Sutopo: Waspadai Gejala Kanker Paru

Memperingati Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia pada November. Sutopo ikut memberikan informasi gejala yang patut diwaspadai sebagai gejala kanker paru. Apa saja yang penting Anda ketahui tentang itu?
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 02 November 2018 12:06 WIB
Ilustrasi kanker paru - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Bulan November diperingati sebagai Bulan Peduli Kanker Paru Sedunia. Apa saja yang penting Anda ketahui tentang kanker paru?

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan ada beberapa gejala yang perlu diperhatikan dari kanker paru. Misalnya: batuk berkepanjangan dan bertambah parah, nafsu makan menurun, sakit kepala, sesak napas dan nyeri di dada, suara serak, berat badan menurun, merasa kelelahan tanpa sebab, dan lain sebagainya.

Sutopo yang juga menjadi penyintas kanker paru stadium 4B ini menyebut dalam akun twitternya, @Sutopo_PN pada Jumat (2/11/2018), bahwa kanker paru lebih banyak menyerang laki-laki.

Penyebab kanker paru antara lain: asap rokok, karena ada sekitar 4000 zat kimia berbahaya dalam asap rokok. Selain itu juga polusi udara, asap knalpot kendaraan, pencemaran dari pabrik dan lainnya.

Sejumlah deteksi dini yang perlu dilakukan adalah; rontgen, pemeriksaan dahak, dan biopsi.

Divonis Kanker Paru

Dikutip dari Youtube Najwa Shihab, Sutopo berujar bahwa dia pertama kali divonis menderita kanker paru pada Januari 2018.

Tanda-tanda awal batuk dia alami saat menangani bencana Gunung Agung pada November 2017. Padahal, dalam keseharian, Sutopo bukan pecandu rokok.

Sutopo menyebut, reaksi awal penyakit ini adalah ketika dia mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh.

"Awalnya saya hanya batuk-batuk kecil, kadang saya minum obat-obat yang dijual bebas itu sembuh, tapi muncul-muncul lagi," ujarnya.

Vonis awal dari dokter bahwa Sutopo menderia kanker paru stadium 4B sempat membuat dia tak percaya. Bersama istri, Sutopo pergi ke Malaysia untuk mencari diagnosis kedua dan pembuktian.

Ternyata, berdasarkan hasil pemeriksaan rumah sakit di Malaysia, hasilnya sama. Kanker paru yang diderita Sutopo sudah menyebar sampai ke kelenjar getah bening dan tulang.

Semangat untuk Sembuh

Sutopo mengatakan sangat bersyukur karena ada jutaan masyarakat mendoakan dia untuk lekas sembuh. Hal ini membangkitkan semangat Sutopo dalam melakukan pengobatan dan untuk sembuh. 

"Insya Allah sembuh, mudah-mudahan satu dari jutaan itu ada yang diijabah doanya. Lagi pula, hidup itu bukan ditentukan bukan dari panjang pendeknya umur, tapi seberapa besar manfaatnya untuk orang banyak," kata Sutopo.

Meskipun begitu, dia mengatakan apapun yang terjadi di masa depan, dia sudah siap jika harus dipanggil ke hadirat Tuhan YME.

"Saya katakan kepada keluarga, saya sudah siap, kapanpun, dalam keadaan apapun," jelasnya.

Dikutip dari data World Health Organization (WHO), Cancer Country Profles 2014 setiap tahunnya muncul 25 ribu angka kanker paru baru, dan lebih dari 25 ribu orang meninggal per tahunnya di Indonesia akibat kanker paru.

WHO juga mencatat polusi udara memang memberi dampak yang sangat besar terhadap kesehatan. Polusi udara juga bisa berimbang besar terhadap anak-anak kecil termasuk anak di dalam kandungan. Pasalnya, seorang anak yang sepanjang hidupnya menghirup udara kotor bisa terserang penyakit paru-paru, termasuk kanker paru sekalipun dia tidak merokok.

WHO memperkirakan pada 2016, ada sekitar 543.000 anak dibawah 5 tahun meninggal karena penyakit pernafasan. Ada pun 52.000 anak usia 5-15 tahun meninggal karena polusi udara.

Tag : kanker
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top