Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bagi Orang Jepang, Makan Sebelum Tidur Masih Aman Terhadap Kadar Gula Darah

Sebuah studi terbaru dari Jepang mencoba menguji korelasi antara makan sebelum tidur dan risiko naiknya kadar gula darah serta gangguan kesehatan.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  17:06 WIB
Ilustrasi - Pxlfitness
Ilustrasi - Pxlfitness

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi terbaru dari Jepang mencoba menguji korelasi antara makan sebelum tidur dan risiko naiknya kadar gula darah serta gangguan kesehatan.

Sebelumnya, beberapa ahli mengatakan tidak makan 2 jam sebelum tidur dapat membantu mencegah kadar gula darah tinggi (glukosa) dan masalah kesehatan terkait, seperti diabetes dan penyakit jantung. Tetapi tidak ada bukti yang jelas untuk mendukung teori ini.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ Nutrition, Prevention & Health, dikutip dari WebMd, Kamis (24/1/2019) para peneliti menganalisis data kesehatan lebih dari 1.550 orang dewasa di Jepang selama 3 tahun. Dua pertiga responden berusia lebih dari 65 tahun dan 16% pria dan 7,5% wanita terbiasa tertidur dalam waktu 2 jam setelah makan malam.

Selama 3 tahun, tidak ada perubahan signifikan dalam kadar HbA1c (kadar gula darah rata-rata) peserta. Data menunjukkan, HbA1c rata-rata adalah 5,2% pada tahun pertama dan 5,58% pada tahun kedua, dan ketiga dalam kisaran normal. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita.

Para peneliti menemukan bahwa berat badan, tekanan darah, lemak darah (trigliserida), tingkat aktivitas fisik, merokok, dan minum justru lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan kadar HbA1c dibandingkan jangka waktu antara makan dan tidur.

Karena ini adalah penelitian observasional, peneliti tidak dapat menentukan penyebabnya. Mereka juga tidak tahu waktu yang tepat atau jenis makanan yang mungkin mempengaruhi hasilnya.

Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan Su Su Maw, Ph.D. dari Sekolah Pascasarjana Ilmu Kesehatan di Universitas Okayama, Jepang ini, karena diet tradisional Jepang mengandung banyak sayuran dan sup, serta ukuran porsinya kecil, temuan itu mungkin tidak berlaku untuk negara lain.

"Lebih banyak perhatian harus diberikan pada porsi sehat dan komponen makanan, mendapatkan tidur yang cukup dan menghindari merokok, konsumsi alkohol, dan kelebihan berat badan, karena variabel-variabel ini memiliki pengaruh yang lebih mendalam pada proses metabolisme," tulisnya dalam rilis berita jurnal.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan
Editor : Fajar Sidik

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top