Film Aruna dan Lidahnya Tembus Festival Bergengsi, Bisa Jadi Lokomotif Subsektor Ekonomi Kreatif

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menilai bahwa terpilihnya film Aruna dan Lidahnya yang akan ditayangkan di Berlinale Culinary Cinema bisa menjadi multiplier effect bagi subsektor ekonomi kreatif lainnya.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 10 Februari 2019  |  17:22 WIB
Film Aruna dan Lidahnya Tembus Festival Bergengsi, Bisa Jadi Lokomotif Subsektor Ekonomi Kreatif
Konferensi Pers Film Aruna dan Lidahnya Menuju Berlinale Culinary Cinema 2019 di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Rabu (6/2/2019) - Bisnis/Eva Rianti

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menilai bahwa terpilihnya film Aruna dan Lidahnya yang akan ditayangkan di Berlinale Culinary Cinema bisa menjadi multiplier effect bagi subsektor ekonomi kreatif lainnya.

“Ada dua hal yang diupayakan Bekraf untuk mendukung film Indonesia di festival film ini [Berlinale Culinary Cinema], yaitu promosi dan investasi,” ujar Joshua Simandjuntak, Deputi Pemasaran Bekraf dalam konferensi pers ‘Film Aruna dan Lidahnya Menuju Berlinale Culinary Cinema 2019’ di Djakarta Theater, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Joshua menjelaskan, melalui film-film yang diputar di festival bergengsi, akan terbuka pintu bisnis sektor kuliner serta industri pariwisata secara umum.

Sebagai informasi, Berlinale Culinary Cinema merupakan salah satu program dalam Festival Film Internasional Berlin (Berlinale). Eksistensi festival ini sangat diakui oleh dunia karena termasuk tiga besar di dunia, selain Cannes Film Festival dan Bernie Film Festival.

Adapun, film Aruna dan Lidahnya bakal ditayangkan pada 11—12 Februari 2019. Pengunjung festival nantinya tak hanya menonton film tersebut, namun juga dapat mencicipi kuliner Indonesia yang terinterpretasi dari film. 

“Tema film ini [Aruna dan Lidahnya] kan universal, ada romance, agak kompleks, ditambah keunikan kuliner. Ada nilai tambah. Siapa tahu ada terbuka pintu-pintu lain lagi dari film ini dari konteks pariwisata, budaya, dan sebagainya. Semoga jadi lokomotif,” lanjutnya. 

Joshua menambahkan bahwa perfilman Indonesia memang tengah menggeliat beberapa tahun belakangan ini. Dia menilai film Indonesia berada dalam tren yang positif sehingga dukungan terhadap film Indonesia kian digenjot.

Tren positif terlihat dari jumlah penonton yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan informasi Berkaf, jumlah penonton film di bioskop terus meningkat. Pada 2016 mencapai angka 37 juta, sementara pada 2017 meningkat menjadi 42 juta. Adapun pada tahun lalu tembus angka 50 juta penonton.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top