Buku "Indonesia and the New World" Dirilis

Sebuah buku yang membahas bagaimana pengalaman Indonesia dalam menghadapi pertentangan antara globalisasi, nasionalisme dan kedaulatan di masa lalu, saat ini dan kedepan, terutama dalam kancah perubahan dunia diluncurkan.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 10 Juli 2018  |  11:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah buku yang membahas bagaimana pengalaman Indonesia dalam menghadapi pertentangan antara globalisasi, nasionalisme dan kedaulatan di masa lalu, saat ini dan kedepan, terutama dalam kancah perubahan dunia diluncurkan.

Buku yang diterbitkanan Insitute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dengan judul Indonesia and the New World: globalization, nationalism and sovereignt ini, merupakan hasil suntingan dari Arianto A. Patunru (ANU), Mari Pangestu (FEBUI) dan M. Chatib Basri (FEBUI).

Buku tersebut memuat sejumlah tulisan dari ahli Indonesia dan internasional yang menganalisa isu-isu ini dari kaca mata ekonomi, sosial, politik, dan keamanan dan pernah dipresentasikan pada saat konferensi tahunan, Indonesia Update yang ke-35 di Australian National University (ANU).

“Berbagai pandangan dalam buku ini dapat melahirkan inspirasi dan memperkaya sudut pandang kita dalam menganalisi masalah dan tantangan Indonesia ke depan, karena itu layak untuk mendapat perhatian baik dari kalangan pemerintah, praktisi dan akademisi,” kata ekonomi senior Mari Elka Pangestu.

Dimensi globalisasi saat ini semakin kompleks dan rumit, seperti pisau bermata dua. Globalisasi meningkatkan akses untuk memperbaiki taraf hidup dan juga meningkatkan kepekaan. Di satu pihak, globalisasi memberi manfaat melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi, kenaikan pendapatan per kapita dan penurunan kemiskinan.

Globalisasi tak terbendung dan bahkan menjadi semacam kebutuhan pokok sehari-hari, antara lain ketika manusia di pelbagai pelosok dunia terhubung secara instan lewat media sosial. Namun di lain pihak, globalisasi juga telah meningkatkan kepekaan suatu negara kepada berbagai guncangan dan dampak negatif globalisasi. Akibatnya sentimen anti-globalisasi meningkat; pemicunya antara lain pengalaman pahit akibat krisis keuangan dunia serta ketimpangan ekonomi yang semakin lebar di depan mata karena keuntungan dari globalisasi tidak merata.

Kompleksitas globalisasi memunculkan pilihan-pilihan politik, yang mengejutkan, seperti terpilihnya Presiden Duterte di Filipina, Trump di Amerika Serikat, dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Manifestasi dari pilihan pilihan tersebut berujung pada kebijakan-kebijakan yang umumnya cenderung lebih bersifat populis dan isolasionis sebagai upaya melindungi diri dari dampak globalisasi dan atas nama kedaulatan.

Dalam beberapa hal, fenomena ini juga terasa di Indonesia. Berbagai kebijakan serta diskursus publik diwarnai oleh semangat anti-globalisme. Dalam hal ekonomi, proteksionisme dan nasionalisme kembali meningkat dan penolakan atas ‘pengaruh asing’ dimanifestasikan ke dalam kebijakan seperti pelarangan impor atas nama swasembada, dan restriksi di bidang investasi. Respon “melindungi” seperti ini tidak dapat disalahkan, karena memang ada sisi gelap dari globalisasi seperti kepekaan terhadap guncangan ekonomi, perdagangan manusia, penistaan pekerja migran, fake news, dan sebagainya.

“Namun seyogyanya berbagai pengalaman itu mengharuskan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam merespon globalisasi agar mendukung desain kebijakan yang lebih tepat untuk menjawab isu yang muncul. Pencapaian swasembada pangan misalnya, tidak harus diartikan melarang impor sama sekali. Artinya, pendekatan untuk menencukupi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang terjangkau, termasuk dengan pengelolaan impor agar stok dalam negeri cukup dan harga stabil juga perlu ditekankan. Swasembada sebagai target juga perlu dibarengi peningkatkan produktivitas dan produksi dalam negeri sehingga mengurangi kepekaan terhadap guncangan eksternal, seperti kenaikkan harga pangan yang dialami di 2008,” kata Mari

Buku ini berisi pandangan beberapa peneliti terkemuka yang membahas berbagai isu penting seputar globalisasi, nasionalisme dan kedaulatan di Indonesia. Tulisan dalam buku ini mencakup sejarah keterlibatan Indonesia dengan dunia internasional, posisi Indonesia dalam konflik Laut Cina Selatan, serta merebaknya kembali nasionalisme di bidang ekonomi dan keamanan.

Secara ringkas, dibagian pertama buku ini dibahas pengalaman Indonesia dengan globalisasi nasionalisme dan kedaulatan. Di bidang ekonomi, keterbukaan ekonomi Indonesia terhadap perdagangan dan investasi pasang surut dalam perjalanan sejarah Indonesia dan memerlukan pemahaman akar ekonomi, sosial dan budaya.

Sejak 1970-an, keterbukaan seringkali meningkat saat perlambatan atau krisis ekonomi karena adanya kepentingan untuk menarik investasi, mendorong pertumbuhan perdagangan dan ekonomi. Kecendrungan peningkatan proteksionisme saat ini dengan manifestasi terutama peningkatan restriksi impor melalui instrumen non tariff, terpengaruh oleh keadaan politik dan ekonomi dalam negeri, maupun kecendrungan yang sama yang terjadi secara global.

Walaupun analisa kebijakan populis dan proteksionis menunjukkan bahwa tidak tepat untuk menjawab masalah yang dihadapi, namun karena isu nasionalisme juga berwarna politis (kasus Amerika) dan popular, atau karena manfaat dari globalisasi tidak merata dan lama untuk dirasakan, sedangkan dampak negatif terkonsentrasi dan lebih cepat dirasakan, pendekatan seperti ini menjadi lebih menarik.

Buku ini juga membahas dampak globalisasi terhadap kemiskinanan dan ketimpangan, nasib buruh dan serta kesejahteraan masyarakat pada umumnya, terutama kaum perempuan. “Buku ini cukup komprehensif dalam mengupas berbagai pengalaman menghadapi globalisasi,” kata Mari Pangestu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buku

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top