Angkat Isu Kekerasan Seksual, Film 27 Steps of May Tayang di Bioskop 27 April

Setelah diputar di beberapa negara, film 27 Steps of May akhirnya bakal tayang di Indonesia pada 27 April 2019 mendatang.
Eva Rianti | 23 April 2019 21:39 WIB
Para Kru Film 27 Steps of May berfoto bersama - Bisnis/Eva Rianti

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah diputar di beberapa negara, film 27 Steps of May akhirnya bakal tayang di Indonesia pada 27 April 2019.

Film besutan Ravi Bharwani tersebut mengangkat tema yang cukup sensitif, yakni isu trauma pascakekerasan seksual yang dialami perempuan. 

Ravi Bharwani mengungkapkan bahwa tema film tersebut berawal dari sebuah obsesi mengenai tema terisolasinya perempuan akibat kekerasan seksual. Tema tersebut kemudian dikaitkan dengan kekerasan pada Mei 1998.

“Kami mencari sebuah cerita yang cocok dan bisa mengakomodir kedua hal tersebut [terisolasinya perempuan akibat kekerasan seksual dan kejadian Mei 1998,” ujarnya kepada Bisnis ketika ditemui di sela konferensi pers di Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Kendati mengangkat tema yang universal, Ravi menceritakan bahwa film yang digarap sekitar lima tahun tersebut mengangkat nilai-nilai sosial yang bersifat personal.

“Ini sebenarnya film personal yang dialami oleh tokoh May, dan juga melibatkan bapaknya. Jadi, lebih experience personal, lalu diterjemahkan dalam sebuah cerita,” lanjutnya.

Senada, penulis skenario Film 27 Steps of May, Rayya Makarim menuturkan bahwa film berdurasi 112 menit tersebut dibuat dengan pendekatan sangat personal.

“Ide ceritanya menjadi personal story. Bahwa film ini alegori dari apa yang terjadi pada Mei 1998, tapi fokusnya ada pada satu keluarga. Subjeknya menjadi sensitif dan tidak hanya di permukaan,” kata Rayya.

Sebagai gambaran, film tersebut berawal dari adegan May (Raihanuun) yang berusia 14 tahun diperkosa sekelompok orang tak dikenal. Akibat trauma yang mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan, dan menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, dan kata-kata.

Peristiwa tersebut selain berdampak pada diri May, juga dialami bapaknya (Lukman Sardi). Bapak May sangat terpukul dan menyalahkan dirinya karena tidak mampu menjaga sang buah hati. Untuk menyalurkan emosinya, Bapak May kerapkali bertinju. Trauma yang mereka alami berlangsung selama delapan tahun.  

Sebelumnya, film yang diproduksi Green Glow Pictures ini pertama kali diputar di Busan International Film Festival pada Oktober 2018, Cape Town International Film Market & Festival, Goteborg Film Festival, dan Bengaluru International Film Festival.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia, pemerkosaan, kerusuhan mei 1998

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup