Ruang Publik Sangat Berpotensi Tularkan Tuberkulosis

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar edukasi tentang penyakit turbekulosis (TB) di Stasiun Jakarta Kota sebagai salah satu ruang publik yang memiliki potensi sebagai tempat penyebaran penyakit TB.
Newswire | 21 Maret 2018 14:16 WIB
Tempat publik seperti Stasiun Kereta Api Paledang Bogor sangat berpotensi jadi lokasi penularan tuberkulosis - Bisnis.com/Miftahul Khoer

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar edukasi tentang penyakit turbekulosis (TB) di Stasiun Jakarta Kota sebagai salah satu ruang publik yang memiliki potensi sebagai tempat penyebaran penyakit TB.

"Perlu pemahaman masyarakat untuk memeriksakan diri demi penegakan diagnosis penyakit TB sangat penting karena TB akan menular lewat udara, dan ruang publik seperti ini sangat berpotensi untuk terjadi penularan," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Stasiun Jakarta Kota Jakarta Barat, Rabu (21/3/2018).

Anung mengatakan pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk pencegahan dan pengendalian penyakit TB seperti imunisasi dan untuk menemukan kasus baru.

Dia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat dalam mengetahui tentang apa itu penyakit TB, bagaimana menghindarinya, dan bagaimana pengobatannya.

Anung menyebut Kementerian Kesehatan dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita TB di Indonesia sebanyak 1.020.000 orang. Namun saat ini kasus yang baru ditemukan hanya sekitar 400-500 ribu orang.

Untuk menemukan kasus TB secara tepat tersebut memang memerlukan kesadaran dari masyarakat untuk memeriksakan diri melalui foto rontgen atau pemeriksaan mikroskopik dari dahak seseorang.

Selain itu hal penting lainnya yang perlu dipahami oleh masyarakat ialah tentang pencegahan penularan.

Pencegahan

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa ketika seseorang batuk atau bersin bisa mengeluarkan puluhan ribu kuman, termasuk bisa berpotensi menjadi penularan TB. Oleh karena itu, ruang publik menjadi sangat potensial menjadi penularan TB.

Anung menyarankan penggunaan masker bagi tiap orang yang bepergian atau berada di ruang publik. Namun, apabila tidak menggunakan masker, Anung menegaskan pentingnya etika batuk.

"Apaabila akan batuk disarankan untuk tutup mulut dengan tisu, sapu tangan, atau yang sederhana dengan lengan walau itu juga tidak terlalu kami anjurkan, agar percikan ludah dan komponen bersin tidak tertular ke orang lain," kata Anung.

Selain itu, penderita penyakit TB juga harus berobat secara tuntas selama enam hingga delapan bulan tanpa berhenti agar penyakit tidak resisten terhadap obat.

Gejala dari TB dapat dikenali secara umum oleh masyarakat seperti batuk selama dua minggu atau lebih, keluar keringat dingin setiap saat tanpa sebab yang jelas, demam tidak terlalu tinggi, nafsu makan menurun, berat badan menurun.

Sumber : Antara

Tag : tuberkulosis
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top