Bikin Bangga, Indonesia di Panggung Vienna Fashion Week

Dua desainer Tanah Air, Handy Hartono dan Runi Palar, memukau pecinta mode di Wina, Austria saat menampilkan karya terbaiknya pada perhelatan MQ Vienna Fashion Week di Museums Quartier.
Andhina Wulandari | 22 September 2018 01:08 WIB

Dua desainer Tanah Air, Handy Hartono dan Runi Palar, memukau pecinta mode di Wina, Austria saat menampilkan karya terbaiknya pada perhelatan MQ Vienna Fashion Week di Museums Quartier.

Di kota musik klasik tersebut Handy Hartono, dengan membawa tema “Colours of Indonesia”, menampilkan koleksi dengan perpaduan kain tenun Sumba, songket Palembang, batik Pekalongan, dan lurik. Handy, yang sudah ketiga kalinya tampil di Vienna Fashion Week, kali ini memberikan koleksi yang sedikit berbeda dengan permainan teknik embroidery dan pemakaian payet yang mewah.

“Saya tetap ingin menampilkan busana siap pakai yang bisa digunakan berbagai suasana, apakah itu busana sehari-hari yang santai maupun gaun cocktail yang mewah,” ujar Handy saat ditemui usai peragaan busana, pertengahan September.

Potongan-potongan dress yang dirancang Handy memang terkesan simpel dengan potongan lurus. Meski begitu, permainan motif yang menarik dari kain-kain tradisional Indonesia terbukti berhasil membuat koleksi tersebut terkesan lebih cantik, feminin, dan tentu saja stylish.

Untuk kesan mewah, Handy menambahkan kain shantung silk yang mengilap dalam perpaduan warna-warna emas, ungu, dan merah marun. Busana cocktail yang ditawarkan Handy bukan sekadar gaun berpotongan lurus, karena ada pula gaun panjang dengan potongan melebar di bawah, padanan celana panjang dan blus dengan tangan berbentuk lonceng, maupun blus tanpa lengan menggunakan kain tenun.

Desainer lainnya yang berpartisipasi dalam perhelatan ini adalah Runi Palar yang membawa label aksesori Runa Jewelry. Runi, sebagai pionir dalam perhiasan perak di Indonesia, mengaku ini merupakan pertama kalinya dia membawa koleksinya ke Kota Wina.

Setelah melalui proses kurasi yang ketat, Runi membawa beragam koleksi aksesori perak yang tak hanya menawarkan unsur tradisional, tapi juga memberikan kesan modern yang kuat.

“Saya kagum dengan proses kurasi yang ketat di sini. Saya pun merasa tertantang, karena diminta untuk merancang koleksi yang bergaya lebih modern dan kontemporer, meski biasanya saya mendesain dengan gaya etnik yang kuat,” jelas Runi yang memulai brand Runa Jewelry sejak 1976 itu.

Saat ditanya tentang sumber inspirasi, Runi mengaku kekayaan alamlah yang menjadi sumber inspirasi utamanya. Bentuk dahan, batu-batuan, dan daun diubahnya menjadi koleksi perhiasan yang indah. Koleksi perhiasan high-end dengan menggunakan bahan perak berkualitas tinggi tersebut juga digabungkan dengan penggunaan batu mulia dan mutiara.

PROMOSI INDONESIA

Peragaan busana kelas dunia seperti ini, tentu saja merupakan wadah yang tepat untuk mempromosikan Indonesia. Bukan hanya mempromosikan kreativitas yang dimiliki bangsa Indonesia, namun juga kekayaan budayanya.

Itulah mengapa KBRI Wina secara khusus mendatangkan desainer asal Indonesia tiap tahunnya untuk berpartisipasi di MQ Vienna Fashion Week (MQVFW). Acara pagelaran fesyen berskala internasional yang diselenggarakan setiap tahun di Kota Wina oleh Creative Headz itu juga didukung oleh Kamar Dagang Austria (Wirstschaftskammer Österreich). Tak hanya menampilkan desainer kenamaan Austria, tapi juga desainer asal Jerman, Slovakia, dan beberapa negara Eropa lainnya.

“Partisipasi Indonesia pada MQ Vienna Fashion Week 2018 merupakan salah satu bentuk promosi yang memiliki makna sarat, mengingat Indonesia merupakan negara yang memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang sangat autentik. Kita ingin menyampaikan hal ini kepada masyarakat internasional pada umumnya dan masyarakat Austria pada khususnya melalui partisipasi Indonesia pada MQVFW 2018,” ujar Duta Besar RI di Wina Darmansjah Djumala.

Selain itu, Djumala juga mengatakan partisipasi para desainer Indonesia di MQVFW merupakan peluang besar untuk menembus pasar Eropa. Ciri khas karya-karya desainer Indonesia yang kental dengan elemen seni dan budaya, menurut Djumala, diyakini akan mampu menjadi daya pikat tersendiri di tengah-tengah karya desainer Eropa lainnya, khususnya dari Austria, yang cenderung sangat kontemporer.

Peragaan busana dari Indonesia ini pun mendapat apresiasi dari pegiat mode Austria. Direktur sekolah mode Kunst Mode Design Herbststrasse, Gabriele Sulzgruber-Schartl, mengaku sangat kagum dengan keindahan kain-kain tradisional Indonesia.

It was an amazing show. Saya jadi ingin mempelajari tentang pembuatan kain tenun dan teknik embroidery tersebut sangat mengagumkan,” ujar Gabriele usai menonton peragaan busana dari Indonesia di MQVFW tersebut.

Di samping peragaan busana, agenda kegiatan MQVFW juga meliputi pameran produk-produk industri mode dan business to business meeting. Rata-rata setiap tahunnya, event tersebut menarik sekitar 10.000 pengunjung dan diliput oleh lebih dari 20 media massa.

Foto: Andhina Wulandari & KBRI Wina

Tag : fashion, fashion show
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top