Deteksi Dini Tuli Kongenital pada Anak

Sebanyak 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dan 34 juta di antaranya terjadi pada anak-anak. Itulah sebabnya penanganan terhadap gangguan telinga pada anak-anak harus dilakukan secara saksama dan tepat.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  12:48 WIB
Deteksi Dini Tuli Kongenital pada Anak
Ilustrasi - hrinc.com

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dan 34 juta di antaranya terjadi pada anak-anak. Itulah sebabnya penanganan terhadap gangguan telinga pada anak-anak harus dilakukan secara saksama dan tepat.

Untuk memahami gangguan pendengaran pada anak, kita harus memahami mengenai anatomi telinga terlebih dahulu. Adapun telinga terdiri dari telinga luar, telinga tengah, atau telinga dalam. Telinga manusia berhubungan langsung dengan hidung yang dihubungkan oleh tuba eustachius.

Secara umum terdapat 4 gangguan pendengaran pada anak yakni tuli kongenital, gangguan pendengaran akibat bising, otitis media akut, dan serumen prop.

Menurut dokter spesialis telinga, hidung, tenggorok, bedah kepala dan leher Hably Warganegara dari Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya Jakarta, tuli kongenital terjadi karena gangguan telinga sangat berat yang terjadi sejak lahir. Hal ini dapat terjadi karena faktor bawaan lahir, riwayat hamil, atau infeksi.

“Sebanyak 5.000 anak diperkirakan terlahir tuli di Indonesia, dampaknya juga sangat berat seperti gangguan kognitif, psikologi, gangguan proses bicara, dan lain-lain,” kata Hably.

Menurut dokter berkaca mata tersebut, risiko tuli kongenital dapat disebabkan oleh riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran, riwayat infeksi prenatal, kelainan anatomi telinga, prematur, obat ototoksik, meningitis, bayi NICU, dan lain-lain.

Bagaimana mendeteksi tuli kongenital pada bayi?

Cobalah untuk membuat anak kaget dengan memperdengarkan suara yang keras seperti suara klakson, suara menutup pintu, atau suara benda lainnya.

Biasanya bayi memiliki refleks moro (bayi kaget) yang ditandai dengan mengejapkan mata, mengerutkan wajah, berhenti menyusu, mengisap lebih cepat, bernapas lebih cepat, dan ritme jantung bertambah cepat ketika mendengar suara keras.

Sebaiknya penanganan dilakukan sedini mungkin agar anak tidak terlambat mendengar. Apabila terlambat mendengar, anak akan mengalami keterlambatan juga dalam menangkap stimulasi yang mendukung tumbuh kembangnya. Penanganannya adalah dengan memasang alat bantu dengar, implan koklea, terapi wicara, dan sekolah khusus.

Skrining bayi baru lahir juga dapat dilakukan dengan OAE, yakni alat yang ditempelkan ke telinga bayi yang baru lahir. Alat tersebut akan menunjukkan apakah telinga anak berfungsi dengan baik atau tidak. Intinya, jangan tunggu lama-lama untuk mendeteksi gangguan telinga pada anak.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, dokter

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top