Lebih Hemat Transaksi Tunai atau Nontunai ya?

Transaksi nontunai semakin menjadi tren di kalangan masyarakat. Namun, lebih hemat mana antara transaksi nontunai dengan transaksi tunai? simak ulasannya berikut ini.
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai - Bisnis.com 21 Maret 2019  |  13:42 WIB
Lebih Hemat Transaksi Tunai atau Nontunai ya?
lebih hemat tunai atau nontunai / Ilham Mogu

Bisnis.com, JAKARTA – Tren transaksi nontunai semakin menggema seiring munculnya berbagai uang elektronik seperti, Go-pay, OVO, Linkaja, sampai Dana. Nah, melihat disrupsi teknologi saat ini, kira-kira lebih hemat menggunakan transaksi nontunai atau tunai ya?

Dari kompilasi data Bank Indonesia menunjukkan perkembangan transaksi nontunai sangat pesat. Pada 2013, volume transaksi nontunai hanya sebesar 39,44% dari total transaksi, sedangkan transaksi tunai masih mendominasi 60,56%. Namun, pada 2018 transaksi nontunai sudah mendominasi 60,6%, sedangkan transaksi tunai 39,93%.

Ada sejumlah alasan masyarakat Indonesia bermigrasi cukup cepat menuju cashless society dalam beberapa tahun terakhir.

Pertama, sejumlah pemain uang elektronik kompak memberikan promo menarik kepada pengguna. Sayangnya, promo-promo itu membuat konsumen lebih konsumtif karena tergoda dengan harga yang murah.

Kedua, transaksi uang elektronik memberikan kemudahan dalam bertransaksi. Misalnya, ingin beli sesuatu tinggal tap atau sekali klik saja. Waktu dan biaya untuk transaksi secara tunai pun bisa terpangkas.

Ketiga, cashless society diharapkan bisa menekan angka kriminal fisik karena masyarakat tidak membawa uang banyak lagi. Namun, masyarakat tetap terancam dari kejahatan cyber.

Selain tiga hal itu, dari sisi kebijakan pun mendorong masyarakat mau tidak mau menggunakan uang elektronik. Misalnya, untuk transaksi transportasi seperti, Transjakarta, Commuterline, dan bayar tol.

Namun, keberadaan transaksi nontunai masih menjadi hal tabu untuk sebagian golongan dan wilayah. Misalnya, golongan generasi tua menilai transaksi lewat nontunai sangat ribet sehingga lebih memilih transaksi di agen PPOB atau sebagainya lewat tunai.

Selain itu, daerah yang masih belum terjangkau internet juga belum melakukan transaksi nontunai secara masif.

Padahal, ada beberapa kelebihan transaksi nontunai seperti, uang receh dari kembalian tidak akan tercecer atau ditukar dengan permen. Selain itu, transaksi nontunai juga menghindari alasan tidak ada uang kembalian yang membuat konsumen memberikan tips dengan terpaksa.

Kekurangan Uang Elektronik, Keunggulan Tunai

 

Terlepas dari segudang keunggulan yang ditawarkannya, transaksi nontunai masih menyisakan lubang. Misalnya, pengguna hanya bisa melakukan transaksi dengan pedagang atau merchant yang telah terdaftar sebagai mitra penyedia uang elektronik.

Meskipun begitu, khusus kartu debit sudah ada gerbang pembayaran nasional (GPN) yakni, semua transaksi kartu debit berbagai bank bisa dengan satu electronic data capture (EDC).

Lalu, transaksi nontunai juga memiliki kekurangan lainnya yakni, ketika ponsel pintar kehabisan baterai berarti tidak bisa melakukan transaksi apapun.

Kemudian, jika transaksi nontunai mengandalkan uang elektronik, nilai uang yang bisa ditransaksikan cenderung terbatas. Untuk uang elektronik tidak terdaftar maksimal Rp1 juta, sedangkan uang elektronik terdaftar maksimal Rp10 juta.

Di sisi lain, transaksi tunai tidak selamanya penuh kekurangan di tengah disrupsi digital saat ini.

Secara psikologis, konsumen lebih bisa mengatur pengeluaran dengan transaksi tunai dibandingkan dengan nontunai. Walaupun begitu, layanan transaksi nontunai juga sudah merilis fitur pengelolaan keuangan.

Lalu, transaksi tunai tidak membutuhkan infrastruktur dan pihak ketiga. Dengan begitu privasi konsumen tetap terjaga.

Nah, kalau kamu lebih suka menggunakan transaksi tunai atau nontunai?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
uang elektronik, Transaksi Nontunai

Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top