Kurator: Menikmati Seni Harus Senyap, Selfie Bikin Gaduh

“Menonton karya seni itu sifatnya sakral, seperti menghadapi benda yang kita seriusi, perlu diam dan tenang. Itu untuk belajar memahami karya ataupun objek yang kita amati.”
Eva Rianti | 23 Oktober 2018 18:42 WIB
Seorang pengunjung tengah selfie di Ryazan Art Museum, Rusia - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – “Menonton karya seni itu sifatnya sakral, seperti menghadapi benda yang kita seriusi, perlu diam dan tenang. Itu untuk belajar memahami karya ataupun objek yang kita amati.”

Begitulah yang diungkapkan oleh Kurator Mikke Susanto. Menurutnya, karya seni sesungguhnya adalah benda yang berharga sehingga harus dilindungi dari sentuhan, goyangan, kotoran, atau hal-hal lain yang merusak kemurniannya.

“Ketika melihat lukisan, saya sedang berada di wilayah ritual antara saya dengan lukisan. Dalam pikiran saya macam-macam, ada pengalaman, memori, dan pengetahuan. Sifatnya ritual, antara otak dan karya ada ruang virtual,” ujarnya kepada Bisnis.

Menurutnya, orang yang sudah advance ingin mendapatkan pengalaman estetika di museum sama dengan ketika menghadap Tuhan.

Oleh sebab itulah, menurutnya, kadangkala para pengunjung yang sibuk ber-selfie di museum bisa mengganggu konsentrasi bagi para pengunjung lain yang tengah menikmati karya seni.

Kendati demikian, tentang fenomena selfie yang tak luput ditemui di berbagai museum, Mikke menilai bahwa sebenarnya ada manfaat berfoto di museum.  

Dengan berfoto atau selfie di museum dan dibagikan di media, akan lebih tinggi tingkat publikasi terhadap karya-karya seni di museum. Dengan tingginya tingkat publikasi, maka akan semakin banyak pula jumlah pengunjung yang datang.

“Kalau dilihat dari kacamata evaluasi event, kunjungan itu menjadi hal penting. Penguatan di media apapun, media massa, konvensional maupun online, atau media sosial memberi tambahan nilai,” ujarnya.

Dari pendapatnya tersebut, Mikke memberi masukan perlunya peningkatan pengawasan dari pihak museum. Pengurus museum harus bisa menambahkan tenaga untuk pengawasan di ruang pameran dengan menguatkan aturan-aturan khusus jika diperbolehkan mengambil gambar.

“Paling penting setelah penambahan sumber daya pengawasan adalah komunikasi ataupun memberi apresiasi tambahan kepada pengunjung. Pengunjung diberi panduan agar tidak sembarangan. Ini kewajiban di ruang pamer, bukan hanya yang mau selfie, tetapi juga apresiasi karya seni,” katanya.

Para pengawas museum ini memiliki kewajiban memberi pemahaman kepada pengunjung bahwa karya-karya seni di museum bukanlah benda yang dipamerkan sebagai arena wisata tetapi sebagai arena belajar.

“Persoalan melek seni di Indonesia terbilang masih kurang. Jadi saya curiga negeri yang banyak orang selfie, yang pengen foto bareng karya, bukan soal isinya apa, namun lebih kepopuleran objek yang dipamerkan,” jelasnya. 

Mikke menambahkan bahwa museum juga tidak bisa menggantungkan publikasi kepada pengunjung yang melakukan selfie. Pasalnya, memperbolehkan orang selfie bukanlah bagian dari pranata penting dalam manajemen pengelolaan seni. Justru yang lebih penting adalah melakukan upaya promosi karya seni.

Tag : museum, Selfie
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top