Milenial Diajak Mengekspresikan Seni Lukis Lewat Re-mitologisasi Karya Basoeki Abdullah

Kaum milenial berusia 17-30 tahun yang gandrung seni diundang untuk unjuk gigi melalui karya-karya seni dalam kompetisi ini. Adapun kompetisi Basoeki Abdullah Art Award dibuka sejak 18 Februari 2019,
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 10 Maret 2019  |  06:39 WIB
Milenial Diajak Mengekspresikan Seni Lukis Lewat Re-mitologisasi Karya Basoeki Abdullah
Generasi milenial China. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Nama Basoeki Abdullah dikenal sebagai seorang perupa Indonesia yang jenius dalam karya-karyanya. Basoeki, dengan keberaniannya, melukiskan ekspresi yang sangat kuat dalam tema alam, lingkungan, dan mitologi.

Sejumlah lukisan seperti Djoko Tarub, Nyi Roro Kidul, Dewi Sri, dan dunia pewayangan adalah karya bertema mitologi Indonesia yang diekspresikan olehnya. Istimewanya, mitologi Indonesia seperti legenda, dongeng, hikayat merupakan bagian dalam kehidupan masyarakat yang masih relevan sampai masa kini. Walau Basoeki telah tiada, karyanya masih terus dikenang.

Alangkah lebih indahnya apabila generasi muda juga tidak melupakan mitologi milik bangsa. Hal ini menjadi penting karena mitologi Indonesia merupakan bagian kekayaan bangsa yang melekat dalam kehidupan masyarakat, yang harusnya dilestarikan sebagai bagian budaya.

Untuk itulah Museum Basoeki Abdullah yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud) menggelar Kompetisi Basoeki Abdullah Art Award #3. Kompetisi ini merupakan agenda tiga tahunan (triennial) yang digelar sejak 2013.

Kali ini, kaum milenial berusia 17-30 tahun yang gandrung seni diundang untuk unjuk gigi melalui karya-karya seni dalam kompetisi ini. Adapun kompetisi Basoeki Abdullah Art Award dibuka sejak 18 Februari 2019, dengan batas pengiriman karya pada 12 Juli 2019. Pada kompetisi ini, bukan saja karya lukisan yang akan dikompetisikan seperti yang sudah-sudah, tetapi juga karya video seni dan seni instalasi.

Temanya? Tak lain dan tak bukan yakni Re-mitologisasi. Peserta diharapkan dapat menciptakan karya yang terinspirasi dari karya-karya bertema mitologi seperti yang pernah dibuat Basoeki. Tidak harus mengikuti karya Basoeki sepenuhnya, peserta diharapkan mengekspresikan dirinya secara bebas untuk menghasilkan karya bertema mitologi yang disesuaikan dengan situasi zaman sekarang.

"Kita berharap akan hadir sosok jenius seperti Basoeki Abdullah dari generasi masa kini, yang akan berani mengeksplorasi karya seninya," kata direktur jenderal kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid. 

Dia mengatakan bahwa pemilihan tema Re-mitologisasi merupakan tema yang sangat tepat di era revolusi 4.0. Menurutnya, mitologi memiliki dimensi yang sifatnya spiritual yang perannya penting dalam dunia yang semakin modern.

Cerita mitologi Indonesia yang selama ini mulai memudar, harapannya dapat dibangkitkan kembali melalui kompetisi. Dia berharap dengan penafsiran baru dari para seniman muda, mitologi Indonesia dapat digambarkan secara lebih bebas tetapi relevan.

"Harapannya semangat lukisan mitologi yang diciptakan Basoeki Abdullah dibawa ke masa kini," kata salah satu juri yang adalah pengamat seni, Amir Sidharta. Dia mengatakan dalam kompetisi ini, semua peserta bisa bebas berkhayal dan berekspresi dalam karya seninya. Walau tema yang diangkat merujuk pada karya Basoeki, bukan berarti para seniman tidak berhak membuat karya versinya sendiri.

Juri lainnya, ketua Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno mengingatkan kembali bahwa Basoeki merupakan perupa yang memiliki karakter karya yang sangat khas. "Menafsirkan ketelanjangan adalah bagian kuat dari karya-karya Basoeki Abdullah," katanya. Kekuatan karakter yang bisa ditonjolkan Basoeki melalu tersebut harapannya dapat dimiliki oleh para peserta, tentu dengan kekhasannya masing-masing.

Dalam kompetisi ini, peserta dapat menghasilkan karya melalui tiga pendekatan sub-tema yakni re-mitologisasi kebangsaan, re-mitologisasi ketubuhan, dan re-mitologisasi lingkungan. Bagi seniman yang ingin mengeksplorasi tentang tradisionalisme, kebangsaan, spiritual, agama yang terkait dengan mitologi, dipersilakan mengambil tema remitologisasi kebangsaan.

Sementara bagi yang ini mengangkat peran atau persoalan tubuh manusia yang terkait dengan kecantikan, popularitas, problem sosial, rumah tangga, dan apapun yang berkaitan dengan mitos ketubuhan, silakan berkarya dalam tema re-mitologisasi ketubuhan.

Untuk re-mitologisasi lingkungan dikhususkan bagi peserta yang ingin mengungkap mitos tentang alam dan lingkungan, serta mengajak masyarakat untuk peduli pada alam semesta.

Irawan percaya bahwa anak-anak muda memiliki keistimewaan dalam berkarya dan hal tersebut perlu diwadahi melalui kompetisi. Dia berharap kekebasan ekpresi seni dalam kompetisi ini akan membangkitkan semangat berkesenian pada anak muda, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Kompetisi ini juga terbuka bagi warna negara asing (WNA) di kawasan Asia Tenggara.

"Seluruh karya pemenang akan dipamerkan di museum," kata kepala Museum Basoeki Abdullah, Maeva Salmah. Sebanyak 5 karya terbaik pilihan juri akan mendapat piagam penghargaan dan dana pembinaan total Rp125 juta. Pengiriman karya asli dikirimkan ke panitia BAAA#3 Museum Basoeki Abdullah di Jl Keuangan Raya No 19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Informasi kompetisi Basoeki Abdullah Art Award #3 dapat diakses di laman resmi Museum Basoeki Abdullah dan 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lukisan

Editor : Fajar Sidik
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top