Kasus 'Baby Smoker', Kesalahan Semua Pihak

Kasus Baby Smoker, Semua Pihak Punya Porsi Kesalahan
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 21 Agustus 2018  |  13:36 WIB
Kasus 'Baby Smoker', Kesalahan Semua Pihak
Seorang pria memegang kemasan rokok di Paris (25/9/2014) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Belakangan tersiar berita di media nasional maupun internasional tentang kasus baby smoker di Indonesia. Peningkatan angka konsumsi rokok pada anak di Indonesia memang menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan.

Data Tobacco Control Support Center, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC IAKMI) 2014 bertajuk “Fakta Tembakau” menunjukkan bahwa pada 1995, sebanyak 9,6% penduduk usia 5—14 tahun mulai mencoba merokok.

Sementara pada 2001, angka tersebut naik menjadi 9,9%, bahkan kemudian melonjak menjadi 19,2% pada 2010.

“Sungguh ironis di saat Kementerian Kesehatan menggalakkan GERMAS (Gerakan Masyarakat untuk Hidup Sehat) kejadian baby smoker masih terus ada, bukan terjadi pada anak SD atau TK, tapi pada batita yang bahkan baru berusia 2 tahun,” ujar Ketua TCSC IAKMI Sumarjati Arjoso dalam acara konferensi pers “Baby Smoker” di Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Sumarjati berpendapat bahwa kasus baby smoker merupakan kesalahan dari semua pihak. Dimulai dari perokok yang membuang rokok sembarangan, pembiaran orang tua, lingkungan terdekat anak yang merokok, penjualan rokok tanpa pembatasan, hingga iklan rokok yang masif.

“Untuk itu, pemerintah perlu segera membuat aturan yang tegas guna menghambat munculnya baby smoker baru,” tegasnya.

Senada, Wakil Ketua Komisis Perlindungan Anak (KPAI) Rita Pranawati menuturkan bahwa peran negara dalam melindungi anak dari racun adiktif rokok sangat diperlukan. Bukan hanya pemerintah, melainkan juga masyarakat luas dan keterlibatan semua pihak.

“Inilah satu-satunya cara menghambat munculnya bayi-bayi perokok baru,” tuturnya.

Rita menerangkan tentang pentingnya mengetahui dampak rokok secara luas. Menurut hematnya, rokok tidak hanya berbicara tentang individual, tetapi lingkup lingkungan yang luas, terlebih seluruh bangsa Indonesia.

“Dalam kerangka yang lebih besar, yang rugi sebenarnya negara, kaitannya dengan kesehatan. Jika dampak kesehatan individual terganggu, kesehatan keluarga terganggu, kesehatan komunitas juga terganggu, maka kesehatan negara juga terganggu,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perokok

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top