Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soft Skill dan Promosi Karier

Ketika Steve Jobs terdepak keluar dari Apple yang dibangunnya, semua orang di kantornya tidak terlalu kaget. John Scully, yang direkrut Steve Jobs, ternyata berhasil meyakinkan pemegang saham bahwa arogansi dan gaya Steve Jobs membawa Apple ke pintu kehancuran.
Soft Skill dan Promosi Karier
Anthony Dio Martin - Istimewa
Bagikan

Ketika Steve Jobs terdepak keluar dari Apple yang dibangunnya, semua orang di kantornya tidak terlalu kaget. John Scully, yang direkrut Steve Jobs, ternyata berhasil meyakinkan pemegang saham bahwa arogansi dan gaya Steve Jobs membawa Apple ke pintu kehancuran.

Trik John Scully berhasil dan Steve Jobs pun dipaksa keluar. Untungnya, Steve Jobs akhirnya punya kesempatan kedua. Steve Jobs yang kedua kalinya sudah merupakan pribadi dengan karakter yang lebih baik. Steve Jobs telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Dia memang jenius tetapi emosinya yang meledak-ledak serta kebiasaan melabrak sana sini perlu dipoles.

Sampai meninggalnya pada 2011, Jobs telah menjadi pribadi yang lebih seimbang. Pintar tetapi dengan sifat-sifat kepemimpinan yang lebih matang.

Tidak semua orang punya kesempatan kedua. Nyatanya, ada juga pemimpin seperti Henry Ford II yang sangat paham menyangkut hal-hal teknis. Hanya saja, karakternya membuat dia tergolong dibenci.

Bahkan, Lee Iacocca, bekas salah satu leader-nya, begitu membencinya sampai bersumpah untuk mengalahkannya.

Begitulah, dua kisah business leader dunia ini mengajarkan kepada kita, bagaimana kepintaran teknis saja, kalau tidak dibarengi dengan soft skills, bisa berbahaya bagi masa depan bisnis.

Bahkan, ada suatu riset menarik yang dilakukan pada 2017 oleh Universitas Lausanne. Dalam hasil riset yang dipublikasikan di Journal of Applied Psychology, diungkapkan bahwa terlalu pintarnya seorang pemimpin, ternyata tidak membuat mereka menjadi pimpinan yang paling efektif. Riset terhadap 379 pemimpin menengah di Eropa justru membuktikan bahwa kepintaran seorang pemimpin bisa jadi bumerang bagi organisasi.

Sering Disepelekan

Bicara soal keterampilan, khususnya dalam kerja memang ada dua kategori penting. Ada yang namanya soft skills. Terjemahannya jadi aneh, keterampilan lunak. Hard skills atau keterampilan keras. Pada umumnya, yang kita kenal adalah hard skills. Inilah ketrampilan yang nyata, kelihatan, serta terukur. Misalnya, keterampilan mengetik atau mengoperasikan mesin.

Sebaliknya, soft skills adalah keterampilan yang tidak berwujud dan kadangkala sulit diukur.

Menurut Association of Talent Development (ATD), ada lima kategori penting dari soft skills ini, pertama,

people skills (kemampuan Anda berinteraksi dengan orang lain secara individual). Kedua, social skills (cara berhubungan dengan orang-orang dalam kelompok di sekitar Anda). Ketiga, communication skills (kemampuan menyampaikan pesan serta memproses pesan).

Keempat, character traits (perilaku dan sikap Anda yang membentuk kepribadian). Kelima,

attitudes (sikap Anda terhadap seseorang atau sesuatu yang tercermin dari tingkah laku).

Adapun, hard skills mencakup semua keterampilan yang bersifat teknis. Sayangnya, bagi banyak instansi

dan lembaga, keterampilan hard skills itu yang harus lebih diutamakan. Sebaliknya, soft skills sering dipandang sebelah mata.

