Pentingnya Sensitif Terhadap Pasangan

Psikolog Tika Bisono menuturkan bahwa orang-orang yang tertutup atau bahkan anti sosial cenderung memiliki norma pribadi yang belum tentu sehat.
Eva Rianti | 27 Oktober 2018 08:17 WIB
Ilustrasi keluarga dan anak. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Hidup berumah tangga memang tidak selalu mulus. Ada kalanya masalah-masalah silih berganti menghampiri.

Oleh karena itu, diperlukan sensitivitas yang baik dari setiap pasangan untuk bisa mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya.

Sensitivitas ini akan sangat membantu meredakan kondisi keluarga. Namun, tidak sedikit keluarga yang kurang sensitif terhadap pasangan karena memiliki kepribadian yang tertutup.

Psikolog Tika Bisono menuturkan bahwa orang-orang yang tertutup atau bahkan anti sosial cenderung memiliki norma pribadi yang belum tentu sehat. Mereka cenderung sosiopatik, yakni memiliki tingkah laku yang berbeda dan menyimpang dari kebiasaan dan norma umum.

“Orang yang sudah sosiopatik bisa enggak kelihatan, bahkan pasangan sendiri bisa enggak tahu. Ini yang harus diwaspadai,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (26/10/2018).

Tika menjelaskan bahwa gejala kondisi tersebut akan kelihatan jika orang di sekitarnya sensitif. Misalnya, jika seseorang tengah menghadapi masalah akan melakukan kebiasaan tertentu, apakah dengan membanting barang, menyakiti diri sendiri, atau melakukan kegiatan yang tidak lazim.

“Kalau sudah seperti itu harusnya disikapi, langsung diajak ngobrol. Harus disikapi dan ditindaklanjuti. Orang ini kan belum tentu komunikatif, apalagi untuk inisiatif ke psikolog,” terangnya.  

Jika tidak diajak bicara dan dirangkul, maka persoalan tentu akan berhenti pada dirinya saja. Ketika hal ini terjadi, masalah akan terakumulasi dan menggunung hingga menjadi “bom atom”.

“Ini namanya histeria, situasi yang enggak tahu ujung pangkalnya, terus meledak,” lanjut Tika.

Oleh karena itu, sambungnya, tidak baik menggampangkan persoalan sehari-hari yang ada di dalam rumah tangga dan pentingnya sensitif terhadap perilaku pasangan sehari-hari. 

Tag : psikologi, keluarga
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top