Pocong the Origin akan Gentayangan 18 April 2019

Pocong the Origin menambah deretan film horror yang rilis tahun ini, kisahurban legend ini mendapatkan kesempatan untuk lahir kembali di bawah naungan produksi Starvision mulai 18 April 2019 di bioskop-bioskop Indonesia.
Akbar Evandio | 12 April 2019 03:52 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pocong the Origin menambah deretan film horror yang rilis tahun ini, kisahurban legend ini mendapatkan kesempatan untuk lahir kembali di bawah naungan produksi Starvision mulai 18 April 2019 di bioskop-bioskop Indonesia.

Mengisahkan Ananta, seorang pembunuh berdarah dingin yang telah dieksekusi mati oleh Negara. Sasthi, putri tunggal Ananta yang ditinggal pergi oleh Ayahnya sejak kecil menerima wahyu untuk mengantar jenazah Ananta agar dikuburkan di tempat kelahirannya, Cimacan, desa di kecamatan Cipanas, Jawa Barat.

Yama, seorang sipir penjara, menemani Sasthi mengantarkan Ananta ke tanah kelahirannya mengendarai ambulance. Mereka berpacu dengan waktu karena apabila melewati 24 jam jenazah belum dikebumikan. Maka, iblis Banaspati yang merasuki Ananta akan semakin kuat dan membuat Jenazah hidup kembali dengan bertepatan peristiwa gerhana bulan merah (blood moon) yang membuat kekuatan makhluk tersebut bergejolak.

Perjalanan menuju kampung halaman Ananta mengalami banyak gangguan ghaib dibuat semakin pelik dengan kehadiran Jayathi, wartawati yang memburu berita tentang eksekusi Ananta dan mengenai ilmu hitam Banaspati karena sebelumnya keluarga sahabatnya merupakan korban pembunuhan Ananta.

Film ini menyajikan horror yang konsisten sepanjang film dengan menyuguhkan drama seorang anak perempuan yang ingin ayahnya mendapatkan pemakaman yang layak. Hubungan yang ditampilkan sepanjang film mengikat kuat simpati penonton untuk terlibat dengan perjalanan mereka.

Bagi Starvision, film ini adalah genre horor kedua yang dikerjakan bersama Monty Tiwa setelah sebelumnya dengan Keramat (2009). Pocong the Origin, hadir dengan sedikit motifikasi agar lebih relevan dengan kondisi sekarang.

Monty Tiwa menjelaskan film tersebut merupakan hutang kreatif yang belum terbayarkan pada tahun 2005, embrio dari Pocong the Origin dilarang beredar oleh lembaga sensor film (LSF) karena menurut LSF masyarakat belum siap dengan konten yang dihadirkan difilm Pocong dan keputusan itu disepakati oleh Monty dan LSF.

“Setelah dilarang oleh LSF, [kami] langsung memproduksi film Pocong 2. Saat itu [Pocong 2] menjadi sejarah film nasional karena satu satunya film sekuel yang tidak ada prekuelnya dan [Pocong the Origin] adalah film pertama yang 13 tahun kemudian dapat tayang setelah film keduanya [tayang lebih dulu].” Tutur Monty, Kamis (10/4/2019).

Monty menganggap bahwa setiap scenario film merupakan anak yang layak untuk berkembang dan keluar ke masyarakat luas dan dapat dinikmati. Dia mengatakan bahwa film tersebut diharapkan dapat merubah stereotip masyarakat akan pocong yang menakuti dengan cara melompat-lompat menjadi cerita urband legend pocong sesuai dengan kodratnya.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup