Menghentikan Candu Rokok

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah perokok (di atas 15 tahun) mencapai 33,8 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Artinya, sekitar 90 juta orang Indonesia masih mengisap rokok. Padahal dalam data Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016, jumlah perokok masih dalam angka 32,8 persen.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 29 Juni 2019  |  03:30 WIB
Menghentikan Candu Rokok
Ilustrasi - Imt.ie

Bisnis.com, JAKARTA – Meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat nyatanya belum berlaku pada para perokok. Jumlah perokok di Tanah Air selalu naik bertambah dari tahun ke tahun.

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah perokok (di atas 15 tahun) mencapai 33,8 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Artinya, sekitar 90 juta orang Indonesia masih mengisap rokok. Padahal dalam data Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016, jumlah perokok masih dalam angka 32,8 persen.

Selain pada orang dewasa, terdapat peningkatan jumlah perokok pada generasi muda. Masih dari laporan Riskesdas 2018, jumlah perokok usia muda yakni 10—18 tahun mencapai 9,1 persen. Angka yang seharusnya masih menunjukkan angka 0 persen karena anak dan remaja tak sepantasnya merokok.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dokter spesialis paru konsultan Agus Dwi Susanto mengatakan bahwa jumlah perokok yang terus meningkat karena perusahaan rokok masih secara masif mengiklankan produknya.

Walaupun sebagian besar kemasan rokok telah dilengkapi dengan gambar-gambar mengenaskan, toh perokok masih tak peduli. Untuk perokok lama mungkin mulai kapok, tetapi perokok pemula biasanya tidak menggubris iklan layanan masyarakat tentang bahaya rokok.

Dia juga menilai bahwa adiksi rokok yang terjadi pada anak dan remaja juga disebabkan oleh pemikiran bahwa rokok akan membuat mereka tampil lebih gagah, tangguh, dan keren. Karena mengutamakan ‘efek keren’ itu, mereka mengabaikan efek samping berbahaya dari rokok.

Dari anak-anak hingga lansia, tampaknya semua mafhum soal bahaya merokok. Kendati demikian perokok merasa sulit untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Hal ini terkait dengan kesadaran secara personal untuk berhenti merokok cenderung kecil. Belum lagi jika ternyata seseorang sudah mengalami candu, akan sangat sulit untuk berhenti merokok.

Faktor lain yang membuat banyak orang sulit untuk berhenti merokok adalah karena dampaknya tidak langsung terasa. Racun dari rokok tidak langsung menimbulkan masalah pembuluh darah, paru-paru, saluran cerna, gigi, mulut, dan lain-lain. Sementara itu, dampak ‘enak’ nya langsung terasa seperti nikotin yang merangsang otak untuk mengeluarkan hormon dopamin yang memberikan rasa nyaman dan rileks.

Agus mengatakan bahwa untuk menghentikan kebiasaan merokok memang tergantung pada motivasi diri. “Data dari RSUP Persahabatan Jakarta menunjukkan bahwa orang yang memiliki motivasi rendah dalam berhenti merokok, tingkat keberhasilannya hanya sekitar 30 persen,” ungkapnya.

Sebaliknya menurut dia, apabila motivasi untuk berhenti merokok tinggi maka tingkat keberhasilannya pun mencapai 70 persen.

KONSELING

Seseorang yang membutuhkan bantuan untuk berhenti merokok sebenarnya dapat memanfaatkan layanan berhenti merokok di tingkat primer seperti Puskesmas maupun klinik, di tingkat sekunder di rumah sakit, dan layanan Quit Line melalui telepon.

“Akan ada pendekatan konseling seperti 4T yakni tanyakan, telaah, tolong dan nasihati, dan tindak lanjut,” kata Agus. Program berhenti merokok yang dibantu oleh Puskesmas maupun rumah sakit pada umumnya berjalan selama 3 bulan.

“Kendala untuk berhenti merokok memang cukup beragam mulai dari motivasi, adiksi, putus nikotin, perilaku, dan dan lingkungan. Layanan tingkat sekunder akan membantu mengendalikan aspek tersebut,” kata Agus lagi. Selain melalui layanan tingkat primer dan sekunder, Kementerian Kesehatan juga sudah menyediakan layanan upaya berhenti merokok Quit Line melalui telepon 0800-177-6565.

Sebenarnya, jika dibekali dengan niat yang kuat, berhenti merokok juga dapat dilakukan tanpa bantuan medis.

Dokter spesialis paru Feni Fitriani Taufik, Ketua Pokja Masalah Rokok PDPI, mengatakan bahwa berhenti merokok juga dapat dilakukan oleh perokok itu sendiri.

Perokok dapat melakukannya dengan benar-benar berhenti langsung dari rokok alias setop merokok. Dalam proses putus langsung dari nikotin ini harus dibarengi dengan menjauhi faktor yang dapat menyebabkan kebiasaan merokok kembali lagi. “Jika perlu menjauhi lingkungan perokok dan mencari kegiatan positif untuk mengalihkan keinginan merokok,” ujarnya.

Berhenti merokok juga dapat dilakukan secara bertahap yakni mengurangi jumlah rokok yang harus dikonsumsi setiap hari. “Kalau biasanya merokok 20 batang per hari, kurangi 3 batang sehingga 17 batang per hari, lalu hari kedua dikurangi lagi 3 batang, hingga menjadi 0,” tambah Feni.

Upaya berhenti mengisap rokok juga dapat dilakukan dengan menunda jam merokok, misalnya terbiasa merokok pada pukul 07.00 wib, coba untuk menunda merokok beberapa jam menjadi pukul 09.00 wib. Kemudian, pada hari berikutnya penundaan dapat dilakukan lebih lama hingga berhenti merokok.

Dalam upaya berhenti merokok, beberapa orang mengalami gejala putus nikotin (withdrawal) seperti merasa cemas, tidak enak, stres, mudah marah, depresi, dan lain-lain. “Tidak semua orang sama. Misalnya pada social smoker [mereka yang merokok saat berada di lingkungan sosial], gejala putus nikotin mungkin ringan bahkan tidak dirasakan atau disadari,” kata Agus.

Agus mengatakan bahwa hal ini tergantung pada seberapa kuat adiksi seseorang terhadap rokok. Perokok dengan tingkat adiksi yang kuat bisa saja mengalami withdrawal yang cukup berat. Apabila gejalanya berlanjut dan sulit dikendalikan, alangkah baiknya berkonsultasi dengan dokter.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, perokok

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top