‘The Lion King’: Perlukah Dibuat Versi ‘Live-Action’?

Membuat cerita ikonik ‘The Lion King’ sebagai film ‘live-action’ mungkin menjadi tantangan besar bagi Disney.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  13:17 WIB
‘The Lion King’: Perlukah Dibuat Versi ‘Live-Action’?
Film 'The Lion King' - www.disney.id

Bisnis.com, JAKARTA - Membuat cerita ikonik ‘The Lion King’ sebagai film ‘live-action’ mungkin menjadi tantangan besar bagi Disney.

Tidak seperti film-film terdahulunya yang melibatkan manusia dan karakter fantasi, Disney seakan ‘berjudi’ dengan merilis film 'fabel' cerita dari si raja singa bernama Simba ke dalam versi nyata. 

Film ini dibuka dengan lagu ikonik ‘Circle of Life’ menampilkan suasana negeri ilustrasi Pride Lands yang banyak dipercayai sebagai savana di Benua Afrika, yang dipimpin oleh Mufasa, yang baru saja mendapatkan anak pertamanya Simba. 

Bagi beberapa orang, film ini termasuk karya nostalgia dari film terdahulunya pada tahun 1994. ‘The Lion King’ memang tetap sebuah cerita yang sarat pesan dan makna tentang keluarga, persahabatan dan jiwa kepemimpinan.

Aktor Billy Eichner berpose saat premiere "The Lion King" di Los Angeles, California, AS, 9 Juli 2019./Reuters

Terlepas dari itu, bagi awam, melihat ‘The Lion King’ di film ‘live-action’ seakan tak berbeda dengan menonton sebuah tayangan program televisi yang menampilkan kehidupan fauna dan flora. 

Banyak sekali adegan yang sebenarnya tidak perlu ditampilkan dalam, sehingga membuat penontonnya terkadang bosan. Namun, bagi pencinta film ‘The Lion King’ sejak dahulu, film ini mungkin menjadi titik keberhasilan Disney membawa karakter Simba, Nala dan teman-teman faunanya menjadi wujud nyata sebuah ekosistem hutan. 

Beberapa kritikus luar negeri juga setuju kalau sebenarnya tidak ada kejutan yang membuat penonton tersentak selama durasi dua jam menonton film ini. 

Dikutip dari rottentomatoes.com, Gene Siskel dari ‘Chicago Tribune’ menyebut film ini terlalu sempurna saat di buatkan cerita fabel kartun anak-anak jaman dahulu. 

"Disney membuat standard terlalu tinggi untuk film-filmnya dan animasi membuatnya sangat klasik sehingga sepanjang cerita Anda akan merasakan ada yang hilang," ujarnya. 

"Kalau kata Joseph Campbell (profesor Amerika), film ini terlalu basic untuk menjadi buruk," ujar Ty Burr dari Boston Globe. 

Pangeran Harry dan Meghan Markle bertemu para pemain dan kru, termasuk penyanyi dan penulis lagu AS Beyonce dan suaminya, rapper AS Jay-Z, ketika menghadiri pemutaran perdana film The Lion King di London, Inggris, 14 Juli 2019./Reuters

Beruntungnya, Jon Favreau tidak serta merta memangkas habis aksi komedikal di film ini. ‘The Lion King’ live-action masih tetap saja lucu, meski kenikmatannya baru bisa dirasakan di tengah cerita. 

Satu lagi, bukan ‘The Lion King’ namanya kalau lagu-lagunya tidak sebaik pada tahun 1994, dkala itu film ini meraih Piala Oscar untuk soundtrack lagu terbaik.

Mungkin salah satu penyelamat dalam film ini adalah Beyonce Knowles, diva musik legendaris yang didapuk menjadi pengisi suara Nala dan menyanyikan lagu ‘Can You Feel The Love Tonight’, dan  ‘Spirit’.

Disuarakan oleh Donald Glover, James Earl Jones, Billy Eichner hingga Beyonce Knowles, film ini sudah dapat dinikmati di bioskop mulai Rabu (17/7/2019). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, disney, film hollywood

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top