Bagaimana Bicara Uang dengan Anak

Orang tua perlu mengajarkan konsep pengelolaan keuangan pada anak. Selain untuk mendidik dan mengajarkan life skill yang berguna kelak, berbicara uang pada anak juga akan membantu keluarga meraih tujuan finansial.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 30 Juni 2019  |  10:07 WIB
Bagaimana Bicara Uang dengan Anak
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA - Pengelolaan keuangan dalam keluarga pada awalnya dimulai dengan keterlibatan pasangan suami dan istri, bahkan sejak sebelum pernikahan dilangsungkan. Ketika suami istri dikaruniai anak, maka kebutuhan dan tujuan finansial pun berkembang.

Orang tua pun perlu mengajarkan konsep pengelolaan keuangan pada anak. Selain untuk mendidik dan mengajarkan life skill yang berguna kelak, berbicara uang pada anak juga akan membantu keluarga meraih tujuan finansial. 

Psikolog klinis spesialisasi keluarga dari Binus University Pingkan Cinthya Rumondor menjelaskan, ada dua sikap dasar pengelolaan keuangan yang perlu ditumbuhkan pada anak sejak kecil.

Pertama, sikap menunda keinginan. Anak harus dikenalkan pada konsep bahwa tidak setiap keinginan langsung dapat terpenuhi. Ada jalan untuk mencapai keinginan tersebut sehingga harus ditunda.

Kedua, sikap dan keterampilan perencanaan. Contoh konkret yang paling sederhana, anak harus mengetahui apa yang hendak dibeli sebelum pergi ke warung atau super market.

Pingkan mengatakan, untuk mengajarkan dan menanamkan dua sikap dasar tersebut, orang tua harus mengikuti tahapan pertumbuhan psikososial anak.

"Mulai usia 2 tahun mereka sudah mengenal bahasa dan simbol-simbol, juga mengenal konsep, walaupun belum tahu uang itu darimana. Mulai umsia itu sudah mulai bisa diajarkan," kata Pingkan.

Kemudian, usia 3 hingga 5 tahun, anak sudah mulai mandiri dan bisa bermain peran. Oleh karena itu, konsep nilai uang dapat diajarkan dengan bermain peran. Selain itu, saat mengajak anak berbelanja, jangan lupa untuk bersepakat sebelumnya tentang apa saja kebutuhan yang hendak dibeli di super market. Di rentang usia ini anak juga sudah mulai bisa diajarkan konsep bekerja dan menghasilkan uang.

"Jelaskan uang ini bukan datang dari ATM, tetapi untuk mendapatkan jumlah tertentu datang dari kerja orang tuanya," ujarnya.

Selanjutnya, usia 6 hingga 9 tahun anak sudah bisa diajarkan menabung, baik dengan membuka rekening maupun menggunakan celengan. Pada aktivitas berbelanja bersama, orang tua juga bisa bersepakat tentang rentang harga mainan atau barang tertentu yang boleh dibeli anak. Jika barang yang dinginkan anak melebih anggarakan yang ditentukan, maka ajak anak untuk menabung. Dengan demikian, anak akan mengerti sikap menunda keinginan.  

Menginjak usia 10 hingga 12 tahun, anak sudah bisa diajak untuk menentukan tujuan keuangan jangka pendek. Selain itu, pada usia ini anak sudah bisa berpikir logis, sehingga dapat diajarkan nilai uang dan nilai barang. Misalnya, ada barang yang bisa didapat dengan harga lebih murah dan sebaliknya.

Usia remaja, 13 hingga 15 tahun orang tua bisa mengajak buah hati berdiskusi tentang finansial keluarga. Ajarkan perbedaan konsep cash, kartu kredit, kartu debit di usia ini.

Saat anak sudah duduk di bangku SMA, ajak berdiskusi tentang anggaran pendidikannya di masa depan.

"Coba ajak anak berpikir mengenai kuliahnya, ayah ibu punya budjet berapa, dia bisa ikut berpikir dan mungkin ikut juga mencari tambahan uang," katanya.

Hal yang perlu digarisbawahi dalam setiap tahapan tersebut adalah keterlibatan anak dalam aktivitas perencanaan keuangan keluarga. Pastikan ada kehadiran anak dalam kegiatan perencanaan, misalnya saat merancang budjet liburan, atau saat hendak berbelanja kebutuhan sekolah. 

Psikolog anak Samantha Ananta menambahkan, di usia dimana anak sudah mengenal konsep nilai uang dan perencanaan, sebaiknya diajari pula bagaimana penggunaan yang tepat. Orangtua dapat mengajarkan pada anak pembagian pengeluaran, misalnya 2,5 persen disumbangkan, 25 persen ditabung, lalu sisanya dapat dibelanjakan barang yang ingin dibeli anak.

Selain itu, saat membelanjakan uang, anak pun perlu untuk diajarkan nilai dari uang tersebut. Misalnya jika dia berbelanja Rp10.000 dengan Rp100.000, apa perbedaannya yang dapat diperoleh. Apakah jika beli permen mendapatkan jumlah yang sama? Atau jika membeli mainan, jenis mainan apa yang dia peroleh.

"Sehingga anak memahami konsep uang sebagai nilai alat tukar dan paham akan nilai atau value dari jumlah uang itu sendiri," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
parenting

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top