Seorang trainer di Kendari mengeluh dan berkisah soal masalahnya. “Saat ini, saya sering kesulitan menyakinkan para pemimpin soal pentingnya soft skills. Padahal, setelah melakukan analisa, interview serta focus group discussion) dengan pelanggan, jelas-jelas masalah mereka ada di soft skills.”

Pengakuan seorang pemimpin perusahaan di Kalimantan Barat mungkin bisa mewakili banyak keyakinan business leader. “Buat saya hard skills yang penting. Itu yang penting

supaya mereka bisa kerja. Yang namanya soft skills, suruh mereka baca saja.”

Kenyataannya, karena atasannya tidak percaya soal soft skills maka minat baca soft skills pun menjadi sangat rendah.

Padahal, kalau saja para business leader itu sadar, untuk masa depan, soft skills itulah yang

akan banyak membantu mereka. Apa alasannya?

Ada tiga alasan penting soft skills, pertama, soft skills membuat kita punya keunggulan kompetitif.

Intinya, hard skills hanya membuat kita memenuhi standard tetapi soft skills yang

membuat kita menjadi extra ordinary. Sebagai contoh, hard skills seorang sekretaris adalah

filling, organizing event, handling schedule ataupun merespons atas nama atasannya. Jika

bicara kemampuan hard skills ini, maka ini menjadi persyaratan. Jadi, semua sekretaris lulusan

sekolah sekretaris, pastinya mampu ataupun dituntut bisa keterampilan ini. Lantas, mana yang punya kemampuan kompetitif. Soft skills!

Akhirnya, sekretaris yang dipilih dan terus dipertahankan oleh bossnya adalah yang proaktif,

yang mengantisipasi kebutuhan atasannya, yang bisa membaca mood atasannya. Nah,bukankah semua hal yang saya sebutkan belakangan ini merupakan soft skills?

Kedua, hard skills tidak akan terlalu berguna tanpa dibarengi oleh soft skills.

Sebagai ilustrasi sederhana, hal ini bisa kita lihat dari dunia penjulan. Nyatanya, kita sering bertemu penjual yang sangat kompeten untuk melakukan persuasi. Mereka memiliki teknik membuat closing sales yang meyakinkan pembelinya untuk segera membeli. Sebaliknya, terkadang kalau menyangkut servis, mereka sering banyak mengobral janji, dan tidak mampu menjaga hubungan dengan pelanggannya untuk jangka panjang. Gaya komunikasi para penjual ini menjadi terlalu agresif. Mereka mengggunakan taktik penjulan yang sangat bagus tetapi kurang dalam sisi empati dan memahami kebutuhan sesungguhnya. Akibatnya, para sales ini mungkin bisa mendapatkan sales di awal-awal tetapi untuk jangka panjang mereka

kesulitan menjaga customer mereka. Itulah, salah satu contoh mengapa suatu hard skills perlu dibarengi dengan soft skills.

Ketiga, justru soft skills lah yang akan semakin dibutuhkan. Adanya otomatisasi dan munculnya teknologi

artificial intelligence akan membuat banyak pekerjaan hard skills yang mulai digantikan mesin dan robot.

Bagaimana dengan soft skills? Di situlah nilai keuntungan ras manusia, yang mungkin masih sulit tergantikan.

Pada masa depan masih dibutuhkan manusia untuk bisa membaca perasaan orang, mengunakan kalimat yang menunjukkan empati terhadap situasi dan kondisi seseorang yang beragam. Meskipun saat ini banyak diciptakan robot yang mencoba melakukan pekerjaan seperti ini tetapi masih jauh dari sempurna.

Salah satu alasan yang membuat soft skills semakin dibutuhkan juga karena soft tidaklah gampang dibentuk. Sebaliknya, hard skills umumnya lebih mudah dilatihan dan dipelajari.

“Hard skills membuat kita diterima tetapi soft skills yang membuat kita dipromosikan!”

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karier
Editor : Bambang Supriyanto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top