Benarkah Pemanis Buatan Bantu Turunkan Berat Badan?

Tetapi, apakah semua pemanis buatan yang diklaim rendah kalori benar-benar dapat menurunkan berat badan? Banyak sekali pemanis buatan pengganti gula beredar di pasaran yang telah terbukti dapat menambah manis lebih dari pada gula.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 07 Januari 2019  |  11:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Biasanya orang yang berupaya untuk menurunkan berat badan akan mencari cara terbaik untuk mengurangi kalori dalam asupan makanannya. Salah satu tren yang terkenal adalah menggunakan pemanis tanpa kalori sebagai pengganti gula atau dikenal dengan artificial sugar.

Tetapi, apakah semua pemanis buatan yang diklaim rendah kalori benar-benar dapat menurunkan berat badan? Banyak sekali pemanis buatan pengganti gula beredar di pasaran yang telah terbukti dapat menambah manis lebih dari pada gula.

Direktur Global Obesity Prevention Center di Johns Hopkins University, Bruce Y. Lee, mengatakan bahwa pelaku diet harus memperhatikan keamanan pemanis buatan walaupun sudah diklaim aman. “Sebaiknya berhati-hati pada pemanis buatan karena belum memiliki studi jangka panjang mengenai risiko kesehatan, “ katanya seperti dilaporkan verywell.com.

Selain itu, pemanis buatan ternyata tidak selamanya dapat mendukung diet Anda untuk menurunkan berat badan. Sebaliknya, pemanis buatan tersebut justru memambah berat badan. Para ahli percaya bahwa yang namanya pemanis (baik rendah kalori maupun tinggi kalori) dapat menimbulkan perasaan lapar sehingga ingin mengonsumsi makanan lebih banyak.

Pemanis buatan yang lebih manis dari pada gula membuat otak manusia mendambakan makanan lain yang lebih manis. Selain itu, karena pemanis buatan rendah kalori, sinyal otak menangkapnya sebagai tanda bahwa tubuh masih membutuhkan makanan.

Misalnya ketika Anda makan kue dengan pemanis buatan, Anda akan tergoda untuk mengonsumsinya lebih banyak karena berpikir kandungannya tidak akan merusak program diet Anda.

“Sebenarnya yang paling ideal adalah tidak mengonsumsi gula maupun pemanis sama sekali, tetapi memang tidak semua orang bisa melakukan ini,” kata Lee. Dia mengatakan boleh-boleh saja menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula sebagai bagian dari transisi.

Setelah itu, pelan-pelan gula atau pengganti gula dapat dikurangi dengan cara-cara tertentu. Salah satunya adalah dengan belajar makan lebih lambat dan pelan. Makan dengan lambat akan menolong perut dan otak merespons makanan yang baru saja dikonsumsi. Makan lambat juga dapat membatasi asupan makanan yang dikonsumsi.

Pilihlah makanan-makanan yang sehat untuk memuaskan selera Anda terhadap makanan manis, misalnya alpukat atau salad. Intinya, pelan-pelan tapi pasti Anda sebaiknya mengurangi konsumsi gula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diet, Pemanis Buatan

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top