Garda Pangan Berburu Makanan Sisa Layak Konsumsi

Bermula dari keprihatinan terhadap isu food waste, mereka bergerak bersama untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi persoalan pelik yang berkaitan dengan kesejahteraan manusia itu.
Tika Anggreni Purba | 11 Mei 2019 13:18 WIB
Kegiatan Garda Pangan dalam mengumpulkan makanan layak untuk didistribusikan kepada masyarakat prasejahtera.

Bisnis.com, JAKARTA— Berdiri di Surabaya, Eva Bachtiar, Dedhy Trunoyudho, dan  Indah Audivtia bersatu hati membangun food bank.

Bermula dari keprihatinan terhadap isu food waste, mereka bergerak bersama untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi persoalan pelik yang berkaitan dengan kesejahteraan manusia itu.

“Kita melihat di Surabaya belum ada food bank saat industri hospitality makin berkembang, namun di sisi lain kemiskinan urban juga besar,” ujar CEO Garda Pangan Eva Bachtiar. Inilah keprihatian awal yang memulai terbentuknya Garda Pangan.

Karena gerakan food bank pada umumnya memiliki cara dan fokus masing-masing, Garda Pangan memilih untuk menjadi penggugah kesadaran masyarakat mengenai isu food waste, sekaligus juga membuka jalan agar food waste tidak menjadi ancaman.

Bisnis restoran, hotel, katering, atau sejenisnya pada umumnya memiliki standar penyajian kualitas dalam bisnisnya.

Ini yang membuat industri ini cenderung memiliki makanan berlebih baik yang telah diolah maupun yang belum diolah.

Apabila makanan berlebih itu tidak dimanfaatkan, sering kali itu akan berakhir menjadi food waste.

Garda pangan mengambil kesempatan itu untuk mengumpulkan makanan berlebih tetapi masih layak dikonsumsi. 

“Garda Pangan bermitra dengan bisnis makanan, kami mengumpulkan makanan berlebih yang tidak layak jual untuk disalurkan kembali ke masyarakat pra sejahtera,” ujar Eva.

Garda pangan melakukan penyortiran terlebih dahulu dari makanan-makanan yang terkumpul tersebut. Hal ini penting untuk memastikan keamanan dan kelayakan makanan untuk dikonsumsi.

Menurutnya pelaku bisnis makanan juga sebetulnya ingin meminimalisasi food waste, tetapi masih belum menemukan sistem yang tepat selain dari mendonasikannya.

“Sudah ada mitra yang rutin kita lakukan penjemputan seperti toko roti, namun ada juga yang sifatnya tidak rutin seperti dari katering,” ujarnya lagi. Sejauh ini Garda Pangan telah melayani sebanyak 110 lokasi tempat tinggal masyarakat pra sejahtera di Surayaba.

“Sejauh ini sudah ada beberapa pelaku bisnis makanan yang mau mendonasikan makanan berlebih yang mereka miliki,” kata Eva lagi. Namun, dalam hal ini Eva menegaskan bahwa pada umumnya pelaku bisnis makanan lebih mempercayakan donasi makanan berlebih itu kepada food bank yang terpercaya.

Garda Pangan juga konsisten dalam memberikan tips praktis kepada masyarakat agar tidak membuang makanan, misalnya pengaturan bahan makanan di kulkas agar tidak cepat busuk, perencanaan belanja, dan pengolahan kembali makanan yang berlebih.

Dia menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering membuang makanan juga perlu diperbaiki. Masih banyak orang yang belanja bahan makanan tetapi tanpa perencanaan sehingga bahan makanan itu membusuk atau pada akhirnya harus dibuang.

Termasuk juga kebiasaan memesan makanan terlalu banyak di restoran, sering kali dibuang begitu saja.

“Padahal kan proses sebuah makanan menjadi layak konsumsi itu membutuhkan proses yang panjang, ada jerih payah dan perjuangan di situ,” katanya. Jadi, hal paling sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menghargai proses pengolahan makanan itu dengan menghabiskannya.

Sayangnya kehadiran food bank di Indonesia belum begitu dilirik oleh masyarakat maupun pemerintah. Padahal kehadiran food bank menjadi sarana yang maksimal untuk memerangi kelaparan pada masyarakat yang membutuhkan makanan.

Garda Pangan tidak berhenti melakukan advokasi kepada pemerintah agar lebih memberi perhatian terhadap isu food waste. Menurutnya kebijakan pemerintah di luar negeri lebih mumpuni menangani soal food waste.

“Di Perancis misalnya, mereka memiliki peraturan yang melarang semua industri makanan dan supermarket membuang makanan, jadi makanan itu harus didonasikan,” katanya lagi.

Indonesia belum memiliki peraturan spesifik seperti ini sehingga food waste masih menjadi persoalan.

Padahal kalau ada peraturan pemerintah yang mendorong pelaku industri makanan, ritel, dan lain-lain itu agar tidak membuang makanan, mereka secara otomatis akan mencari cara untuk mengelola sisa makanan tersebut, salah satunya lewat food bank.

“Memang jalannya tidak mudah, tetapi harapannya memang pemerintah memiliki peraturan yang kondusif mengenai food waste ini,” ujarnya.

Garda Pangan telah melebarkan sayap untuk bermitra dengan banyak pihak saat ini. Bahkan gerakan yang tadi berawal dari komunitas ini telah berkekspansi menjadi perusahaan berbasis social entreprise.

“Kami juga mengembangkan sumber pendanaan mandiri sehingga tidak bergantung pada donasi saja, supaya kita bisa bertahan terus,”katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
inspirasi, pangan

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup