Mengenal Viscose, Bahan untuk Mode Berkonsep Ramah Lingkungan

Industri fesyen dikenal sebagai industri yang menghasilkan banyak limbah. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahan material yang tidak ramah lingkungan. Belakangan ini muncul klaim bahwa bahan material bernama viscose merupakan bahan yang berkonsep sustainable fashion.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  13:02 WIB
Mengenal Viscose, Bahan untuk Mode Berkonsep Ramah Lingkungan
Viscose - repro

Bisnis.com, JAKARTA – Industri fesyen dikenal sebagai industri yang menghasilkan banyak limbah. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan bahan material yang tidak ramah lingkungan.

Baru-baru ini, industri fesyen dikenalkan dengan bahan material yang dikenal lebih ramah terhadap lingkungan, yakni viscose di perhelatan Muslim Fashion Festival (Muffest) 2019 yang diselenggarakan oleh Indonesia Fashion Chamber (IFC).

Desainer sekaligus National Chairman IFC Ali Charisa mengungkapkan bahwa viscose belum sepopuler bahan lainnya seperti katun, linen, dan polyester. Namun, bahan ini merupakan material mode yang memiliki banyak kelebihan.

“Viscose lebih sejuk, nyaman, dan mudah menyerap warna dibandingkan dengan bahan biasa. Di Muffest ini kami campurkan viscose dengan bahan lainnya, seperti katun, linen, dan polyester untuk meraih desain yang diinginkan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, viscose dinilai sebagai bahan yang mendukung konsep fesyen berkelanjutan yang yang jamak dikenal dengan sustainable fashion. Saat ini, para desainer dan pasar sudah mulai mengenal bahan tersebut dan kerap mencari-carinya.

Dalam ajang Muffest 2019, Ali bersama dengan tujuh desainer lainnya menampilkan karya desain yang sejalan dengan trend forcesting 2019/2020 bertema Singularity.

“Semuanya mengikuti trend forcesting 2019/2020 dengan tujuan viscose ini bisa dipakai di semua lini fesyen dan tetap mengikuti perkembangan tren,” lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, IFC berkolaborasi dengan Asia Pacific Rayon (APR) dalam menyediakan bahan viscose. ARP merupakan produsen viscose-rayon terintegrasi pertama di Asia untuk pertama kalinya turut berpartisipasi aktif dalam perhelatan Muffest 2019.  

Direktur APR Basrie Kamba menuturkan bahwa viscose atau lebih populer dikenal sebagai pengembangan dari rayon adalah jenis kain yang terbuat dari bahan selulosa pulp (pemisahan serat) kayu. 

Saat ini, bahan tersebut dinilai diminati oleh pasar, serta memiliki prospek positif ke depan. “Viscose merupakan salah satu serat ramah lingkungan dan berkonsep sustainable fashion. Serat ini brasal dari perkebunan pohon akasia yang bersertifikat dan dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.

Selain menggunakan bahan baku terbarukan, viscose juga mudah diurai dibandingkan bahan baku mode lainnya. Setidaknya serat viscose dapat terurai dalam waktu kurang dari dua tahun.

Basrie menambahkan, Indonesia dengan total populasi 270 juta orang dan mayoritas adalah muslim memiliki potensi pertumbuhan untuk mengembangkan pasar fesyen muslim di dalam dan luar negeri.

Pertumbuhan busana muslim sejalan dengan peningkatan permintaan global akan viscose-rayon yang diperkirakan akan meningkat menjadi 8 juta ton pada 2020 dari permintaan saat ini sekitar 5,7 juta ton. Menurutnya, data ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi produsen bahan serat dan industri mode muslim Indonesia.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fashion

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top