokok, rajin berolahraga, diet seimbang, istirahat yang cukup serta mengelola stres.

 

 

Tag : kanker
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top